Duwi Susanti, “Krecek Telo Sudimoro” Makanan Lokal Perlu Kreatifitas dalam Pemasaran
Oleh: Duwi Susanti
Desa Karangmulyo merupakan sebuah desa yang terletak di Kecamatan Sudimoro, Kabupaten Pacitan. Di desa ini mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani. Banyak hasil pertanian yang ada di desa Karangmulyo ini, salah satunya yaitu ketela pohon. Ketela pohon tinggi kalium dan vitamin C. Kemudian juga mengandung vitamin A, vitamin B (kecuali B12), zat besi, magnesium, selenium, dan kalsium.
Jika dibandingkan dengan gandum, ketela pohon memiliki kandungan serat 16 kali lebih banyak dan kadar gulanya pun rendah. Selain itu ketela pohon juga memiliki beberapa manfaat diantaranya dapat melancarkan pencernaan, mencegah penyakit diabetes, mencegah terjadinya kanker dan masih banyak lagi. Begitu banyak kandungan dan manfaat yang di dapat dari ketela pohon. Di desa Karangmulyo ketela pohon tak hanya jadi sumber makanan sehari-hari tetapi juga di produksi menjadi cemilan.
Salah satu UMKM yang ada di Dusun Krajan Desa Karangmulyo memproduksi ketela pohon menjadi rengginang atau yang biasa di sebut “krecek telo”. Proses produksi masih di lakukan secara manual tanpa bantuan alat. Tak hanya proses produksi, tapi dalam pengemasan pun masih sangat sederhana. Dalam kemasan pun tidak ada label nama atau merk dari produk tersebut. Untuk pemasaran produk ini biasanya dititipkan di toko-toko terdekat. Biasanya setiap hari terus melakukan proses produksi akan tetapi dengan jumlah yang tidak banyak.
Hal ini di sebabkan kurangnya minat masyarakat terhadap produk ini. Masyarakat cenderung lebih tertarik dengan makanan hasil produksi pabrik. Persaingan pasar pun tak dapat di hindari dan cukup sulit bagi pelaku usaha buatan rumahan atau homemade. Kebanyakan masyarakat lebih penasaran dan tertarik pada hasil produksi pabrik daripada produk buatan rumahan yang justru cenderung mengandung lebih banyak manfaat.
Dalam ekonomi, persaingan atau kompetisi adalah bersaingnya para penjual yang sama-sama berusaha mendapatkan keuntungan, pangsa pasar, dan jumlah penjualan. Para penjual biasanya berusaha mengungguli persaingan dengan membedakan harga, produk, distribusi dan promosi.
Menurut Adam Smith dalam The Wealth of Nations (1776), persaingan akan mendorong alokasi faktor produksi ke arah penggunaan yang paling bernilai tinggi dan efisien (Safar Uddin, 2022).
Memang tidak dapat dipungkiri adanya persaingan pasar memang menjadi hal yang wajar. Apalagi dalam dunia bisnis atau usaha itu sudah menjadi hal yang sering terjadi dan tentunya tidak asing lagi.
Persaingan produk rumahan dan produk pabrik memang sangat ketat. Padahal produk rengginang ketela ini menjadi salah satu peluang untuk petani ketela di desa Karangmulyo khususnya dan petani-petani ketela dari daerah lain yang bisa menjual hasil pertaniannya ke pengusaha rengginang ketela yang ada di sini. Akan tetapi rengginang ketela ini peminatnya masih terbilang sedikit, mungkin salah satunya karena kurang promosi atau pengenalan dari produk itu sendiri. Selain itu dari kemasan pun dirasa masih kurang menarik” ungkap ketua RT setempat.
Seperti yang di ungkapkan ketua RT setempat bahwa usaha ini diharapkan dapat memberikan peluang serta kesejahteraan bagi petani ketela. Dengan adanya usaha ini para petani ketela dengan mudah dapat menjual hasil pertaniannya tanpa harus susah payah lagi. Selain menguntungkan bagi petani ketela, usaha ini juga dapat memberikan lapangan pekerjaan untuk orang lain. Semakin lancarnya sebuah usaha tentu akan membutuhkan banyak karyawan juga.
