Pengetahuan Tradisional Sandang Masyarakat Pesisir Pacitan (Dana Indonesiana 2025)
PRABANGKARANEWS.COM, OPK-PACITAN – Salah satu aspek penting dalam kegiatan inventarisasi Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) di Kabupaten Pacitan adalah pengetahuan tradisional yang berkaitan dengan sandang. Sejak awal abad ke-19, masyarakat Pacitan telah mengalami pengaruh budaya dari tradisi Mataram Islam serta kolonial Belanda. Dalam konteks tersebut, keberadaan pakaian menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat, termasuk di kalangan petani dan nelayan yang telah memiliki sistem berpakaian tersendiri.
Berdasarkan studi dokumentasi visual dari arsip di Museum Leiden, praktik berpakaian masyarakat pesisir selatan Pacitan tidak dapat dipahami hanya sebagai pemenuhan kebutuhan dasar. Busana merupakan manifestasi pengetahuan lokal yang terbentuk melalui interaksi panjang antara manusia dan lingkungan alam. Faktor-faktor seperti ombak laut, angin pesisir, intensitas panas matahari, serta karakter tanah dan pasir turut membentuk kesadaran kolektif masyarakat dalam merancang dan menggunakan pakaian yang bersifat fungsional, adaptif, dan sarat makna budaya (Hendriyanto, 2026c).
Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan kerangka antropolinguistik, yaitu perspektif yang memandang praktik budaya sebagai “teks hidup” yang dapat dibaca melalui simbol, istilah, narasi, serta kebiasaan tutur masyarakat. Dalam kerangka ini, busana diposisikan sebagai teks budaya, sedangkan praktik berpakaian masyarakat Jawa di Pacitan dipahami sebagai bagian dari sistem pengetahuan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi, meliputi analisis foto kolonial, arsip museum, serta literatur sejarah lokal.
Dokumentasi visual memperlihatkan bahwa nelayan Pacitan umumnya mengenakan kain jarik berwarna gelap dengan motif sederhana. Jarik tersebut dililitkan di pinggang secara kuat, mencerminkan teknik berpakaian yang menekankan kepraktisan dan ketahanan. Pola pemakaian ini memungkinkan mobilitas tinggi dalam aktivitas kerja seperti menarik jaring, mendorong perahu, maupun berjalan di atas pasir basah. Kesederhanaan motif menunjukkan bahwa fungsi lebih diutamakan dibandingkan aspek estetika.
Pada bagian tubuh atas, nelayan umumnya tidak mengenakan atasan. Kondisi tubuh yang tampak kurus namun berotot dalam dokumentasi visual menunjukkan intensitas kerja fisik yang tinggi. Kulit yang menggelap akibat paparan sinar matahari menjadi penanda ritme kerja alami, sekaligus merepresentasikan tubuh sebagai “arsip hidup” yang merekam pengalaman, ketahanan, dan disiplin dalam kehidupan pesisir.
Penutup kepala berupa kain polos sederhana menjadi bagian penting dalam sistem berpakaian tersebut. Ikat kepala berfungsi untuk melindungi dari panas matahari, menyerap keringat, serta menunjukkan kesiapan dalam bekerja. Teknik pengikatan yang sederhana mencerminkan prinsip efisiensi, yaitu cukup kuat untuk menahan terpaan angin laut tanpa menghambat aktivitas.
Selain itu, nelayan Pacitan umumnya tidak menggunakan alas kaki. Kontak langsung antara telapak kaki dengan pasir dan air laut menunjukkan kedekatan yang erat dengan lingkungan alam. Dalam perspektif budaya, kondisi ini tidak semata mencerminkan keterbatasan ekonomi, tetapi juga merupakan bentuk adaptasi sekaligus bagian dari identitas masyarakat pesisir.
Ekspresi wajah nelayan dalam dokumentasi lama umumnya tampak tenang dan serius. Tatapan yang lurus ke depan mencerminkan kesadaran terhadap risiko pekerjaan yang selalu menyertai kehidupan di laut. Dalam hal ini, busana sederhana yang dikenakan menjadi representasi dari nilai keberanian, ketekunan, dan etos kerja masyarakat pesisir.
Nuansa hitam-putih dalam foto-foto tersebut semakin menegaskan kesan kejujuran visual dari praktik berpakaian masyarakat. Busana nelayan Pacitan hadir secara apa adanya—fungsional, sederhana, namun sarat makna. Meskipun pada masa itu kain batik telah diproduksi oleh pengrajin lokal dengan beragam motif dan warna, pilihan busana nelayan tetap mencerminkan perpaduan nilai budaya Jawa yang dipengaruhi tradisi Mataram Islam, dengan penekanan pada prinsip kesederhanaan (prasaja) dan kegunaan dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis: Dr. Agoes Hendriyanto, M.Pd
