Inventarisasi Situs Pusaka Demang Punung Perkuat Pelestarian Warisan Budaya Pacitan (Dana Indonesiana 2026)
PRABANGKARANEWS.COM, Pacitan – Kegiatan Inventarisasi dan Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) Kabupaten Pacitan kembali dilaksanakan oleh tim peneliti pada Minggu, 22 Februari 2026 dengan menelusuri keberadaan Situs Pusaka Demang Punung di Kecamatan Punung. Kajian ini menjadi bagian penting dalam upaya pendokumentasian dan pelestarian warisan budaya lokal yang memiliki nilai sejarah, simbolik, dan filosofis bagi masyarakat Pacitan.
Situs Pusaka Demang Punung diperkirakan berasal dari abad ke-19 Masehi pada masa kolonial Hindia Belanda. Situs ini merepresentasikan keterkaitan erat antara sistem kepemimpinan tradisional Jawa, simbol otoritas lokal, serta perkembangan pengetahuan dan teknologi masyarakat pada zamannya. Dalam sejarah lokal, wilayah Punung kala itu dipimpin seorang pamong yang dikenal sebagai Demang Punung, yang diangkat oleh penguasa Mangkunegaran Surakarta, Suradi Hardjo Sukarto. Penugasan tersebut disertai legitimasi resmi sebagai bentuk kewenangan kerajaan di tingkat lokal.
Demang Punung dikenal sebagai sosok pemimpin yang berwibawa, adil, dan disegani masyarakat maupun pihak kolonial Belanda. Wibawanya tidak hanya lahir dari jabatan formal, tetapi juga dari sikap kepemimpinan yang berakar pada nilai-nilai kebijaksanaan Jawa. Salah satu peninggalan penting yang berkaitan langsung dengan figur tersebut adalah pusaka keris patrem, yakni keris berukuran kecil yang memiliki makna simbolik dan spiritual mendalam.
Keris patrem Demang Punung memiliki bilah berluk tujuh dengan bentuk ramping dan tempa yang halus. Dalam tradisi Jawa, luk tujuh dimaknai sebagai simbol kehati-hatian, pengendalian diri, dan perjalanan spiritual menuju keseimbangan batin. Keris ini tidak digunakan sebagai senjata perang, melainkan sebagai simbol legitimasi, otoritas moral, dan kedalaman spiritual seorang pemimpin lokal.
Keunikan pusaka ini terletak pada bagian warangka dan gagang yang dibuat dari logam atau yang dikenal masyarakat setempat sebagai besi perak. Penggunaan material tersebut tergolong langka dalam tradisi perkerisan Jawa karena umumnya warangka dibuat dari kayu pilihan. Seluruh bagian warangka dihiasi ornamen motif kembang kacang, sulur, dan pola geometris segi empat yang dipahat menyatu dengan struktur logam. Kehalusan pengerjaan tersebut menunjukkan tingginya penguasaan teknologi metalurgi tradisional dan seni kriya logam masyarakat Jawa pada masa itu.
Secara simbolik, motif kembang kacang dan sulur melambangkan keluhuran budi, kesinambungan hidup, dan kemampuan pemimpin dalam menaungi masyarakatnya. Sementara pola segi empat dimaknai sebagai simbol empat penjuru mata angin yang merepresentasikan kewajiban seorang pemimpin untuk melindungi seluruh lapisan masyarakat tanpa membeda-bedakan golongan.
Sebagai pusaka turun-temurun, keris patrem Demang Punung tidak hanya dipahami sebagai benda material, tetapi juga sebagai penanda pengetahuan tradisional, teknologi lokal, serta nilai filosofis masyarakat Jawa. Pusaka ini menjadi bukti bahwa masyarakat Pacitan sejak abad ke-19 telah memiliki pemahaman mendalam mengenai hubungan antara kekuasaan, estetika, spiritualitas, dan simbolisme budaya.
Dalam kerangka Pemajuan Kebudayaan, Situs Pusaka Demang Punung memiliki kedudukan penting sebagai representasi identitas budaya lokal Pacitan. Inventarisasi dan kajian terhadap situs ini diharapkan dapat memperkuat upaya pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan warisan budaya secara berkelanjutan agar nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya tetap terjaga dan diwariskan kepada generasi mendatang sebagai bagian dari jati diri budaya Pacitan.
Penulis: Amat Taufan, Agoes Hendriyanto
