Protes Mahasiswa STAINU Pacitan: Tantangan Politik Dinasti dan Isu Akreditasi
PRABANGKARANEWS || Pacitan, Jumat 13 Oktober 2023 – Mahasiswa dari Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Pacitan telah menggelar demonstrasi tegas sebagai bentuk protes terhadap praktik politik dinasti dalam birokrasi kampus dan ketidakmampuan perguruan tinggi untuk menyelesaikan proses akreditasi mahasiswa, khususnya di jurusan Manajemen Pendidikan Islam (MPI). Demonstrasi ini, yang berlangsung pada hari Jum’at kemarin, telah menarik perhatian masyarakat dan otoritas setempat.
Aksi protes ini melibatkan mahasiswa dari berbagai jurusan dan angkatan di STAINU Pacitan, dengan perhatian khusus pada jurusan MPI. Salah satu titik fokus utama adalah penunjukan Syuhada Subir sebagai ketua STAINU Pacitan yang baru. Penunjukan ini dianggap kontroversial karena Syuhada Subir adalah putra mantu dari pimpinan sebelumnya, Imam Faqih Sjuda’.
Puluhan orang dari Aliansi Mahasiswa STAINU berkumpul di Lapangan Manggala, Baleharjo, dan bergerak menuju Gedung STAINU Pacitan, dengan demonstrasi yang berakhir di depan halaman kampus pada pukul 16.04 WIB. Mahasiswa ingin menyuarakan keprihatinan mereka terhadap praktik politik dinasti yang bisa merugikan demokrasi dan keadilan di perguruan tinggi.
Dalam pidatonya, Hasan Bahroni, Ketua Koordinator Lapangan Aliansi Mahasiswa, menekankan perlunya perguruan tinggi mempertimbangkan kembali metode pemilihan kepala STAINU Pacitan. Protes ini tidak hanya tentang politik dinasti, melainkan juga tentang masalah kualitas pelayanan, seperti dosen yang dianggap tidak kompeten, pendidikan yang dianggap terlalu konservatif, dan penurunan fasilitas setiap tahun.
Namun, perundingan dengan pihak kampus tidak mencapai titik kesepakatan. Pihak kampus menunjukkan sikap keras, hanya merespons permintaan mahasiswa sebagian. Mereka menegaskan komitmen untuk menyelesaikan masalah ini meskipun tidak menandatangani petisi yang diajukan oleh mahasiswa.
Ketua Senat STAINU Pacitan, Imam Faqih Sjuda, memberikan garansi bahwa upaya penyelesaian masalah ini akan segera dilakukan, meskipun tanpa menandatangani petisi. Dia berharap untuk menyelesaikan ketidaksetujuan ini secara internal di antara civitas akademik. (FAHRUZZAINUDDIN)
