Agoes Hendriyanto, Hakikat Kalimat dan Jenis-jenisnya
Oleh: Agoes Hendriyanto
Hakikat Kalimat
Pengertian Kalimat
Bahasa terdiri atas dua lapisan, yaitu lapisan bentuk dan lapisan makna yang dinyatakan oleh lapisan bentuk tersebut. Bentuk bahasa terdiri atas satuan-satuan yang dapat dibedakan menjadi dua satuan, yaitu satuan fonologi dan satuan gramatikal. Satuan fonologi meliputi fonem dan suku, sedangkan satuan gramatikal meliputi wacana, kalimat, klausa, frase, dan morfem.
Kalimat biasanya didefinisikan sebagai susunan kata-kata yang memiliki pengertian yang lengkap. Artinya, di dalam kalimat itu ada unsur subjek (S), yakni unsur yang dibicarakan. Ada unsur predikat (P), yakni unsur yang menyatakan apa yang dilakukan oleh unsur S atau apa yang dialami oleh unsur S itu. Mungkin ada unsur objek (O), yakni unsur sasaran dari tindakan yang dilakukan oleh unsur S. Lalu mungkin juga ada unsur keterangan (K), yakni unsur yang menerangkan tentang waktu, tempat, cara, dan sebagainya (Chaer, 2010: 36).
Kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan, yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Dalam wujud lisan, kalimat diucapkan dengan suara naik turun dan keras lembut, disela jeda, dan diakhiri dengan intonasi akhir yang diikuti oleh kesenyapan yang mencegah terjadinya perpaduan ataupun asimilasi bunyi ataupun proses fonologis lainnya. Dalam wujud tulisan berhuruf Latin, kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik (.), tanda tanya (?), atau tanda seru (!). Sementara itu, di dalamnya disertakan pula berbagai tanda baca seperti koma (,), titik dua (:), tanda pisah (-), dan spasi.
Tanda titik, tanda tanya, dan tanda seru sepadan dengan intonasi akhir, sedangkan tanda baca lain sepadan dengan jeda. Spasi yang mengikuti tanda titik, tanda tanya, dan tanda seru melambangkan kesenyapan. (Alwi, dkk. 2003: 311). Sedangkan menurut Putrayasa (2008: 20), kalimat adalah satuan gramatikal yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir naik atau turun.
Dari beberapa pendapat pakar di atas, penulis mengacu pada pendapat Alwi dkk., dalam buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia yang mengemukakan bahwa kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan, yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Menurut penulis pendapat Alwi dkk. Sangat lengkap dan jelas. Hal itu karena Alwi dkk. memberikan batasan dari segi lisan dan tulisan serta mengungkapkan cara penulisan sebuah kalimat.
Ciri-ciri kalimat
Berikut ini adalah ciri-ciri kalimat:
- Pada bahasa lisan diawali dengan kesenyapan serta diakhiri dengan kesenyapan
- Pada bahasa tulis diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan titik(.), tanda Tanya (?), serta tanda seru(!).
Hubungan fungsi unsur-unsur dalam kalimat
Kalimat terdiri atas beberapa unsur yang membentuknya. Berikut akan dijelaskan mengenai unsur-unsur kalimat menurut Alwi (2003: 326), Widjono (2011: 148), dan Mulyono (2012: 47).
Subjek
Subjek atau pokok kalimat merupakan unsur utama kalimat. Subjek menentukan kejelasan makna kalimat. Penempatan subjek yang tidak tepat dapat mengaburkan makna kalimat. Keberadaan subjek dalam kalimat berfungsi (1) membentuk kalimat dasar, kalimat luas, kalimat tunggal, kalimat majemuk, (2) memperjelas makna, (3) menjadi pokok pikiran, (4) menegaskan/memfokuskan makna, (5) memperjelas pikiran ungkapan, dan (6) membentuk kesatuan pikiran (Widjono, 2011: 148).
Predikat
Seperti halnya dengan subjek, predikat kalimat kebanyakan muncul secara eksplisit. Keberadaan predikat dalam kalimat berfungsi (1) membentuk kalimat dasar, kalimat tunggal, kalimat luas, kalimat majemuk, (2) menjadi unsur penjelas, yaitu memperjelas pikiran atau gagasan yang diungkapkan dan menentukan kejelasan makna kalimat, (3) menegaskan makna, (4) membentuk kesatuan pikiran, dan (5) sebagai sebutan (Widjono, 2011: 148).
