Pelestarian Wayang Beber Karangtalun Perlu Upaya Nyata Menyelamatkan Warisan Budaya Adi Luhung

Pelestarian Wayang Beber Karangtalun Perlu Upaya  Nyata Menyelamatkan Warisan Budaya Adi Luhung
Gambar: Tri Hartanto Saat Pertunjukan Wayang Beber Karangtalun
SHARE

PRABANGKARANEWS || Dalam masa kejayaan kerajaan Jenggala-Kediri, seni wayang berkembang pesat. Pada masa itu, gambar wayang yang terbuat dari kulit tal memiliki ukuran yang sangat kecil, karena ukuran daun tal yang hanya sekitar 3 cm. Namun, meskipun kecil, gambar-gambar dan tulisan yang terdapat di dalamnya sangat detail. Daun tal tersebut diatur secara berurutan, dengan nomor urut yang jelas.

Pada masa itu, sang raja juga menginstruksikan pembuatan gambar wayang purwa. Gambar-gambar tersebut kemudian diukir dengan sangat teliti dan diletakkan di atas kertas dari kulit pohon daluwang. Daluwang merupakan kertas yang dihasilkan dengan cara memukul-mukul kulit pohon daluwang. Pada masa itu, teknologi pembuatan kertas sudah cukup maju, meskipun warnanya tidak murni putih, melainkan berwarna kuning kecoklatan.

Baca Juga  Menpora Zainudin Amali; Menggelar Pertemuan Virtual dengan Pemangku Sepak Bola Bahas Kompetisi PSSI

Pembuatan wayang beber merupakan seni yang membutuhkan keterampilan khusus. Ini termasuk kemampuan melukis dengan detail dan penuh warna, serta keterampilan dalam membuat desain yang rumit. Produksi wayang beber, terutama duplikasi, membutuhkan bahan-bahan berkualitas tinggi dan proses yang rumit. Hal ini membuatnya mahal dan sulit didapatkan.

Gambar: Pohon Daluang/Dluncang bahan Baku Kertas Daluang Wayang Beber

Semua faktor ini, bersama dengan keunikan dan nilai budaya dari wayang beber, membuat produksi dan pelestariannya menjadi pekerjaan yang membutuhkan komitmen kuat dari komunitas dan individu yang peduli dengan pelestarian budaya.

Wayang beber Karangtalun, Tri Hartanto pewaris yang sangat konsen terhadap upaya pelestarian dan pengembangan Wayang Beber, Sabtu (23/3/24), umur sangat tua ratusan tahun yang menyebabkan kondisi dari Wayang Beber mudah rusak.  Walaupun secara alamiah ada pengawetnya dengan bulu merak, namun sangat rawat kerusakannya.

Baca Juga  Simak ! Pendalaman KPK terhadap Kasus Suap Bupati Bogor nonaktif Ade Yasin
Gambar: Kondisi Jagong 1, Gulungan 1 Wayang Beber Karangtalun (Dok.Pribadi)
Gambar: Kondisi Jagong 1, Gulungan 1 Wayang Beber Karangtalun (Dok.Pribadi)

Tri Hartanto berharap ada kepedulian terhadap upaya pelestarian dan pengambangan agar ritus yang mempunyai nilai tinggi bisa terawat.  Akhirnya didirikannya Yayasan Rumah Wayang Beber  Karangtalun, sebagai upaya untuk mendapatkan pendanaan dari pihak pemerintah maupun swasta.

“Melihat gambar terutama untuk gulungan 1, jagong 1 sangat memprihatinkan.  Perlu upaya untuk menyelamatkan,” jelas Tri

Yayasan Rumah Wayang Beber juga telah menyusun rencana dalam upaya pelestarian wayang beber sebagai warisan budaya takbenda Indonesia juga menjadi fokus penting. Duplikasi wayang beber harus melalui proses ritual dan mematuhi norma serta etika tertentu. Selain itu, pertunjukan, workshop, dan pembuatan film dokumenter juga dilakukan untuk mengajarkan seni tradisional ini kepada generasi muda.

Baca Juga  Rencana Pembangunan Jangka Panjang, Jalan Tol Yogyakarta-Lumajang Melalui Pacitan tahun 2035-2039
Gambar: Kondisi Gulungan 1, Wayang Beber Karangtalun (Dok.Pribadi)
Gambar: Kondisi Gulungan 1, Wayang Beber Karangtalun (Dok.Pribadi)

Pelestarian seni Wayang Beber memerlukan upaya yang menyeluruh dan berkelanjutan. Hanya dengan adanya komitmen nyata dari berbagai pihak dan upaya konkret dalam menjaga, memelihara, dan mengembangkan seni ini, warisan budaya yang berharga ini dapat tetap hidup dan dinikmati oleh generasi mendatang.

Pelestarian seni Wayang Beber memerlukan upaya konkret untuk menyelamatkan warisan budaya yang berharga ini. Seni Wayang Beber, sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia, menghadapi tantangan dalam pelestariannya karena risiko kerusakan dan kepunahan. Upaya nyata diperlukan untuk menjaga keberlangsungan seni ini agar dapat dinikmati oleh generasi mendatang.

Penulis: Tri Hartanto

Editor: Hendriyanto