Upacara Adat Masyarakat Pacitan, Jawa Timur
Oleh: Agoes Hendriyanto
Melalui upacara adat di suatu wilayah kita dapat melacak tentang asal usul baik itu tempat, tokoh, sesuatu benda, kejadian alam yang disimbolkan dengan struktur dalam rangkaian upacara tersebut.
Upacara adat tersebut bukan hanya Indonesia, namun di Afrika Selatan ada upacara adat Ummemo. Upacara Ummemo bertujuan sebagai bentuk seruan dan himbauan tahunan untuk persatuan dan pelestarian nilai-nilai dan tradisi budaya otentik yang sangat penting untuk meningkatkan pembangunan dalam masyarakat, berhubungan dengan hak istimewa dari beberapa kepala suku dan didukung oleh delegasi raja (J.J. Thwala, 2017). Maksud dari setiap upacara adat berbeda-beda tergantung wilayahnya.

Upacara Ummemo awalnya dimaksudkan untuk orang-orang Swazi di Afrika Selatan yang disetujui oleh Ingwenyama (raja), tetapi karena perubahan, integrasi dan sosial-multikulturalisme dalam masyarakat kita, undangan diberikan kepada semua orang, terlepas dari kepercayaan, mode operasi dan latar belakang. Ummemo adalah seruan tahunan untuk persatuan dan pelestarian nilai-nilai dan tradisi budaya otentik yang sangat penting untuk meningkatkan pembangunan di dalam masyarakat (J.J. Thwala, 2017) .
Upacara adat di Indonesia sebagai perwujudan kondisi sosial budaya saat itu yang diwujudkan dalam bentuk rangkaian acara sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa serta hubungan manusia dengan alam. Upacara adat Jawa pada prinsipnya sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah menciptakan alam dengan berbagai kekayaan alam.

Upacara adat tersebut seperti:1) upacara kenduren, 2) upacara ruwatan, 3) upacara perkawinan tradisional, 4) upacara tedak Siten, 5) upacara Tingkeban, 6) upacara Grebeg, 7) upacara Sekaten, 8) upacara larung sesaji, 9) upacara kebo-keboan, dan 10) upacara bersih desa.
Pacitan sebagai wilayah kerajaan Majapahit pada jaman Hindu Budha terkenal dengan sebutan Wengker Kidul dengan kepercayaan Hindu Budha meninggalkan tradisi berupa upacara adat yang masih dilestarikan masyarakat.

Masyarakat Pacitan Hindu Budha terkenal pimpinannya yaitu Ki Buwono Keling. Sedangkan pengaruh Mataram Islam yang dimotori oleh utusan Kerajaan Demak yaitu Ki Ageng Petung, Ki Ageng Posong, Ki Ageng Magribi diutus untuk mengajak Buwono Keling menganut Agama Islam. Akhirnya terjadi pertempuran di wilayah Kebonagung dan Ki Buwono Keling meninggal dengan memisahkan antara kepala dan badan di wilayah yang dibatasi oleh sungai. Oleh sebab itu percampuran Hindu, Budha, Islam dan kepercayaan membangun upacara adat sebagai perwujudan kecintaan pada Tuhan Yang Maha Esa dan alam.
Budaya Pacitan hasil dari akulturasi budaya Hindu, Budha, dan Islam terbentuk sebuah kebiasaan yang dilaksanakan secara turun-temurun. Kebiasaan tersebut akhirnya menyelenggarakan berbagai upacara adat. Upacara adat Pacitan yang unik dan khas yang sekarang ini masih ada seperti Upacara Adat: 1) Tetaken, 2) Ceprotan, 3) Jangkrik Genggong, 4) Baritan, 5) Mantu Kucing, 6) Perkawinan Adat jawa, 7) Bersih Desa, 8) Larung Sesaji, 9) adu Kelapa, dan 9) Badut Sinampurno. Keunikan upacara adat tersebut sebagai besar telah berumur 7-10 generasi sebagai contohnya Badut Sinampurno sudah turun temurun selama 10 generasi. (Agoes Hendriyanto)
