Konsultasi Disertasi Kajian Budaya UNS Bersama Prof. Dr. Andrik Purwasito, DEA
PRABANGKARANEWS.COM| Surakarta – Semangat untuk membimbing mahasiswa Program Doktor Kajian Budaya UNS Surakarta tak kan surut walaupun di tengah pandemi Covid-19. Prof Andrik biasa dipanggil mahasiswa sangat bijaksana dalam konsultasi disertasi Mahasiswa baik yang berada di Surakarta maupun yang berada di luar kota. Untuk yang berada di dalam kota Prof. Andrik mempersilakan mahasiswa datang di padepokan di Ki Ageng Guru di Kab. Karanganyar, dengan protokol kesehatan maksimal 4 mahasiswa untuk bimbingan.
Untuk yang di luar kota Prof Andrik menyediakan fasilitas menggunakan Zoom Metting untuk berjumpa konsultasi dengan mahasiswa luar kota. Untuk konsultasi Desertasi sangat penting bagi Prof. Dr. Andrik Purwasito, DEA, lulusan Universitas terkenal baik dalam negeri maupun luar negeri. Prof Andrik menekankan menulis disertasi; wajib, kontekstual, sangat penting, diperlukan, dan berguna bagi peradaban khususnya bagi merawat ke-Indonesiaan.
“Teori Barat kita gunakan ketika kita membutuhkan peta keilmuwan dan kerangka berpikir untuk satu fokus persoalan,”jelas Prof Andrik.
Prof Andrik lulus Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Polotik, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta (1976-1981), beliau melanjutkan studi S2 dan S3 di Ecole des Hautes Etues en Science Sociales, Paris, Prancis (1989-1992) dalam bidang Sejarah dan Peradaban.
Untuk jenjang S2 dan S3 diajar oleh tokoh-tokoh Postmodernisme dunia seperti, Lyotard, Jean Baudrillard, Roland Barthes, Jacques Derrida. Michael Foucault yang meninggal tahun 1984 hanya bisa menikmati pemikirannya lewat media televisi di Perancis, yang memuat wawancara-wawancara dengan Foucault seputar pemikirannya.
Prof Andrik dalam pertemuan daring, lewat Zoom Metting Jum’at Malam (19/06/2020) mewanti-wanti agar desertasi asli bukan hasil copy paste dari karya orang lain. Pemikirannya filosofis dan dan bukan pemikiran operasionan. Maka cara kita mengaplikasikan teori tersebut dalam disertasi harus hati-hati tidak serta merta tempel menempel. Jangan sampai ijazah dicabut gara-gara karya desertasi hasil dari copy paste atau plagiasi.
Oleh sebab itu untuk tahapan proposal harus dicermati betul. Jangan sampai judulnya dan proposal cukup bagus, namun sangat kesulitan untuk mendapatkan data di lapangan. Hal ini yang akan menghambat desertasi. Lebih baik pada proses awal yang sangat sulit namun untuk selanjutnya berjalan dengan baik.
Prof Andrik Purwasito, mahasiswa yang akan menyusun Desertasi harus tahun state of art dari penelitiannya, kemudian urgensi dari penelitian yang harus bermanfaat untuk merawat ke Indonesiaan seperti yang slogan Program Doktor Kajian Budaya UNS Surakarta, kemudian unsur kebaruan dari penelitian Desertasi. (redaksi/agoeshendriyanto/mahasiswaprogram doktoral kajian budayaUNS)
