Tupani Tulakan, Mentor Tayub Pacitan yang Menggebrak Pelestarian Budaya Jawa

Tupani Tulakan, Mentor Tayub Pacitan yang Menggebrak Pelestarian Budaya Jawa
Tupani Tulakan, Mentor Tayub Pacitan yang Menggebrak Pelestarian Budaya Jawa
SHARE

PRABANGKARANEWS.COM, PACITAN – Suyadi, S.Pd., M.Pd., menjelaskan kepada jurnalis pada Minggu (26/7/2026), bahwa sosok Tupani, seniman asal Desa Bubakan, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan, menjadi salah satu motor penggerak kebangkitan seni tayub di Pacitan. Kiprahnya sebagai pelatih dan mentor tayub dinilai memberikan energi baru bagi pelestarian budaya Jawa, khususnya di kalangan generasi muda.

Tupani dikenal luas oleh masyarakat Pacitan sebagai pelaku seni tayub yang telah menekuni dunia tari sejak usia sekolah dasar. Sejak kecil, ia kerap mengikuti festival tari tingkat kecamatan hingga kabupaten. Menariknya, pada awalnya ia tidak begitu menyukai tayub.

 

Namun, kecintaan ayah dan kakeknya terhadap seni tradisi tersebut secara perlahan menumbuhkan minatnya. Kemampuan menarinya diperoleh secara otodidak melalui kebiasaan mengamati setiap pertunjukan tayub, kemudian menirukan gerakannya hingga menjadi seorang penari yang andal.

Baca Juga  Diaspora Ponorogo Halal Bihalal di Jakarta, Perkuat Sinergi Ekonomi Wilayah Pawitandirogo

Perjalanan karier Tupani dimulai sebagai cucuk lampah dalam berbagai acara pernikahan. Seiring waktu, kecintaannya terhadap dunia tari semakin besar. Ia aktif mengikuti berbagai perlombaan tayub di tingkat desa maupun kecamatan. Pengalaman tersebut menempa kemampuan sekaligus membentuk karakter kepemimpinannya sebagai pelatih seni tradisional.

Menurut Suyadi, perkembangan seni tayub di Kabupaten Pacitan kini menunjukkan tren yang menggembirakan. Hal itu tidak terlepas dari terbentuknya Paguyuban Tayub Pacitan yang dimotori oleh Ketua DPRD Kabupaten Pacitan, Dr. Arif Setia Budi, S.Sos., MPA.

Dalam kepengurusan tersebut, Tupani dipercaya sebagai pelatih yang bertugas membina kemampuan para penari. Momentum Grebeg Tayub Akbar di Pantai Teleng Ria yang diikuti sekitar 4.000 peserta menjadi tonggak penting kebangkitan seni tayub di Pacitan sekaligus membuktikan besarnya antusiasme masyarakat terhadap budaya lokal.

Baca Juga  Pangdam I/BB, Pimpin Rakor Penyelamatan Ekosistem Danau Toba TA 2022

Dedikasi Tupani tidak hanya ditujukan kepada kelompok-kelompok tayub masyarakat. Ia juga aktif melatih anak-anak TK, siswa SMP dan SMA di wilayah Kecamatan Tulakan. Selain itu, kelompok PKK dan Karang Taruna turut mendapatkan pembinaan darinya. Pengabdiannya bahkan telah menjangkau puluhan kelompok tayub di Kabupaten Pacitan maupun Kabupaten Ponorogo.

Dalam setiap proses latihan, Tupani menggandeng Ricky Aditya Pradana, seorang pengendang tayub profesional. Kolaborasi keduanya menghadirkan keselarasan antara irama kendang dan gerak tari sehingga mampu meningkatkan kualitas pertunjukan. Sebagai seniman, Tupani juga dikenal tidak pernah berhenti berdiskusi dan bertukar gagasan dengan sesama pelaku seni demi mengembangkan budaya Jawa. Semangat itu diwujudkan melalui semboyan, “Ngleluri Budaya Jawi, Manunggal Ngupadi Luhuring Budi.”

Baca Juga  Tesla Hentikan Sementara Produksi di Pabrik Jerman Akibat Gangguan Rantai Pasokan di Laut Merah

Ke depan, Tupani berharap terbentuknya paguyuban tayub di setiap kecamatan hingga tingkat desa dapat menjadi motor penggerak berkembangnya seni karawitan dan tayub di Pacitan. Ia juga mengajak pemerintah serta para pemangku kebijakan untuk memberikan dukungan nyata melalui pembinaan berkelanjutan, fasilitasi kegiatan seni, serta penyelenggaraan festival dan lomba tayub secara rutin di tingkat kecamatan maupun kabupaten.

 

Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup hanya mengandalkan para seniman, tetapi memerlukan sinergi seluruh elemen masyarakat agar warisan budaya Jawa tetap hidup dan berkembang di tengah arus modernisasi.