Monumen Palagan Tumpak Rinjing: Jejak Perlawanan Rakyat Pacitan dalam Mempertahankan Kemerdekaan (Dana Indonesiana 2025)
PRABANGKARANEWS.COM, OPK-CB PACITAN – Di kawasan perbukitan Desa Dadapan, Kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan, berdiri sebuah monumen yang menyimpan jejak penting perjuangan rakyat pada masa perang kemerdekaan Indonesia. Monumen itu dikenal sebagai Monumen Palagan Tumpak Rinjing, sebuah penanda sejarah yang merekam keberanian masyarakat lokal dalam menghadapi agresi militer Belanda pascakemerdekaan.
Hingga kini, monumen tersebut masih berdiri kokoh sebagai pengingat bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak hanya berlangsung di kota-kota besar, tetapi juga tumbuh di daerah-daerah yang memiliki semangat juang tinggi seperti Pacitan. Dalam konteks pelestarian sejarah lokal, keberadaan Monumen Palagan Tumpak Rinjing dinilai penting untuk dikaji dan diinventarisasi sebagai bagian dari Objek Pemajuan Kebudayaan, bahkan layak diarahkan menjadi salah satu cagar budaya di Kabupaten Pacitan.
Monumen yang dibangun sekitar awal tahun 1980-an itu lahir dari memori kolektif masyarakat mengenai sebuah peristiwa heroik yang terjadi sekitar tahun 1949. Berdasarkan penuturan masyarakat setempat, kisah tersebut bermula dari seorang tahanan Belanda bernama Sahid yang berhasil melarikan diri ke wilayah Pacitan dan menemui tokoh lokal bernama Kadeni.
Sahid memperingatkan masyarakat terkait rencana serangan militer Belanda ke markas Pembela Tanah Air (PETA) di Pacitan. Namun informasi itu tidak segera dipercaya warga karena dianggap sekadar kabar burung. Meski tidak memperoleh dukungan penuh dari masyarakat desa, tekad Sahid untuk melawan penjajah tidak surut.
Dengan perlengkapan dan senjata rakitan seadanya, ia memutuskan menghadang pasukan Belanda. Dalam cerita yang terus diwariskan secara lisan, Sahid disebut berhasil menewaskan sejumlah tentara Belanda dalam penyergapan tersebut sebelum akhirnya gugur dalam pertempuran. Sebelum bertempur, ia bahkan berwasiat agar jenazahnya dibawa ke Yogyakarta apabila dirinya meninggal dunia.
Pasukan Belanda kemudian mengevakuasi jenazah tentaranya yang tewas dan membawanya ke Yogyakarta. Sementara itu, jenazah Sahid dipulangkan secara estafet melintasi puluhan desa menggunakan keranjang atau rinjing. Dari peristiwa inilah muncul sebutan Tumpak Rinjing, yang secara simbolik menggambarkan perjalanan jenazah Sahid yang diangkut menuju Yogyakarta.
Nama tersebut kemudian melekat sebagai identitas kawasan sekaligus menjadi bagian dari sejarah perjuangan rakyat Pacitan. Untuk mengenang peristiwa itu, masyarakat bersama pemerintah membangun Monumen Palagan Tumpak Rinjing pada tahun 1980.
Kini, usia monumen tersebut mendekati setengah abad. Dalam perspektif pelestarian budaya, keberadaannya menjadi penting untuk mendapat perhatian lebih serius sebagai warisan sejarah daerah. Selain memiliki nilai historis, monumen ini juga menyimpan nilai edukatif, sosial, dan nasionalisme yang kuat.
Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, Palagan Tumpak Rinjing menjadi simbol keberanian masyarakat lokal yang tetap bertahan meski memiliki keterbatasan persenjataan dan perlengkapan perang. Semangat juang yang tumbuh di tengah masyarakat menunjukkan bahwa nasionalisme tidak hanya lahir dari pusat kekuasaan, tetapi juga tumbuh dari desa-desa dan komunitas kecil yang mempertahankan kemerdekaan dengan pengorbanan besar.
Saat ini, Monumen Palagan Tumpak Rinjing tidak hanya menjadi situs sejarah, tetapi juga ruang edukasi bagi generasi muda. Banyak pelajar dan wisatawan datang untuk mempelajari sejarah perjuangan rakyat Pacitan sekaligus mengenal tokoh-tokoh lokal yang selama ini jarang tercatat dalam sejarah nasional.
Salah satu pengunjung, Sangkur (21), mengaku terkesan setelah mengunjungi lokasi tersebut.
“Saya merasa bangga bisa datang ke sini karena ternyata Pacitan memiliki sejarah perjuangan yang luar biasa. Tempat ini harus terus dijaga agar generasi muda tidak melupakan jasa para pahlawan,” ujarnya.
Dalam kerangka kajian dan revitalisasi Objek Pemajuan Kebudayaan Pacitan, Monumen Palagan Tumpak Rinjing memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai ruang literasi sejarah dan wisata edukasi. Tidak hanya sebagai monumen fisik, tetapi juga sebagai media pengingat tentang nilai keberanian, pengorbanan, dan cinta tanah air yang diwariskan para pejuang lokal.
Pelestarian monumen ini tidak cukup hanya dengan menjaga bangunan tetap berdiri, tetapi juga melalui penguatan narasi sejarahnya kepada masyarakat luas. Tradisi tutur, dokumentasi sejarah lokal, penelitian akademik, hingga pengembangan wisata sejarah menjadi langkah penting agar memori kolektif tentang perjuangan rakyat Pacitan tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Pada akhirnya, Monumen Palagan Tumpak Rinjing bukan sekadar bangunan peringatan. Ia adalah penanda bahwa kemerdekaan Indonesia juga diperjuangkan dari desa-desa kecil, oleh orang-orang sederhana, dengan keberanian yang luar biasa.
Penulis: Mohamad Nofean F, Agoes Hendriyanto
