Toponimi Widoro dan Legenda Citus Pohon Bidara di Donorojo, Pacitan
PRABANGKARANEWS.COM, PACITAN – Toponimi merupakan cabang ilmu yang mempelajari asal-usul, arti, penggunaan, serta tipologi nama tempat atau unsur rupa bumi—seperti gunung, sungai, desa, dan jalan—berdasarkan aspek historis, kultural, dan geografis. Melalui kajian toponimi, sebuah nama tempat tidak hanya dipahami sebagai penanda lokasi, tetapi juga sebagai jejak sejarah, identitas budaya, serta memori kolektif masyarakat yang menempatinya.
“Bismillah. Salam Literasi Sejarah. Pacitan Kota Misteri.”
Ungkapan tersebut sering menjadi pengantar ketika masyarakat setempat menuturkan kisah tentang salah satu situs yang diyakini memiliki nilai sejarah dan spiritual, yakni Citus Pohon Bidara di Desa Widoro, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.
Jejak Legenda dari Masa Awal Jawa Selatan
Menurut kisah yang hidup dalam tradisi lisan masyarakat, keberadaan situs ini diperkirakan berhubungan dengan masa yang sangat tua, bahkan disebut-sebut sejak sekitar abad ke-8 Masehi. Pada masa itu wilayah selatan Pacitan digambarkan masih berupa hutan belantara yang lebat dan dianggap sebagai wilayah yang wingit atau sakral. Dalam pandangan kosmologi masyarakat Jawa kuno, kawasan tersebut diyakini dihuni berbagai makhluk gaib seperti jin, raksasa, dan makhluk halus penjaga alam.
Dalam legenda yang berkembang, diceritakan seorang ulama dari negeri jauh bernama Syekh Damsyih—yang juga dikenal sebagai Syekh Subakir—datang dari wilayah Damaskus (Damsyik), Suriah. Tokoh ini dalam tradisi Jawa sering dikisahkan sebagai ulama yang melakukan perjalanan spiritual untuk “menetralisir” tanah Jawa yang pada masa itu dipercaya masih dipenuhi kekuatan gaib.
Perjalanan tersebut konon menempuh samudra luas hingga akhirnya mendarat di sebuah pelabuhan alam yang dikenal dengan nama Iroboyo, yang diyakini berada di wilayah Donorojo, Pacitan. Dari titik itulah Syekh Damsyih memasuki hutan belantara di wilayah selatan Jawa dengan tujuan melakukan ritual spiritual demi menata keseimbangan alam.
Penanaman Pohon Bidara dari Tanah Arab
Dikisahkan bahwa Syekh Damsyih membawa biji pohon bidara dari tanah Arab. Pohon bidara dalam tradisi Timur Tengah dikenal sebagai tanaman yang memiliki nilai simbolik sekaligus manfaat pengobatan dan spiritual.
Sebelum menanam biji tersebut, ia terlebih dahulu mencari tempat yang dianggap paling sakral untuk bermunajat. Dalam cerita masyarakat, lokasi itu berada di kawasan gua yang tidak jauh dari garis pantai selatan. Setelah melalui proses spiritual, ditemukanlah titik yang diyakini paling tepat untuk menanam pohon tersebut.
Legenda setempat menyebutkan bahwa lokasi itu berada dalam wilayah yang diyakini sebagai kawasan sakral yang berkaitan dengan kerajaan gaib di laut selatan. Dalam kosmologi lokal, wilayah tersebut kerap disebut sebagai bagian dari “Laut Buyutan”, yang dipercaya sebagai lautan tua yang memiliki kekuatan spiritual besar.
Di tempat itulah Syekh Damsyih menanam pohon bidara dari tanah Arab dengan harapan agar bumi Jawa, khususnya wilayah selatan, menjadi lebih tenteram, sejahtera, dan diberkahi.
Ciri-ciri Pohon Bidara di Widoro
Seiring perjalanan waktu, pohon bidara yang diyakini berasal dari penanaman tersebut berkembang dan beradaptasi dengan lingkungan alam Jawa. Masyarakat setempat menggambarkan beberapa ciri khas pohon tersebut, antara lain:
-
Memiliki duri berwarna kemerahan pada batangnya
-
Daunnya lebar menyerupai kuping gajah
-
Buahnya berukuran kecil sekitar 2–3 cm
-
Buah muda berwarna kuning, sedangkan saat matang berubah merah dan terasa manis ketika dimakan
Keberadaan pohon tersebut kemudian dianggap sakral oleh masyarakat sekitar. Banyak yang meyakini bahwa pohon bidara memiliki kekuatan simbolik untuk menangkal gangguan makhluk halus atau energi negatif.
Dalam tradisi Islam sendiri, pohon bidara memang dikenal memiliki berbagai manfaat, termasuk dalam praktik pengobatan tradisional dan ritual spiritual.
Dari Bidara Menjadi Widoro
Seiring perkembangan zaman, kisah mengenai pohon bidara tersebut menjadi bagian dari identitas lokal masyarakat. Nama tanaman bidara dalam pengucapan Jawa kemudian berkembang menjadi “Widoro”.
Perubahan fonetik ini akhirnya menjadi penanda toponimi wilayah tersebut. Nama Widoro kemudian digunakan sebagai nama desa yang kini dikenal sebagai Desa Widoro, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan.
Dengan demikian, nama Widoro tidak hanya berfungsi sebagai penunjuk wilayah administratif, tetapi juga menyimpan cerita panjang mengenai legenda spiritual, perjalanan tokoh religius, serta hubungan manusia dengan alam dan kepercayaan yang berkembang di masyarakat.
Warisan Cerita dan Identitas Lokal
Kisah mengenai Citus Pohon Bidara di Widoro menunjukkan bagaimana legenda, tradisi lisan, dan keyakinan masyarakat dapat membentuk identitas suatu tempat. Dalam kajian toponimi, cerita-cerita seperti ini menjadi bagian penting untuk memahami bagaimana suatu wilayah memperoleh namanya sekaligus bagaimana masyarakat memaknai ruang tempat mereka hidup.
Bagi masyarakat Widoro, pohon bidara bukan sekadar tumbuhan. Ia adalah simbol sejarah, spiritualitas, serta pengingat akan hubungan panjang antara manusia, alam, dan kepercayaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Semoga kisah-kisah lokal seperti ini tetap terjaga sebagai bagian dari literasi sejarah dan warisan budaya masyarakat Pacitan.
Semoga pula Allah SWT senantiasa memberikan keberkahan kepada kita semua.
Penulis: Amat Taufan, Hendriyanto