Objek
Kehadiran objek dalam kalimat bergantung pada jenis predikat kalimat serta ciri khas objek itu sendiri. Predikat kalimat yang berstatus transitif mempunyai objek. Biasanya, predikat ini berupa kata kerja berkonfiks me-kan, atau me-i, misalnya mengambilkan, mengumpulkan, mengambili, melempari, mendekati. Dalam kalimat, objek berfungsi (1) membentuk kalimat dasar pada kalimat berpredikat transitif, (2) memperjelas makna kalimat, dan (3) membentuk kesatuan atau kelengkapan pikiran (Widjono, 2011: 149).
Pelengkap
Pelengkap adalah unsur kalimat yang berfungsi melengkapi informasi, mengkhususkan objek, dan melengkapi struktur kalimat (Widjono, 2011: 150).
Keterangan
Keterangan kalimat berfungsi menjelaskan atau melengkapi informasi pesanpesan kalimat. Tanpa keterangan, informasi menjadi tidak jelas. Hal ini dapat dirasakan kehadirannya terutama dalam surat undangan, laporan penelitian, dan informasi yang terkait dengan tempat, waktu, sebab, dan lain-lain (Widjono, 2011:150)
Konjungsi
Menurut Widjono, konjungsi adalah bagian kalimat yang berfungsi menghubungkan (merangkai) unsur-unsur kalimat dalam sebuah kalimat (yaitu subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan), sebuah kalimat dengan kalimat lain, dan sebuah paragraf dengan paragraf lain.
Modalitas
Menurut Widjono, modalitas dalam sebuah kalimat sering disebut keterangan predikat. Modalitas dapat mengubah keseluruhan makna sebuah kalimat. Dengan modalitas tertentu makna kalimat dapat berubah menjadi sebuah pernyataan yang tegas, ragu, lembut, pasti, dan sebagainya
Kalimat Aktif Minimal Terdiri Dari Subyek Dan Juga Predikat
- Predikat transitif disertai dengan objek, predikat intransitive bisa disertai dengan pelengkap.
- Mengandung anggapan yang lengkap.
- Menggunakan urutan yang logis di setiap kata maupun kelompok kata yang dimana mendukung fungsi (SPOK) dan disusun ke dalam satuan sesuai dengan fungsinya.
- Mengandung: satuan makna, ide, atas pesan yang jelas.
- Dalam paragraf yang terdiri dari dua kalimat atau lebih, kalimat-kalimat tersebut disusun ke dalam satuan makna pikiran yang saling berkaitan. Hubungan dijalin melalui konjungsi, pronominal/kata ganti, repetisi/struktur sejajar.
- Kalimat terhubung dari berbagai unsur-unsur pembentuknya, meliputi subjek, predikat, objek, pelengkap, keterangan, konjungsi, modalitas. Kesemuanya saling terkait dan mengandung pikiran yang utuh.
Sebelum mengenal lebih jauh mengenai kalimat aktif dan kalimat pasif dalam tata bahasa Indonesia, apa pengertian dari keduanya? Kalimat aktif dapat diartikan sebagai kalimat yang subjeknya melakukan aktivitas atau tindakan dan menggunakan kata kerja tertentu dalam aktivitas atau tindaknnya tersebut. Kalimat ini sangat mudah untuk dipahami karena sebagian besar dapat ditemukan dalam teks bacaan yang sehari-hari dinikmati.
Keberadaannya sangat berguna mengingat kalimat ini dapat menyampaikan pesan atau informasi dengan lebih jelas dan lebih tepat kepada penerimanya. Disebut sebagai kalimat aktif karena subjek dalam kalimat ini hanya dapat melakukan sesuatu terhadap objek karena adanya sebuah perantara.
Kalimat aktif berfungsi untuk memberikan penjelasan mengenai aktivitas atau tindakan yang dilakukan oleh seseorang baik sedang atau telah melakukan sesuatu. Keberadaan subjek, predikat, dan biasanya ditambahkan dengan keterangan menjadi hal yang ditekankan dalam penggunaannya dalam percakapan atau dalam tulisan. Kalimat ini perlu dimaksimalkan dalam penggunaannya terutama bagi yang sedang belajar atau mendalami bahasa Indonesia, baik itu penulisan atau penyampaiannya.
