Suka Cita Petani Pindul, Pacitan; Sambut Musim Tanam Padi Gogo

Suka Cita Petani Pindul, Pacitan;  Sambut Musim Tanam Padi Gogo
SHARE

Pacitan,- Sawah tadah hujan merupakan lahan yang memiliki pematang namun tidak dapat mengalirkan air dengan ketinggian maupun dalam waktu tertentu secara kontinyu, usaha pertanian ini memanfaatkan hujan sepenuhnya sebagai sumber air.   Masyarakat Dusun Pindul, Desa Pringkuku, Kacamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur menyambut musim hujan dengan suka cita disebabkan mulai menanam padi Gogo di sawah tadah hujan.

Hanya sedikit warga yang mempunyai sawah dengan air yang melimpah.  Sehingga jika terjadi musim kemarau pemilik sawah tadah hujan ataupun sawah irigasi banyak beralih yang mulanya menanam padi menjadi menanam tanaman palawija jagung, kedelai, kacang tanah,” kata Kepala Dusun Pindul Tutik, Selasa (2/11/2021).

Pengairan lahan sawah  tadah hujan sangat ditentukan oleh curah hujan sehingga risiko kekeringan sering terjadi di dusun ini pada musim kemarau.

Masyarakat di Dusun Pindul mempunyai sawah tadah hujan yang tidak sedikit wilayahnya dikelilingi  pengunungan dan tidak jauh dari pemukiman penduduk. Hujan yang mengguyur pada  awal bulan Oktober intensitasnya belum tinggi, akibatnya masyarakat belum menanam padi di  awal bulan Nopember ini.

Baca Juga  Siaga Anggaran Untuk Penanggulangan Bencana

Sawah tadah hujan ini umumnya hanya dipanen setahun sekali.  “Masyarakat di dusun kami ini mayoritas petani. Warga biasanya mempunyai sawah beririgasi  dan sawah tadah hujan.

Tanaman padi menjadi tanaman semusim yang tidak memerlukan air terlalu banyak dan menggenang sepanjang musim. Air dibutuhkan tanaman padi pada waktu-waktu tertentu seperti saat awal pertumbuhan, saat pembentukan bibit padi, saat pembentukan bulir padi, dan saat padi mulai berisi. Tingginya konsumsi masyarakat pada beras mendorong petani bekerja keras dengan menghasilkan padi berkualitas sesuai dengan permintaan pasar yang berpengaruh terhadapproduksi padi.

“Menjelang akhir bulan oktober petani disini baru memulai untuk menanam padi. Karena curah hujan yang lumayan tinggi lahan cukup lembab sehingga petani memanfaatkannya untuk segera menanam padi.

Persiapan lahan yang dilakukan para petani biasanya sebelum hujan mulai turun,” ujar Suparni (49), salah satu petani sawah tadah hujan Dusun Pindul, Desa Pringkuku, Kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan.

Baca Juga  Sinergi dengan Media, Kepala Kejaksaan Negeri Pulang Pisau Terima Piagam dari PPWI Pusat

Di sawah tadah hujan penggunaan tenaga lebih tinggi karena petani harus menyulam (menanam kembali) lebih sering dibandingkan sawah beririgasi, akibat suplai air yang tidak stabil.

Penggunaan pupuk di sawah perlu pula diperhatikan karena akan mempengaruhi tanah maupun tanaman padi yang akan ditanam. Bibit padi biasanya juga melalui pemilihan terlebih dahulu sehingga cocok dengan kondisi dan menghasilkan padi yang unggul.

“Proses penanaman padi di sawah tadah hujan lumayan susah. Sekitar dua minggu sebelumnya lahan dibersihkan terlebih dahulu dengan menyemprotkan cairan penghilang rumput agar rumput liar yang tumbuh dengan subur bisa bersih dan petani dapat mencangkul sawahnya supaya tanah rata dengan membuat tanggul (pematang) dipinggir lahan.

Setelah dilakukan pembersihan petani menyebar pupuk kandang di sawah, selanjutnya menanti hujan turun agar bisa menanam padi.
Petani sawah tadah hujan memakai sistem tonjo dalam menanam padi. Jarak antar lubang untuk penanaman padi sekitar 15 cm yang didalamnya diisi 4-5 biji padi,” ujar Suyatni (43), petaniDusun Pindul, Desa Pringkuku, Kecamatan Pringkuku.

Baca Juga  Presiden Joko Widodo, Berikan Apresiasi Peresmian Brand Ekonomi Syariah

Petani yang menggunakan sistem tonjo umumnya menggunakan alat berupa kayu yang tajam di bagian bawahnya, orang menyebutnya taju berguna untuk membuat lubang pada tanah. Lubanglubang tersebut nantinya akan diisi dengan biji-biji padi kemudian ditutup dengan tanah atau orang banyak menyebutnya dengan diripu.

Metode tonjo kemudian ripu ini yang selalu digunakan petani sawah tadah hujan di Dusun Pindul.Perawatan tanaman padi di sawah tadah hujan dilakukan katika padi berumur sekitar 20 hari dengan pembersihan rumput dan pemberian pupuk orea. Sistem penyebaran benih dengan cara tonjo semakin banyak digunakan oleh petani dalam menyebar benih pada awal musim hujan.

Tidak sedikit petani yang menganggap metode ini lebih efisien dibanding dengan cara disebarkan melalui satu kotak khusus media lahan kecil dengan aliran air yang banyak. Panen padi di sawah tadah hujan bisa dilakukan setelah 3 bulan terutama tergantung ketika padi
menguning. (SILVI AULIA PUTRI LAILYANA/PBSI STKIP PGRI Pacitan)