Baritan Tolak Sengkolo: Doa, Cahaya, dan Harapan dari Sidomulyo (Dana Indonesiana 2025)
PRABANGKARANEWS, PACITAN – Senja perlahan turun di Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirojo, Pacitan. Di antara desir angin pesisir selatan dan langkah warga yang beriringan, cahaya obor dan lampion mulai menyala. Bukan sekadar pemandangan indah, inilah Baritan Tolak Sengkolo, sebuah ritual budaya yang sarat makna, doa, dan harapan akan keselamatan hidup bersama.
Tradisi Baritan telah lama hidup di tengah masyarakat Sidomulyo. Ia bukan sekadar arak-arakan, melainkan simbol ikhtiar kolektif warga dalam menolak mara bahaya, pagebluk, serta segala bentuk kesialan yang diyakini dapat mengganggu harmoni kehidupan. Dalam Karnaval Budaya Nusantara PPHBN Kecamatan Ngadirojo Tahun 2025, tradisi ini kembali dihadirkan sebagai denyut utama perayaan.
Kirab budaya menjadi pusat perhatian. Warga dari berbagai usia mengenakan busana tradisional, membawa obor, lampion, serta gunungan hasil bumi. Cahaya yang dibawa bukan hanya penerang jalan, tetapi perlambang pencerahan batin sebuah ajakan untuk membersihkan niat, menyatukan rasa, dan memohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Di balik langkah-langkah kirab, tersimpan pesan luhur: manusia hidup berdampingan dengan alam dan sesama. Gunungan yang diarak melambangkan rasa syukur atas rezeki yang diberikan, sekaligus doa agar bumi Sidomulyo senantiasa subur, aman, dan dijauhkan dari sengkolo. Doa-doa dipanjatkan, harapan disematkan, dan kebersamaan diteguhkan.
Menariknya, Baritan tidak berhenti sebagai ritual sakral. Ia menjelma menjadi ruang edukasi budaya bagi generasi muda. Anak-anak dan remaja terlibat langsung, belajar tentang nilai gotong royong, penghormatan pada leluhur, serta pentingnya menjaga tradisi di tengah arus modernisasi. Di sinilah Baratan menemukan relevansinya—tradisi lama yang terus hidup dengan cara baru.
Karnaval Budaya Nusantara ini menjadi bukti bahwa budaya lokal bukan peninggalan masa lalu yang usang. Ia adalah identitas, penyangga nilai, sekaligus kekuatan sosial. Dari Sidomulyo, Baritan Tolak Sengkolo menyampaikan pesan sederhana namun mendalam: selama doa, cahaya, dan kebersamaan tetap dijaga, harapan akan selalu menemukan jalannya. (Ruslianto)