Sedangkan kalimat pasif merupakan kalimat yang subjeknya mendapatkan perlakuan, tindakan, atau pemberian kata kerja tertentu dalam aktivitas atau tindakannya. Dengan kata lain, kalimat pasif menunjukkan bahwa subjek merupakan bagian yang menjadi tujuan dari adanya suatu tindakan yang sedang atau telah dilakukan. Dalam struktur kalimat pasif, maka subjek menjadi bagian yang dikenakan suatu tindakan atau aktivitas. Subjek dalam kalimat pasif tidak berposisi sebagai pelaku, melainkan peran pelaku dipegang oleh objek.
Pada dasarnya, kedua kalimat bertolak belakang dalam penggunaannya. Namun, keduanya memiliki hubungan dimana kalimat aktif dapat diubah menjadi kalimat pasif dan sebaliknya. Sebuah kalimat pasif juga dapat diubah menjadi kalimat pasif. Baik kalimat aktif dan kalimat pasif, keduanya sama-sama saling terhubung satu sama lain.
Ciri-ciri Kalimat Aktif dan Kalimat Pasif
Kalimat aktif dan kalimat pasif memiliki ciri-ciri yang berbeda untuk beberapa penggunaannya secara tulisan atau lisan. Ciri-ciri kalimat aktif yaitu sebagai berikut.
- Imbuhan Me- atau Ber- pada Predikat
Imbuhan me- atau ber- dalam kalimat aktif memiliki peranan yang penting karena dapat membedakannya dengan kalimat yang lainnya termasuk kalimat pasif. Imbuhan ini terletak pada predikat kalimat yang menjelaskan atau menerangkan suatu tindakan yang dilakukan oleh subjek. Predikat dalam kalimat aktif merupakan kata kerja yang menunjukkan suatu aktivitas yang dilakukan oleh subjek. Adanya imbuhan membuat predikat berubah menjadi kata kerja aus. Maksud dari kata kerja aus adalah kata yang tidak memerlukan imbuhan karena jika diberi imbuhan maka akan menjadi ambigu dan maknanya tidak ada.
Imbuhan pada predikat juga membuat kalimat yang akan disampaikan akan menjadi tidak jelas dan tidak sesuai dengan tujuan yang akan disampaikan. Beberapa kata kerja diantaranya yaitu makan, tidur, mandi, pulang, dan sebagainya. Kata-kata tersebut jika diberi imbuhan, maka maknanya akan berbeda sangat jauh. Apabila menemukan kata aus dalam sebuah kalimat atau dalam rangkaian kalimat, hampir bisa dipastikan itu merupakan kalimat aktif.
- Subjek Melakukan Tindakan Secara Langsung
Kalimat aktif menunjukkan bahwa subjek sedang atau telah melakukan tindakan langsung yang memberikan kemudahan bagi pembaca karena dapat memahami maksud dari penulis. Dengan hal tersebut, makna yang terkadang dalam tulisan penulis dapat lebih sempurna disampaikan kepada penerima sehingga dapat mengurangi perbedaan persepsi.
- Memiliki Pola SPOK (Subjek-Predikat-Objek-Keterangan) atau SPK (Subjek-Predikat-Keterangan)
Pola subjek diikuti predikat dan objek ditambah dengan keterangan mungkin tidak asing untuk dikenal karena materi ini dipelajari dalam bahasa Indonesia. Dalam menulis atau menyampaikan kalimat aktif, tata urutan pola tersebut harus diikuti agar dapat memberikan informasi yang jelas dan benar. Kalimat aktif dapat berupa SPOK atau juga berupa SPK, tergantung bagaimana cara penulis atau penyampaian ingin menyampaikan dalam kalimat tertentu.
Beberapa hal yang harus diperhatikan ketika mengidentifikasi keberadaan kalimat pasif yaitu sebagai berikut:
- Imbuhan ter-, di-, ter- an, ter- ke- an pada Predikat
Kata imbuhan dalam kalimat pasif menunjukkan subjek dalam kalimat tersebut berperan sebagai pihak yang dikenai pekerjaan atau berperan sebagai korban. Jika imbuhan di atas dalam predikat ditemui pada suatu kalimat, maka kalimat tersebut termasuk dalam kalimat pasif.
- Subjek Tidak Melakukan Tindakan Secara Langsung
Jika dalam kalimat aktif subjek merupakan pihak yang melakukan tindakan secara langsung, lain halnya dengan kalimat pasif. Di dalam kalimat ini, subjeknya berubah menjadi pihak yang dikenakan suatu tindakan. Posisi subjek dalam kalimat pasif merupakan objek dalam kalimat aktif dan sebaliknya.
