PenangananStunting Surabaya: Sukses Menurunkan Angka Stunting serta Meningkatkan Gizi Balita
PRABANGKARANEWS || SURABAYA – Ketengkesan atau stunting adalah masalah serius yang perlu ditangani dengan baik karena berdampak pada persiapan sumber daya manusia (SDM) untuk masa depan bangsa. Untuk menciptakan generasi masa depan Indonesia yang unggul, berdaya saing, dan berkualitas, penting untuk mengatasi ketengkesan dengan serius.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan ketengkesan sebagai gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak yang disebabkan oleh gizi buruk, infeksi berulang, dan kurangnya stimulasi psikososial yang memadai. Dampaknya adalah anak-anak rentan terhadap penyakit saat dewasa dan mengalami pertumbuhan yang tidak optimal.
Ketengkesan dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk masalah ekonomi dan pangan. Kemiskinan merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan ketengkesan pada balita. Kemiskinan membuat ibu dan anak sulit mendapatkan makanan bergizi dengan harga terjangkau. Selain itu, kemiskinan juga terkait dengan akses yang terbatas terhadap sanitasi yang layak dan air bersih, dikutip dari Antaranews.com Rabu (28/6/2023).
Pada tahun 2022, tingkat kemiskinan di Indonesia sebesar 9,54 persen. Pemerintah Indonesia terus berupaya menurunkan tingkat kemiskinan menjadi 6-7 persen pada tahun 2024. Namun, menurut Laporan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022 yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan, prevalensi ketengkesan pada balita di Indonesia pada tahun 2022 mencapai 21,6 persen, turun dari 24,4 persen pada tahun 2021. Meskipun angka ketengkesan secara nasional mengalami penurunan dalam 10 tahun terakhir, angka tersebut masih di atas batas maksimal yang ditetapkan oleh WHO, yaitu 20 persen. Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menargetkan penurunan prevalensi ketengkesan menjadi 14 persen pada tahun 2024.
Pemerintah melakukan dua pendekatan atau upaya dalam penanganan ketengkesan, yaitu pendekatan spesifik dan sensitif. Pendekatan spesifik melibatkan pemberian makanan tambahan kepada anak-anak untuk mencegah penyakit dan meningkatkan gizi. Sedangkan pendekatan sensitif berkaitan dengan faktor-faktor lingkungan seperti kemiskinan, sanitasi, dan masalah budaya setempat. Program Ketahanan Pangan dan Gizi juga dilakukan untuk meningkatkan ketahanan pangan dan gizi.
Penanganan ketengkesan membutuhkan komitmen tidak hanya dari pemerintah pusat, tetapi juga dari pemerintah daerah. Kota Surabaya, Jawa Timur, merupakan contoh penanganan ketengkesan yang berhasil. Prevalensi ketengkesan di Surabaya pada tahun 2022 tercatat hanya 4,8 persen, terendah di Indonesia. Melalui pendekatan gotong-royong dan melibatkan Kader Surabaya Hebat (KSH), Surabaya berhasil menurunkan angka ketengkesan secara signifikan dalam waktu 2 tahun. Pemantauan perkembangan balita tengkes dilakukan dengan intensif, terutama selama 1.000 hari pertama kehidupan. Pemkot Surabaya memberikan bantuan makanan tambahan kepada ibu hamil berisiko tinggi dan balita tengkes, serta bantuan makanan tambahan kepada pelajar PAUD. Surabaya juga menggiatkan penanaman tanaman pangan alternatif dan mengadopsi program-program pendidikan dan pemantauan gizi.
Pencegahan dan penanganan ketengkesan di Surabaya dilakukan secara komprehensif, mulai dari pemantauan sejak bayi lahir hingga pengaturan gizi pada anak perempuan yang telah memasuki siklus menstruasi. Pemkot Surabaya juga melibatkan orang tua dalam program kelas catin dan mendirikan Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH) sebagai upaya pencegahan ketengkesan. Keterlibatan masyarakat menjadi kunci keberhasilan penanganan ketengkesan di Surabaya. Selain menggunakan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD), penanganan ketengkesan melibatkan semua pemangku kepentingan termasuk perguruan tinggi.
Keberhasilan penanganan ketengkesan di Surabaya diakui dan diapresiasi oleh Wakil Menteri Kesehatan RI. Surabaya diharapkan dapat menjadi contoh dan inspirasi bagi daerah lain dalam mengatasi ketengkesan dan mencapai Indonesia yang bebas dari ketengkesan. (*)
