STKIP PGRI Pacitan Lepas 455 Sarjana, Dorongan Transformasi Menjadi Universitas Menguat
PRABANGKARANEWS.COM, Pacitan — Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Pacitan kembali menunjukkan kiprahnya dalam pengembangan kompetensi tenaga pendidik. Kepercayaan dari pemerintah pusat tersebut salah satunya diwujudkan melalui pelaksanaan program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) Peningkatan Kompetensi Akademis (PKA) bagi guru Pendidikan Dasar (Dikdas).
Program tersebut turut mewarnai Wisuda Sarjana ke-27 STKIP PGRI Pacitan yang berlangsung secara hibrida, Rabu (16/9/2026). Sebanyak 455 sarjana resmi menyelesaikan pendidikan dan mengikuti prosesi wisuda, baik secara luring maupun daring.
Ketua STKIP PGRI Pacitan, Bakti Sutopo, mengatakan wisuda kali ini memiliki makna tersendiri karena di dalamnya terdapat mahasiswa RPL sebagai bagian dari program peningkatan kompetensi akademik guru.
“Peserta luring adalah mahasiswa reguler kami, sedangkan yang mengikuti secara daring merupakan mahasiswa RPL. Sebagian besar berasal dari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam sebanyak 66 orang, kemudian satu dari Ngawi dan satu dari Pasuruan,” jelas Bakti di sela prosesi wisuda.
Ia menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan pemerintah kepada STKIP PGRI Pacitan untuk turut mengelola program peningkatan kompetensi akademik tersebut.
315 Lulusan Raih Cumlaude
Dari total 455 lulusan, sebanyak 315 mahasiswa berhasil meraih predikat Cumlaude. Para lulusan tersebut berasal dari tujuh program studi, yakni PGSD sebanyak 260 mahasiswa yang terdiri atas 192 mahasiswa reguler dan 68 mahasiswa RPL; PJKR 66 mahasiswa; PBSI 36 mahasiswa; Pendidikan Informatika 27 mahasiswa; Pendidikan Matematika 25 mahasiswa; Pendidikan Bahasa Inggris 25 mahasiswa; serta Pendidikan Sejarah 16 mahasiswa.
Prosesi wisuda juga dirangkaikan dengan pemberian penghargaan kepada wisudawan dengan IPK tertinggi dari masing-masing program studi.
Penghargaan tersebut diberikan kepada Avrian Wahyuningtyas dari PGSD dengan IPK 3,94; Nanda Ika Rahmayani dari Pendidikan Matematika dengan IPK 3,92; Syafirna Cahya Setyana dari PBSI dengan IPK 3,91; Muhamad Yusuf dari Pendidikan Sejarah dengan IPK 3,88; Aris Pratama dari Pendidikan Informatika dengan IPK 3,81; Dyah Ayu Razeka Asmarasanti dari Pendidikan Bahasa Inggris dengan IPK 3,79; dan Sindhi Oktaviani dari PJKR dengan IPK 3,79.
Dorong Budaya Riset dan Adaptasi AI
STKIP PGRI Pacitan juga memberikan perhatian terhadap budaya penelitian di kalangan mahasiswa. Sejumlah wisudawan yang berhasil mempublikasikan karya ilmiah pada jurnal terindeks SINTA memperoleh penghargaan khusus.
Ketua STKIP PGRI Pacitan, Bakti Sutopo, menegaskan bahwa perguruan tinggi harus mampu beradaptasi dengan perubahan dunia pendidikan, terutama perkembangan Artificial Intelligence (AI) dan digitalisasi.
“Perguruan tinggi harus dinamis dan adaptif terhadap perkembangan dunia pendidikan, terutama terkait AI dan digitalisasi. Metode serta pendekatan belajar selalu kami perbarui agar lulusan benar-benar siap dan relevan ketika memasuki dunia kerja,” tegasnya.
Ketua PGRI Jatim Dorong STKIP Naik Kelas
Wisuda ke-27 tersebut turut dihadiri Ketua PGRI Jawa Timur, Dr. H. Djoko Adi Waluyo, S.T., M.M. Kehadirannya menjadi momentum untuk melihat lebih jauh perkembangan STKIP PGRI Pacitan sebagai salah satu perguruan tinggi yang memiliki peran dalam pengembangan sumber daya manusia di daerah.
Djoko memberikan apresiasi terhadap keberlanjutan kiprah STKIP PGRI Pacitan dalam bidang pendidikan. Ia berharap kampus tersebut terus bergerak dan berkembang sehingga dalam waktu mendatang dapat mengalami perubahan bentuk menjadi Universitas PGRI Pacitan.
“Secara berkelanjutan terus bergerak. Mudah-mudahan satu tahun yang akan datang STKIP PGRI Pacitan bisa berubah bentuk menjadi Universitas PGRI Pacitan yang bisa membanggakan daerah Pacitan,” ungkap Djoko.
Dorongan tersebut sekaligus menempatkan pengembangan kelembagaan perguruan tinggi sebagai bagian dari pembicaraan mengenai masa depan pendidikan tinggi di Pacitan.
Bersinergi dengan Pembangunan Daerah
Hal senada juga mengemuka dalam diskusi bersama Dr. Djoko Putro Utomo, M.Si., yang hadir mewakili Bupati Pacitan dan menjabat sebagai Staf Ahli Bupati Pacitan Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik.
Di sela kegiatan wisuda, berlangsung diskusi mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan perkembangan STKIP PGRI Pacitan, termasuk dorongan menuju perubahan bentuk menjadi universitas.
Pembicaraan juga menyentuh pentingnya kerja sama dan sinergitas antara perguruan tinggi dengan pemerintah daerah, khususnya dalam mendukung program pembangunan Kabupaten Pacitan.
Perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga dapat menjadi mitra pemerintah daerah dalam menyediakan sumber daya manusia, penelitian, inovasi, pengembangan kebijakan, serta pemberdayaan masyarakat.
Sinergi tersebut menjadi penting karena pembangunan daerah membutuhkan dukungan pengetahuan dan sumber daya manusia yang berasal dari lingkungan akademik.
Dengan demikian, momentum Wisuda Sarjana ke-27 tidak hanya menjadi seremoni pelepasan 455 lulusan. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk membicarakan arah pengembangan kelembagaan, peningkatan mutu pendidikan, penguatan riset, pemanfaatan teknologi, serta kolaborasi perguruan tinggi dengan pemerintah daerah.
Kehadiran mahasiswa RPL dari Aceh dan berbagai daerah lainnya juga menjadi bagian dari perjalanan STKIP PGRI Pacitan dalam memperluas kontribusinya di bidang pendidikan.
Dari Pacitan, kampus pendidikan ini terus berupaya membangun kapasitas akademik dan memperluas jejaring. Sementara bagi daerah, berkembangnya perguruan tinggi diharapkan dapat berjalan beriringan dengan kebutuhan pembangunan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Wisuda menjadi akhir dari satu perjalanan akademik, sekaligus awal bagi perjalanan pengabdian para sarjana kepada masyarakat.