- Memiliki Kata Ganti yang Dapat Menunjukkan Suatu Kepunyaan
Kata ganti yang menunjukkan kepunyaan baik itu orang pertama, kedua, atau ketiga disebut dengan pronomina persona. Dalam pembentukan suatu kalimat, pronomina persona bisa bergabung dengan subjek atau objek dan predikat dengan objek. Apabila pronomina persona bergabung dengan predikat dan objek, maka bisa dipastikan kalimat tersebut termasuk dalam kalimat pasif. Selain itu, pada bagian objek biasanya ditandai dengan adanya kata “oleh” atau “dengan”, namun hal ini tidak begitu berpengaruh. Sebab, ada tidaknya kata tersebut tidak merubah makna dari kalimat pasif tersebut.
Jenis-Jenis Kalimat Aktif dan Kalimat Pasif
Dalam susunannya, kalimat aktif dapat dibedakan menjadi empat yaitu transitif, intransitif, semitransitif, dan dwitransitif.
1.Kalimat Aktif Transitif
Kalimat ini merupakan kalimat yang memerlukan objek dalam susunan kalimatnya agar dapat melengkapi rangkaiannya. Dalam penggunaannya, transitif dapat diubah menjadi pasif dengan cara mengubah kata kerjanya menjadi bentuk pasif dengan imbuhan. Selain itu, untuk mengubahnya menjadi pasif maka posisi subjek dengan objek harus ditukar agar susunannya menjadi lebih tepat. Susunan kalimatnya menjadi subjek-predikat-objek.
- Kalimat Aktif Intransitif
Kalimat aktif intransitif merupakan kalimat yang merupakan kebalikan dari transitif, dimana objek merupakan unsur yang tidak diperlukan dalam susunannya. Sebagai ganti dari hilangnya peran objek, maka kata keterangan atau kata pelengkap ditambahkan di dalamnya. Kalimatnya dapat dirangkai menjadi subjek-predikat-keterangan atau pelengkap. Hilangnya posisi objek membuat kalimat ini tidak dapat diubah menjadi pasif.
- Kalimat Aktif Semitransitif
Kalimat ini merupakan kalimat yang tidak memerlukan objek dalam rangkaian kalimat dan hanya bisa diikuti oleh unsur pelengkap saja. Kalimat aktif semitransitif tidak dapat diubah menjadi kalimat pasif karena tidak adanya objek di dalamnya.
- Kalimat Aktif Dwitransitif
Kalimat aktif yang terakhir adalah dwitransitif dimana kalimat ini terbentuk dari tambahan objek dan pelengkap dalam kalimatnya. Karena adanya objek di dalamnya, maka dapat diubah menjadi bentuk pasif.
Kalimat pasif berdasarkan predikat dan objeknya dapat digolongkan menjadi empat. Adapun keempat jenis kalimat tersebut adalah sebagai berikut.
- Kalimat Pasif Transitif
Kalimat pasif transitif merupakan kalimat yang tersusun dari rangkaian antara subjek-predikat-objek diikuti oleh kata keterangan atau kata pelengkap. Jika tidak diikuti oleh kata keterangan atau kata pelengkap hal itu tidak terlalu bermasalah karena sudah bisa terangkai menjadi kalimat utuh.
- Kalimat Pasif Intransitif
Kalimat ini merupakan kalimat pasif yang tidak dilengkapi oleh objek. Keberadaan objek digantikan oleh kata keterangan atau kata pelengkap. Sehingga pola kalimat yang terbentuk menjadi subjek-predikat- kata keterangan atau subjek-predikat-kata pelengkap.
- Kalimat Pasif Tindakan
Kalimat pasif tindakan merupakan kalimat yang posisi predikat berperan sebagai bentuk aktivitas atau tindakan tertentu. Imbuhan dapat ditambahkan pada predikatnya dalam bentuk di atau dalam bentuk di-kan tergantung konteks kalimat yang akan dirangkai.
- Kalimat Pasif Keadaan
Sedangkan kalimat pasif keadaan merupakan kondisi dimana predikat berperan dalam bentuk keadaan. Imbuhan pada predikat yang disusun dalam sebuah rangkaian kalimat bisa berupa ke-an.
