Makam Syeh Ki Ageng Posong: Jejak Islamisasi dan Tradisi Lisan di Pacitan Selatan
PRABANGKARANEWS.COM, PACITAN – Situs Makam Syeh Ki Ageng Posong terletak di Desa Semanten, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan. Berdasarkan tradisi lisan yang berkembang di masyarakat, tokoh ini diperkirakan hidup dan berdakwah pada akhir abad ke-15 hingga awal abad ke-16 M, bertepatan dengan masa runtuhnya kekuasaan lokal Kerajaan Wiranti atau Kalak di wilayah Donorojo–Pacitan. Dalam narasi tersebut, penguasa kerajaan dikenal dengan berbagai sebutan, seperti R. Panji, R. Prawiro Yudho, atau Pangeran Kalak.
Peralihan kekuasaan di wilayah tersebut dikaitkan dengan ekspansi kekuatan Islam yang melibatkan jaringan ulama dan kekuatan politik dari Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon, serta dukungan dari wilayah lain seperti Slawi, Pasai, dan Persia. Setelah terjadinya konflik besar tersebut, sebagian ulama tidak kembali ke daerah asal, melainkan menetap di wilayah selatan Jawa untuk melanjutkan misi dakwah dan penguatan ajaran Islam. Syeh Ki Ageng Posong menjadi salah satu tokoh penting dalam proses tersebut.
Dalam kajian kebudayaan daerah, tradisi lisan yang berkaitan dengan tokoh, situs, dan peristiwa sejarah memiliki nilai penting sebagai sumber rekonstruksi sejarah budaya. Cerita-cerita yang sebelumnya hidup dalam ingatan kolektif masyarakat dapat ditelaah secara akademik melalui proses inventarisasi dan penelitian, sehingga berkontribusi pada penguatan dokumentasi budaya sekaligus memperkaya khazanah pengetahuan lokal.
Pada masa itu, wilayah Pacitan masih didominasi oleh bentang alam rawa dan hutan. Dalam kondisi tersebut, Syeh Ki Ageng Posong bersama Ki Ageng Petung, dengan restu dari Betoro Katong sebagai representasi kekuasaan Demak di Ponorogo, menjalankan misi dakwah pascakonflik. Upaya ini diarahkan untuk memperkuat keimanan masyarakat yang sebelumnya masih dipengaruhi tradisi Hindu–Buddha sebagai warisan budaya dari masa Kerajaan Wiranti/Kalak.
Salah satu narasi penting dalam tradisi lisan menyebutkan peran Syeh Ki Ageng Posong dalam proses islamisasi tokoh lokal Ki Ageng Buono Keling yang memiliki pengaruh kuat di wilayah selatan Pacitan, khususnya di kawasan Kebonagung. Dakwah yang dilakukan bersifat persuasif dan kultural, menyesuaikan dengan kondisi sosial serta lingkungan masyarakat setempat, sehingga proses penerimaan ajaran Islam berlangsung secara bertahap dan damai.
Hingga saat ini, situs makam Syeh Ki Ageng Posong masih dianggap sakral oleh masyarakat dan berada di kawasan Masjid Guron, yang diyakini sebagai cikal bakal perkembangan lembaga pendidikan Islam di Pacitan, termasuk yang kemudian dikenal melalui tradisi pesantren seperti Pondok Pesantren Tremas.
Dalam perspektif Objek Pemajuan Kebudayaan, situs ini memiliki nilai penting pada unsur Sejarah, Religi, Tradisi Lisan, Situs Budaya, serta Pengetahuan Tradisional. Keberadaannya merekam fase penting Islamisasi di wilayah selatan Jawa, dinamika transisi kekuasaan pascakonflik, serta peran ulama dalam membangun tatanan sosial dan keagamaan masyarakat.
Oleh karena itu, Makam Syeh Ki Ageng Posong layak untuk diinventarisasi, dilindungi, dan dikaji secara komprehensif sebagai bagian dari warisan budaya Pacitan. Upaya ini tidak hanya penting untuk menjaga keberlanjutan situs secara fisik, tetapi juga untuk melestarikan nilai-nilai historis dan kultural yang terkandung di dalamnya sebagai bagian dari identitas budaya lokal dan kontribusinya terhadap narasi sejarah Nusantara.
Penulis: Dr. Agoes Hendriyanto, M.Pd.

