Konferensi Pers Secara Virtual

Konferensi Pers Secara Virtual
SHARE

“Akankah kita hanya menjadi penonton?”
Katanya sambil terkurung di rumah

Katanya lagi:
“Masya Allah, ini peristiwa besar
Hanya datang seabad sekali.
Apakah kita kaum peneliti
Hiruk pikuk ketika pemilu presiden
Tapi kini hanya bisu
Mati angin
di era pandemik?”

Kau menjawab
Agak marah
Putus asa:

“Tapi kita bisa apa?
Tak bisa kita seperti dulu
seperti pemilu presiden
Atau pilkada
datang ke rumah- rumah
merekam opini publik?
Bukankah itu dilarang?

Kita tak ingin terpapar virus
Dan tak ingin pula memaparkan”

Terus kau mengoceh:

“Tapi kita bisa apa?
Tak bisa kita kumpul opini
hanya lewat telefon.
Bukankah itu tak akurat?”

Kau terus mengeluh:
“Tapi kita bisa apa?
Bagaimana konferensi pers?
Kita tak boleh undang wartawan?
Belum boleh kumpul-kumpul

Baca Juga  Menteri ART/BPN Nusron Wahid Terkejut, 581 Hektare Perairan Paljaya Bekasi Bersertifikat HGB

Namun Ia terus bergerak
Kehendak itu terus datang
Masuk ke mimpi
Di lihatnya cahaya di malam hari
Ia terus bergerak
Bergerak saja

ABRAKADABRA !!!

Jadilah itu hasil riset
Riset tak biasa
Mengolah data yang ada
Menajamkan riset sebelumnya

Ia dulu suka memprediksi
Siapa pemenang pemilu presiden
Empat pemilu sudah
Walau dikecam dunia
Tapi bukankah empat prediksinya akurat?

Kini ia tetap memprediksi
Tapi untuk dunia yang beda:
Kapankah Sang Virus hengkang
Kapankah “say good-bye”
kepada monster yang maha kecil?

Terjadilah itu
Pertama kali dalam hidupnya
Konferensi pers secara virtual
Ia sendiri
Sendiri saja
Hanya ditemani kamera
Tak mengundang satu wartawanpun

TAPI..

Baca Juga  Simak ! Poin Penting Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual

Ia terkejut alang kepalang
Sambutan tak terduga

“Terima kasih pak,
Akhirnya kita akan normal lagi.
“Abang, semoga ya bang
Sudah bosan di rumah
Dik, prediksinya terukur
Tapi yang lebih penting
Memberi harapan.”

Handphonenya penuh dering
Di Japri masuk aneka respon

Astaga, kini Ia merenung
Padahal akutasi prediksi belum teruji
Orang- orang sudah berterima kasih

Ya Allah, ternyata
Ada endapan bara
Tersembunyi di bawah tanah

Ini batin yang jenuh
Berminggu-minggu mereka terkurung di rumah
Kantor ditutup
Warung tak buka
Nasib tak pasti

Baru pertama ia alami
Hasil risetnya
Ternyata itu obat
Bagi jiwa yang lama tertekan.*

(Denny JA, 1/5-2020)