Pendapat Jerry Masie, Memposisikan Watimpres di Samping Presiden Bukan di Belakang
PRABANGKARANEWS.COM || JAKARTA – Diplomasi terkait keamanan dan kondisi bangsa tidak lepas dari keruhnya suasana politik saat ini.
Wacana 3 Periode dan perpanjangan masa jabatan hanya sampiran atau jembatan untuk merduksi kekuatan Presiden Jokowi yang begitu ‘absolute’.
Terlepas dari itu, kekuasaan eksekutif yang akan ditinggalkan Presiden Jokowi pada 2024 mendatang, menarik banyak pihak untuk berebut mencari peluang. Dengan cara memainkan narasi hingga memantik gerakan masa. Salah satunya aksi 11 April BEM nanti.
Di luar konteks itu, ada kerentanan dan gap yang mulai lebar dari sisi komunikasi dengan mahasiswa, masyarakat, dan kelompok-kelompok kritis saat ini. Presiden Jokowi asik dengan dunianya dan hanya mendengar pembisik dari satu sisi. Ini yang saya amati,” kata Direktur Political and Public Policy Studies (P3S) Jerry Massie kepada Prabangkaranews.com.
Pada kondisi demikan, sambung Jerry, muncul kesempatan yang dapat dimainkan oleh partai politik, termasuk individu yang coba-coba mendegradasi kekuatan Presiden Jokowi.
”Soal ada musuh di luar itu biasa. Musuh di dalam juga biasa. Tidak ada teman sejati meski satu meja makan dalam politik. Ini yang harusnya Jokowi sadar. Pembisiknya itu lho, bikin gak tahan,” tuturnya.
Melihat agenda 11 April yang dibawa oleh BEM seluruh Indonesia, publik dipertontonkan dengan kehadiran Watimpres Wiranto. Menurut Jerry Massie ini sedikit terlambat.
“Harusnya Wiranto dilibatkan dalam keputusan-keputusan strategis. Memang saya nilai Wiranto jarang dilibatkan, hanya suasana genting saja beliau muncul. Ini tidak baik, peran Watimpres itu ada di samping Presiden bukan di belakang,” imbuhnya.
Presiden Jokowi, lanjut dia, jarang melibatkan Wantipimres. Terkesan hanya mau mendengar apa yang dikatakan satu dua orang saja di jajaran Kabinet Indonesia Maju.
“Kita tahulah siapa mereka. Salah satunya Luhut Binsar Pandjaitan, yang sebetulnya mendegradasi citra Presiden Jokowi. Bahasa kasarnya mau membawa ke jurang,” tandas Jerry.
Wiranto, sambung dia, sosok yang memiliki pengalaman lengkap. Ia cukup paham dengan kondisi bangsa.
”Ingat beliau pernah menjadi Panglima TNI lho. Saat-saat genting 98 era Soeharto dia punya peran di situ,” imbuhnya..
Mahasiswa sampai kaum buruh bahkan kelompok marjinal sudah terlanjur ‘sakit hati’ dengan perlakuan selama ini. ”Ini akibat para pembantu presiden tak peka dengan keinginan dan kebutuhan publik,” kata dia.
Jadi, demo tanggal 11 ini bisa berdampak buruk baik ekonomi dan keamanan negara.
”Saya kira ini akan menggangu kegiatan-kegiatan internasional seperti G20 di Bali. Tapi di luar itu, saya salut dengan tindakan dan gaya komunikasi Jenderal (Purn) Wiranto, dia lebih ke touching heart bahasa permohonan yang keluar dari hati nurani bukan bahasa politis,” pungkas Jerry. (*)