Perbedaan Kalimat Aktif dan Kalimat Pasif
Kalimat aktif dan kalimat pasif dalam bahasa pada dasarnya tidak memiliki banyak perbedaan yang mencolok dalam penggunaannya. Tetapi, penggunaan dengan kalimat lain yang menyertai merupakan hal yang membedakan keduanya baik itu dalam bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan yang lainnya. Sebagai contoh penggunaan kalimat aktif dan kalimat pasif di bahasa Inggris harus mengikuti bentuk struktur tata bahasa Inggris yang cukup rumit.
Bentuk keduanya harus mengikuti aturan seperti dalam bentuk simple present tense, past tense, perfect tense, past continuous, dan lain sebagainya. Sedangkan dalam bahasa Indonesia, aturan penggunaan keduanya tidak terlalu rumit seperti dalam bahasa Inggris.
Secara garis besar, kalimat aktif dan kalimat pasif memiliki 3 perbedaan yang mendasar dilihat dari struktur kalimatnya. Adapun ketiga perbedaan tersebut adalah sebagai berikut:
. Subjek dalam kalimat aktif merupakan pihak yang melakukan suatu pekerjaan, sedangkan subjek dalam kalimat pasif merupakan pihak yang dikenai suatu pekerjaan.
- Predikat pada kalimat aktif biasanya memiliki imbuhan ber- atau me, sementara pada kalimat pasif berupa ter-, di-, ter- an, ter- ke- an.
- Kalimat aktif biasanya tidak memerlukan frasa oleh atau dengan, berbeda dengan kalimat pasif yang biasanya memerlukan frasa oleh atau dengan.
Contoh Kalimat Aktif dan Pasif
Berikut ini beberapa contoh kalimat aktif menurut penggolongannya.
- Kalimat Aktif Transitif
Petani Mencangkul Sawah
Petani berposisi sebagai subjek, mencangkul adalah predikat sebagai kata kerja, sedangkan sawah adalah objek yang dicangkul oleh petani.
Monyet makan pisang
Kata monyet merupakan subjek, makan merupakan predikat dan termasuk kata aus karena tidak memerlukan imbuhan, dan pisang merupakan objek dalam kalimat di atas.
- Kalimat Aktif Intransitif
Kerbau berendam di lumpur
Kerbau merupakan subjek, berendam merupakan predikat, dan di lumpur merupakan kata keterangan yang menunjukkan letak suatu tempat.
Atlet itu bertanding dengan semangat.
Kata atlet itu merupakan subjek, bertanding merupakan kata predikat, dan dengan semangat merupakan kata pelengkap.
1.Kalimat Aktif Semitransitif
Anak-anak bermain dengan gembira.
Kata anak-anak merupakan subjek, bermain merupakan predikat, sedangkan dengan gembira merupakan pelengkap.
Para buruh bekerja sangat giat.
Para buruh berposisi sebagai subjek, kata bekerja merupakan kata yang berposisi sebagai predikat, dan sangat giat merupakan pelengkap.
2. Kalimat Aktif Dwitransitif
Ayah membelikan adik sepeda yang baru.
Kata ayah menunjukkan subjek, membelikan merupakan predikat, kata sepeda menunjukkan objek, sedangkan kata yang baru merupakan pelengkap.
Ibu berbelanja sayur dan daging untuk makan malam.
Ibu merupakan kata yang menunjukkan subjek, berbelanja merupakan kata yang menunjukkan predikat, sayur dan daging merupakan objek, sementara untuk makan malam merupakan kata pelengkap.
Sedangkan di bawah ini merupakan beberapa contoh kalimat pasif berdasarkan objek dan predikatnya.
3.Kalimat Pasif Transitif
1.a.Mobil telah diperbaiki oleh Ayah.
Mobil merupakan subjek, telah diperbaiki merupakan predikat, dan kata oleh Ayah merupakan objek.
1.b. Pisang itu dimakan monyet yang kelaparan.
Pisang itu menunjukkan subjek, dimakan merupakan kata predikat, monyet merujuk pada objek, dan yang kelaparan merupakan kata pelengkap.
- Kalimat Pasif Intransitif
Baju itu terkena tinta kemarin sore.
Kata itu baju merupakan subjek, terkena merupakan predikat, dan kata kemarin sore menunjukkan kata pelengkap.
Kucing itu terkurung di dalam kandang.
Kucing itu merupakan subjek, terkurung merupakan predikat, sedangkan di dalam kandang merupakan kata keterangan yang menunjukkan suatu tempat.