Masyarakat sebagai konsumen memang memiliki pengaruh yang sangat tinggi pada produk yang di pasarkan. Memiliki kekurangan sedikit saja masyarakat akan langsung beralih ke produk yang lain. Memang tak mudah membangun usaha dengan konsistensi yang baik, terutama harus terus memperhatikan kualitas dan pelayanan.
Adanya persaingan pasar menuntut usaha rengginang ini untuk membuat sebuah inovasi supaya memiliki ciri khas yang tidak di miliki oleh produk lain. Selain inovasi juga di butuhkan suatu kreativitas untuk membuat rengginang ketela yang menarik dan membuat masyarakat menyukai produk ini.
Kreativitas dan inovasi ini menjadi salah satu solusi untuk menghadapi persaingan pasar dengan produk pabrik. Inovasi bisa dilakukan dengan cara membuat rengginang ketela dengan berbagai macam varian rasa misalnya dibuat menjadi rasa manis ini bisa dicampur atau ditambah dengan gula merah.
Selain varian rasa bisa juga ditambah pewarna alami misalnya untuk warna hijau menggunakan daun pandan atau daun suji, warna merah menggunakan buah naga dan masih banyak lagi. Inilah yang akan menjadi salah satu pembeda produk buatan rumahan dengan produk pabrik dimana produk rumahan bebas dari bahan pengawet dan pemanis buatan.
Kemudian produk dikemas dengan wadah yang menarik. Kemasan tidak hanya terpaku pada plastik saja namun bisa menggunakan kemasan yang lebih unik dan ramah lingkungan contohnya menggunakan kotak dari anyaman bambu. Memanfaatkan bahan yang ramah lingkungan justru akan menjadi nilai plus dari produk tersebut sekaligus bisa mengurangi sampah plastik. Setelah inovasi pada kemasan, solusi selanjutnya yaitu membuat nama produk yang singkat dan mudah diingat.
Membuat nama produk tidak harus panjang, bahkan dapat menggunakan istilah-istilah yang sedang trend. Setelah adanya inovasi dari rasa, kemasan dan nama produk adanya promosi juga menjadi hal yang penting. Untuk pengenalan produk bisa dilakukan melalui sosial media. Apabila masih ada pelaku usaha yang belum mahir dalam menguasai teknologi terutama gadget, disinilah peran pemuda dibutuhkan. Para pemuda yang paham teknologi dapat mengajari para pelaku usaha bagaimana cara memposting produknya di sosial media.
Begitu banyaknya hasil pertanian yang ada di Desa Karangmulyo yang dapat dimanfaatkan menjadi sebuah produk makanan. Salah satunya adalah ketela pohon yang diolah menjadi rengginang ketela. Begitu banyak kandungan dan manfaat yang di dapat dari ketela pohon, diantaranya mengandung banyak vitamin, selenium, kalsium, zat besi dan masih banyak kandungan lainnya dan untuk salah satu manfaatnya yaitu dapat mencegah penyakit gula darah (diabetes).
Selain itu, produk rengginang ini juga tidak mengandung bahan pengawet dan pemanis ataupun pewarna buatan. Akan tetapi ketertarikan masyarakat pada produk ini masih sangat rendah, hal ini di sebabkan karena adanya persaingan dengan produk pabrik yang lebih banyak diminati masyarakat.
Dalam ekonomi, persaingan atau kompetisi adalah bersaingnya para penjual yang sama-sama berusaha mendapatkan keuntungan, pangsa pasar, dan jumlah penjualan. Memang tidak dapat dipungkiri adanya persaingan pasar memang menjadi hal yang wajar. Tentu memang tak mudah membangun usaha dengan konsistensi yang baik, terutama harus terus memperhatikan kualitas dan pelayanan.
Perlu adanya kreativitas dan inovasi yang bisa dituangkan pada produk ini supaya tetap bisa bersaing dengan produk pabrik. Usaha ini patut untuk di angkat dan di kembangkan supaya produk rumahan ini juga dapat di kenal oleh masyarakat luas. Selain itu usaha ini juga bisa menjadi lapangan pekerjaan bagi masyarakat khususnya di Desa Karangmulyo dan dapat meningkatkan kesehatan bagi petani ketela
