Dukungan Aktivis Hingga Peneliti kepada Rizal Ramli Soal Presidential Threshold Nol Persen

Dukungan Aktivis Hingga Peneliti kepada Rizal Ramli  Soal Presidential Threshold Nol Persen
SHARE

Para analis, aktivis, akademisi hingga peneliti mengungkap banyak kalangan mendukung dan memuji sikap, moralitas serta keberanian Rizal Ramli yang dengan tegas menyatakan ambang batas pencalonan pemimpin, termasuk presiden atau ‘presidential threshold’ (PT) harus Nol persen, agar semua anak bangsa yang hebat bisa maju menjadi pemimpin bangsa.

“Kalau PT Nol persen, mereka dari Sabang sampai Merauke bisa maju tanpa harus takut karena bisa pangkas biaya tinggi demokrasi,” kata Rizal Ramli.

Para analis mencatat sejauh ini ada nama Puan Maharani, Rizal Ramli, Prabowo Subianto, Anies Baswedan, Ridwan Kamil, Gatot Nurmantyo, Khofifah Indar Parawansa, Ganjar Pranowo, AHY dan seterusnya muncul di kalangan publik. Belum lagi di beberapa daerah banyak kader bangsa potensial yang terbaik untuk jadi pemimpin jika PT nol persen.

Baca Juga  Sebaran Kelompok Umur Terkonfirmasi Covid-19 per 2 Mei 2020

Aktivis kemanusiaan dari Papua, Agustinus mengatakan penegasan Rizal Ramli  itu membuktikan bahwa RR aktivis pejuang yang total pro-rakyat, damai, obyektif dan anti-kekerasan, seorang humanis yang amanah dan emoh oligarki.

“RR milik semua anak bangsa dari Aceh sampai Papua, kami dari Papua pun mampu memimpin,” kata Agustinus.

Sementara itu Akademisi Universitas Paramadina Dr Herdi Sahrasad dan Analis Politik DR Jerry Massie menilai Rizal Ramli memang tokoh bangsa dan negarawan yang komit, fair, transparan dan perduli.

“Dia mencintai anak bangsa dari semua golongan, agama dan suku/etnis/ras demi NKRI. Anak-anak muda/masyarakat Aceh sampai Papua pun sangat respek dan percaya padanya untuk berdialog dan berkeluh kesah,” ujar Herdi.

Baca Juga  Mabes Polri Kerahkan Tim TAA Usut Kecelakaan Beruntun di Balikpapan

“RR memadukan spirit Bung Karno, Bung Hatta dan Gus Dur dalam dirinya untuk membangun kembali Indonesia dari keruntuhan akibat krisis ekonmi dan pandemic.”

Kemudian, ada Peneliti CSRC UIN Syarif Hidayatullah Muhamad Nabil MA yang sebut bahwa Rizal Ramli selalu mengatakan negara RI ini sangat kaya, tapi rakyatnya kok miskin karena krisi kepemimpinan.

“Kenapa? Karena kita krisis kepemimpinan, karena tidak ada pemimpin yang amanah dan kompeten, tak ada pemimpin yang kredibel dan total bekerja untuk memajukan rakyat,” kata Nabil mengutip omongan Rizal Ramli.

“Sebab, mau jadi bupati, walikota atau gubernur sekarang kan para kandidat harus bayar ke parpol Rp100-300 miliar, kan merusak jiwa dan sistem kita dari Aceh sampai Papua. Yang pokok bahwa PT Nol persen, dan para calon pemimpin di-endorse sama partai, dan jika itu terjadi, kualitas kepemimpinan kita naik di semua level dari Aceh sampai Papua,” lanjut Nabil.
Disisi lain, kata Rizal Ramli, ada 22 gubernur masuk penjara karena korupsi. Sementara bupati dan walikota masuk penjara hampir 125 orang. Artinya yang rusak adalah sistemnya karena sudah jadi demokrasi kriminal.
“Kalau cuma 1-5 oke lah itu individu, kalau 22 dari 34 gubernur masuk karena korupsi itu berarti sistem bandar ini tidak beres,” pungkas Rizal Ramli.

SHARE
prabangkara