Lestarikan Warisan Budaya, Perpustakaan Boyolali Gelar Sosialisasi Identifikasi dan Penelusuran Naskah Kuno 2026
PRABANGKARANEWS.COM, BOYOLALI — Upaya pelestarian warisan budaya berbentuk manuskrip dan naskah kuno terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Boyolali melalui Dinas Arsip dan Perpustakaan (Arpus). Salah satunya dengan menggelar kegiatan Sosialisasi Identifikasi dan Penelusuran Naskah Kuno Tahun 2026 yang berlangsung di Perpustakaan Daerah Kabupaten Boyolali “Remen Maos”, Jalan Pandanaran No. 167 Siswodipuran Boyolali, Selasa (26/05/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga manuskrip kuno sebagai warisan budaya dan sumber sejarah bangsa yang memiliki nilai pengetahuan tinggi bagi generasi mendatang.
Dalam kegiatan tersebut hadir dua narasumber yang membahas pentingnya pelestarian naskah kuno Nusantara. Salah satunya, Asep Yudha Wirajaya, dosen Program Studi Sastra Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS), menjelaskan bahwa naskah kuno merupakan tulisan tangan berusia minimal 50 tahun yang mengandung nilai budaya, intelektual, dan sejarah bangsa.
Menurutnya, keberadaan naskah kuno di suatu daerah merupakan identitas penting yang harus terus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman.
“Sejarah naskah kuno yang dimiliki suatu daerah, khususnya Boyolali yang kini telah berusia 167 tahun, harus terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi berikutnya agar tidak punah dimakan waktu. Saat ini Boyolali masih memiliki manuskrip yang tersimpan di kawasan Padepokan Merapi,” ungkap Asep.

Ia menambahkan, pelestarian manuskrip kuno menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kerusakan fisik naskah, keterbatasan tenaga ahli, minimnya fasilitas, hingga persoalan pendanaan.
Asep juga menekankan bahwa manuskrip dan arsip tertulis merupakan sumber autentik dalam merekonstruksi sejarah lokal yang sering kali terabaikan. Oleh karena itu, pelestarian naskah bukan hanya menjadi tanggung jawab perpustakaan atau akademisi semata, melainkan membutuhkan keterlibatan kolektif masyarakat.
“Pemanfaatan teknologi digital menjadi sangat penting sebagai jembatan untuk menghubungkan kearifan masa lalu dengan aksesibilitas masa kini,” tambahnya.
Sementara itu, narasumber lainnya, Ahmad Wahyu, filolog dari Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir ISQI Sunan Pandanaran Yogyakarta, menjelaskan bahwa manuskrip kuno memiliki fungsi penting sebagai sumber informasi sejarah dan memori kolektif masyarakat.
“Manuskrip menjadi testimoni penting yang berkaitan dengan suatu peristiwa pada masa naskah itu dibuat,” ujarnya.
Ia menjelaskan beberapa tahapan penting dalam pelestarian manuskrip, mulai dari identifikasi asal-usul, pengarang, dan bahasa, kemudian inventarisasi, katalogisasi, digitalisasi, hingga konservasi naskah.
Melalui langkah-langkah tersebut, masyarakat diharapkan dapat lebih mudah mengakses dan memahami nilai sejarah yang terkandung dalam manuskrip kuno.
Kegiatan sosialisasi ini menjadi bentuk komitmen Pemerintah Kabupaten Boyolali dalam menjaga warisan budaya daerah sekaligus memperkuat literasi sejarah masyarakat. Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, komunitas, dan masyarakat dinilai menjadi kunci utama dalam menjaga keberlanjutan manuskrip kuno sebagai sumber ilmu pengetahuan dan identitas budaya bangsa.
Penulis: Ellika Septhea Nanda & Tiara Putri Maharani
Dokumentasi: Rea Cahya Valentina
