Kethek Ogleng Sebagai Seni Masyarakat Pacitan
PRABANGKARANEWS.COM || PACITAN – Tarian ini ditarikan oleh masyarakat Desa Tokawi Kecamatan Nawangan bertahun-tahun lamanya. Penarinya masih muda yang berperan sebagai kera sedangkan satu penari wanita sebagai pemanis kesenian tersebut. Biasanya tarian ini dipentaskan pada waktu hajatan masyarakat setempat.
Cerita dalam tari Kethek Ogleng mempunyai kemiripan dengan cerita Panji yang berada di Jawa Timur. Lévi-Strauss menyimpulkan bahwa kemiripan dongeng-dongeng tersebut bukan berasal dari hasil kontak ataupun interaksi antar faktor eksternal yang ada di luar nalar manusia. Kemiripan dongeng-dongeng tersebut lebih disebabkan oleh hasil mekanisme yang ada di dalam nalar manusia (Ahimsa-Putra, 2001: 78). Oleh sebab itu unsur kemiripan cerita sah-sah saja selama untuk tujuan untuk menghibur masyarakat.
Oleh sebab itu Tarian Kethek Ogleng yang merupakan perpaduan antara nilai kearifan lokal Tokawi sejak tahun 1970-an agar menarik maka dikolaborasikan dengan budaya Panji. Cerita panji telah lama menjadi bahan diskusi dan kajian terutama di Jawa Timur. Cerita panji mempunyai versi yang berbeda-beda namun pada dasarnya terdapat kesamaan yang berkaitan dengan tema atau topik ceritanya.
Untuk kepentingan pertunjukan pada tahun 1970 – 1980 an Pemerintah Kab.Pacitan dengan berkolaborasi dengan (Alm) Sukiman / Sutiman memasukkan cerita Panji Asmorobangun dan Dewi Sekartaji yang saling mencintai dan akan membangun tali kasih percintaan berupa membangun rumah tangga yang bahagia.
Jika kita menyimak dari lagu kudangan Kethek Ogleng berikut terlihat Kethek Ogleng merupakan pertunjukan yang menirukan gerakan kera atau monyet dengan gerakan jinjit, koprol, bermain dan kejenakaan seekor kera. Hal ini yang membedakan dengan tarian seperti Hanoman ataupun tarian kera yang berkembang di wilayah keraton.
“ Irama Kudangan Kethek Ogleng”
Kethek Ogleng kinudang bapang layang-layang
Bedhes waras mringis angisis siyunge
Bathuk nonong sirah banjo kaya mlinjo
Mripat gerong irung gepak lambe ngeblek
Wulune dhiwat-dhiwut
Buntut nyelenthar mlaku engkar elek kasar
Sasolahe nggegilani, kenyung gemblung
Wuyung ngidung gandrung-gandrung
Pi: mung bathuke raden, nonong-nonong dhewe
Pa: bathuk banyak ora olo tambah cakrak
Pi: mung mripate raden, gerong-gerong dhewe
Pa: mripat gerong, gerang-gerong amencorong
Pi: mung irunge kenyung gepak-gepak dhewe
Pa: irung sunthi ora olo amantesi
Lagu tersebut menggambarkan kesederhanaan seseorang yang bisa menghibur masyarakat pada wakru itu dengan kreatifitasnya. Tidak ada campur tangan dari budaya lain selain itu murni digali dari keseharian masyarakat di Desa pada saat beristirahat terkadang dihibur dengen gerakan lincah seekor kera.
Kesenian Kethek Ogleng, yang lahir dari seorang pemuda Desa Tokawi yakni (Alm) Sutiman / Sukiman saat masih aktif sebagai pemain selalu menampilkan atraksi akrobatik yang terkadang tidak bisa dilogika. Hal tersebut disebabkan latihan yang dilakukan secara intensif sehingga menyerupai seekor kera.
Namun dalam perkembangannya belum ada yang bisa untuk menyamai tarian Kethek Ogleng saat awal tahun 1970-1980 dengan akrobatiknya.
Kethek Ogleng Kethek Ogleng merupakan bagian dari kreatifitas manusia yang diasarkan dari kondisi sosial budaya masyarakat Desa Tokawi Kecamatan Nawangan yang sebagian besar bertani. Pada tahun 1964 desa Tokawi masih terdapat hutan yang masih lebat dengan hewan mamalia kera masih banyak dijumpai.
Tari Kethek Ogleng merupakan sebuah tari yang gerakannya menirukan tingkah laku kethek (kera). Tarian ini ditarikan oleh masyarakat Desa Tokawi Kecamatan Nawangan bertahun-tahun lamanya, dipentaskan pada waktu hajatan masyarakat setempat.
Oleh sebab itu untuk pakaian, musik belum ada model yang bisa sebagai identitas dari Tarian Kethek Ogleng Pacitan. Untuk musik masih memerlukan sentuhan agar gerakan tariannya bisa lebih rampak, rancak, sigrap dan akrobatik sehingga menjadikan tarian lebih menarik.
Selain itu juga untuk identitas pakaiannya masih memerlukan pemikiran yang mendalam dengan mengadakan FGD diskusi ataupun sharing budaya agar pakaiannya bisa mencerminkan sosial budaya masyarakat Pacitan.
Semoga adanya relawan yang komitmen untuk mengembangkan musik, gerakan, pakaian dalam tari Kethek Ogleng, agar bisa disandingkan dengan tarian seperti tarian Topeng, Tari Gambyong, Tari Gandrung serta tarian yang lainnya yang menjadi identitas budaya. (AH)