4.Kalimat Pasif Tindakan
Hasil prakaryaku dibuatkan oleh kakak.
Kata hasil prakaryaku menunjukkan subjek, dibuatkan merupakan predikat dengan imbuhan di- yang merupakan bentuk tindakan, dan oleh kakak merupakan objek.
b. Bangunan itu dirobohkan pemerintah.
Bangunan itu merujuk pada subjek, dirobohkan merupakan predikat dengan imbuhan di- yang menunjukkan suatu bentuk tindakan, sementara pemerintah merupakan objek.
5.Kalimat Pasif Keadaan
Orang itu kecelakaan karena mengantuk.
Orang itu merujuk pada subjek, kecelakaan merupakan predikat yang menunjukkan suatu keadaan dengan imbuhan ke-an, dan karena mengantuk merupakan kata pelengkap.
Rumahnya kebanjiran bulan lalu.
Rumahnya merupakan subjek, kebanjiran merupakan predikat yang menunjukkan keadaan dengan imbuhan ke-an, sedangkan bulan lalu menunjukkan kata pelengkap.
Itulah ulasan mengenai kalimat aktif dan kalimat pasif dalam bahasa Indonesia. Mempelajari kedua kalimat ini dapat menambah kemampuanmu dalam berbahasa Indonesia dan secara tidak langsung kamu ikut melestarikannya dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu kamu juga harus menggunakannya dengan baik dan benar sebagai wujud kecintaan kepada bahasa serta maksud dan pesan didalamnya dapat tersampaikan dengan sempurna. Sebenarnya, mempelajari bahasa ibu adalah salah satu hal yang sangat menyenangkan.
Kalimat Langsung dan Tidak Langsung
Kalimat langsung adalah sebuah kalimat yang langsung diambil atau dikutip dari pembicaraan seseorang yang isinya sama persis dengan yang diucapkannya. Sedangkan kalimat tidak langsung adalah kalimat yang melaporkan atau memberitahukan perkataan orang lain dalam bentuk kalimat berita.
Perbedaan antara kalimat langsung dengan kalimat tidak langsung dapat ditemukan pada uraian ciri-ciri kalimat langsung dan ciri-ciri kalimat tidak langsung berikut ini:
Ciri-ciri kalimat langsung:
- Ditandai dengan tanda petik dua ( “ ) bukan petik satu ( ‘ ).
- Huruf pertama pada kalimat langsung yang diberi tanda petik menggunakan huruf kapital
- Kalimat pengiring dan kalimat petikan ditandai dengan tanda baca koma ( , ).
- Kalimat langsung yang berbentuk dialog, harus menggunakan tanda baca titik dua ( : ) didepan kalimat langsungnya.
- Cara membaca kalimat kutipan pada kalimat langsung intonasinya lebih ditekan.
- Variasi pola susunan antara kalimat kutipan dan kalimat pengiring pada kalimat langsung;
- Kalimat pengiring, “Kalimat kutipan.”
- “Kalimat kutipan,” kalimat pengiring.
- “Kalimat kutipan,” kalimat pengiring, “Kalimat kutipan.”
Ciri-ciri kalimat tidak langsung:
- Tidak menggunakan tanda petik
- Intonasi membacanya cenderung datar
- Terdapat perubahan kata ganti orang, yaitu
- Kata ganti orang ke-1 berubah menjadi orang ke-3 “saya”, “aku” menjadi “dia”, atau “iya”
- Kata ganti orang ke-2 berubah menjadi orang ke-1 “kamu”, “dia” menjadi “saya” atau nama orang.
- Umumnya menggunakan tambahan konjungsi “bahwa”.
Sumber Belajar
Alwi, Hasan, dkk. 2003. Tata bahasa Baku Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga). Jakarta: Balai Pustaka
Chaer, Abdul. 2008. Morfologi bahasa indonesia: Pendekatan Proses. Jakarta: Rineka Cipta
Chaer, Abdul. 2010. Kesantunan Berbahasa. Jakarta: Rineka Cipta
Alwi, Hasan, dkk. 2003. Tata bahasa Baku Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga). Jakarta: Balai Pustaka
Mulyono, Iyo. 2012. Ihwal Kalimat Bahasa Indonesia Dan Problematika Penggunaannya.Bandung: Yrama Widya
Widjono. 2011. Bahasa Indonesia. Jakarta: PT. Grasindo
