Proses Demokrasi di Negeri Dongeng

Proses Demokrasi di Negeri  Dongeng

Oleh: Agoes Hendriyanto

Proses demokrasi di negeri dongeng sudah sejak lama dirancang.  Pembentukan sebuah panitia yang kedepankan independensi seharusnya dikedepankan.  Menempatkan orang-orang yang relevan dan mempunyai kompetensi dan independen dalam menegakkan aturan seharusnya yang di kedepankan.  Hal ini untuk menjaga marwah dari demokrasi tersebut.

Panitia pemilihan yang ditunjuk seharusnya memposisikan dirinya netralitas dari segala kepentingan.  Hal ini untuk menghindari adanya tuduhan perselingkuhan demokrasi yang sedang berjalan.  Aturan ditegakkan dengan membuat aturan main yang fair play.  Sehingga semua pemain akan mendapatkan aturan.  Siapa yang memilih, bagaimana proses pemilihannya, bagaimana cara menentukan pemenangnya.  Semua harus jelas di awal sehingga semua yang berkompetisi akan perlakuan yang sama.  Sehingga akan terpilh seorang juara, tanpa bantuan wasit.

Sebagai contohnya pesta pemilihan di Negeri Dongeng ada uji publik. Dengan mengisi google form.  Hanya formalitas.  Ini kan lucu ? Jika ada data,  kemudian lewat begitu saja.  Tidak berani untuk ambil sikap.  Apalagi waktu untuk menanggapi terhadap  calon hanya dilakukan waktu dekat.  Dan semua tanggapan yang ditulis oleh publik tidak ditanggapi. Untuk apa uji Publik ???? Mau jadi apa ?

“Pansel yang diberikan amanah akan menunggu hari ini Sabtu (20/2/2021) untuk memberikan uji  publik dengan disertai dengan bukti-bukti otentik.  Sebagai contohnya jika ada yang menemukan bukti keempat calon mungkin ada yang merangkap tugas di instansi lain civitas akademika yang memberikan tanggapan harus menyertakan bukti fisik.  Kemudian hari Senin (22/2/2021) panitia akan mengklarifikasi kepada bakal calon yang bersangkutan kebenaran dari tanggapan tersebut, ” tegas Arif dalam sambungan whatsApp seperti dikutip dari Prabangkaranews.com. (1)

“Proses harus berjalan secara fair play sesuai dengan mekanisme yang sudah menjadi kesepakatan Panitia Seleksi.  Hal ini bagus untuk membangun proses demokrasi dan memberikan pembelajaran bagi masyarakat.  Semoga Pansel bisa menjadi wasit yang baik sehingga bisa melahirkan Ketua STKIP PGRI Pacitan yang baik, “ imbuh Agoes Hendriyanto (1)

Fair play jika menemukan kejanggalan harus segera ditindaklanjuti.  Agar proses tidak cacat hukum.  Jika cacat dalam proses maka akan terjadi suatu hal yang tidak baik.  Mungkin itulah sebuah kenyataan bahwa sekarang ini banyak sekali perang kepentingan.  Segala cara dihalalkan dengan menggunakan hal-hal yang terkadang secara akademis seharusnya dihindarkan.  Panitia harus netral, independen dan tidak memihak.  Inilah sebuah kunci yang harus dipegang oleh siapapun yang diberikan amanah untuk menjadi wasit dalam sebuah pesta demokrasi baik tingkat RT, RW sampai tingkat Pusat.

Semoga renungan pagi ini bisa memberikan kita pembelajaran agar nantinya kita jika sewaktu-waktu diberikan amanah menjadi panitia seleksi ataupun panitia demokrasi lainnya bisa menjadi wasit yang jujur, dan independen.

Sumber referensi:

(1) https://prabangkaranews.com/2021/02/20/proses-penjaringan-ketua-stkip-pgri-berlanjut/

Please follow and like us:

redaksiprabangkara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *