Upacara Adat Tetaken Gunung Limo: Warisan Budaya Tak Benda yang Menghubungkan Manusia, Alam, dan Agama
PRABANGKARANEWS || PACITAN – Prosesi tersebut merupakan bagian dari upacara adat Tetaken Gunung Limo yang digelar warga Desa Mantren, Kecamatan Kebonangung. Lahirnya upacara ritual Tetaken ini tidak lepas dari kisah Ki Tunggul Wulung yang mengembara menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Hingga akhirnya, menetap di puncak Gunung Limo.
Menjadi agenda tahunan desa sejak pertama kali digelar tahun 2006, upacara adat Tetaken terus lestari sampai saat ini. Bukan hanya masyarakat Desa Mantren namun banyak warga luar desa yang datang menyaksikan. Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji yang hadir dalam acara tersebut berharap, upacara adat Tetaken ini terus dirawat dan dijaga.
“Dalam adat Tetaken ini ada unsur kegotongroyongan, ada silaturahmi, ada sedekah serta hal positif lainnya. Dan harapannya berdampak baik bagi perekonomian masyarakat Desa Mantren,” kata Mas Aji, Rabu (02/08/2023).
Tetaken telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda tahun 2019, menjadi kebanggaan Pacitan yang harus dilestarikan dan dikembangkan. Terutama dengan menciptakan ekosistem Upacara Tetaken yang meliputi 5 subsistem yang meliputi kreasi, produksi, diseminasi, reepsi, dan partisipasi masayarakat,
Tetaken berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti teteki atau maknanya adalah orang menyucikan diri dengan bertapa di lereng Gunung Limo. Siswa Padepokan Tunggul Wulung yang belajar ilmu di Lereng Gunung Limo akan diwisuda oleh guru atau biasa disebut juru kunci untuk diserahkan kepada masyarakat Desa Mantren.
Upacara adat sangat berhubungan dengan tiga hal, yaitu berhubungan dengan kehidupan manusia, berhubungan dengan alam, serta berhubungan dengan agama dan kepercayaan, bahwa masyarakat Jawa sangat mendambakan hubungan dinamis antara manusia dengan alam dan Tuhan (Sri Wintala, 2017:, 57).
Oleh sebab itu Upacara Adat Tetaken sebagai wujud ungkapan rasa syukur warga Desa Mantren selepas murid atau siswa yang menimba ilmu. Tetaken merupakan tradisi masyarakat sekitar Gunung Lima, yang masih terpelihara hingga saat ini. Tetaken berasal dari kata Sansekerta yang berarti Teteki mengandung pengertian pertapan. (*)
