Simak Hasil Webinar P3S: Tema Menakar Cagub Potensial Pilkada Sulut 2024
PRABANGKARANEWS.COM || Political & Public Policy Studies melaksanakan webinar dengan tema “Menakar Cagub Potensial Pilkada Sulut 2024”, dengan menggunakan zoom metting yang dimoderatori oleh Bang Jeff Sangion telah dilaksanakan, Kamis Juni 2022, dimulai jam 15:00 PM WITA, atau 14.00 WIB.
Political & Public Policy Studies melaksanakan webinar kali ini dengan narasumber Jerry Massie, P.hD Direktur P3S; Dr.Rocky Gerung, yang membahas terkait dengan bagaimana memunculkan bakal calon atau kandidat di pilkada Sulawesi Utara agar menghasilkan pemimpin yang mempunyai visi ke depan.
Selain itu juga sebagai pembicara Jerry Sumampouw yaitu seorang aktivis dan pengamat politik Indonesia. Beliau yaitu Koordinator Komite Pemilih Indonesia (TePI), yang mendapatkan tema bagaiama sistem penyelenggaraan plkada yang dananya cukup besar untuk memfasilitasi dalam rangka mencari pemimpin di daerah yang kredibel.
Jerry Massie pilkada di Sulut hendaknya bakal paslon atau kandidat sudah mulai merapat di parpol di Sulut. Komposisi anggota DPRD Sulawesi Utara periode 2019-2024 terdiri dari 9 partai politik di mana PDI Perjuangan adalah partai politik pemilik kursi terbanyak yaitu 18 kursi, kemudian disusul oleh Partai NasDem yang meraih 9 kursi dan Partai Golkar yang meraih 7 kursi. Partai Demokrat 4 kursi, Gerindra 2 kursi; PAN 2 kursi; PKB 1 kursi; PKS 1 kursi; PSi 1 kursi.
Lebih jauh Jerry menjelaskan sekarang sudah banyak yang memperkenalkan diri kepada khalayak pemilih di Sulut. Oleh sebab itu para bakal paslon tersebut hendaknya mulai sekarang harus masuk ke masyarakat paling bawah, dengan menyapa rakyat di wilayah pinggiran wilayah Sulut. Jangan hanya melihat dari kota. Oleh sebab itu seorang bakal calon atau kandidat harus mempunyai kebijakan publik yang bagus dengan melihat potansi yang ada di Sulut mulai dari pinggiran sehingga bisa menghasilkan kebijakan yang cerdas.
Pembicara yang kedua Dr.Rocky Gerung menjelaskan bahwa pilkada 2020 yang telah berlangsung yang sangat marak adanya politik transaksional, mind set di partai politik kepada bakal calon atau kandidat berapa isi kantong bukan bagaimana kemampuan daya pikirnya dalam membuat kebijakan yang cerdas untuk keluar dari sebuah permasalahan.
Oleh sebab itu ddalam hal penyelenggaraan pilkada atau pemilu jangan copy paste kebijakan sebelumnya. Harus ada kebijakan yang revolosioner jangan hanya ngurusi ukuran baliho, urusan kertas suara, urusan kotak suara atau urusan lainnya. Seharusnya KPU dan Bawaslu membuat suatu kebijakan a menyelenggarakan suatu pilkada atau pemilu yang bisa menghasilkan pemimpin yang kredibel dan berkualitas. Jangan pemimpin yang hanya mengandalkan popularitas dan elektabilitas. Sudah waktunya kita publikasikan kualitas dan kapabilitas seorang kandidat dengan suatu riset ilmiah yang merupakan kerjasama antara perguruan tinggi di Sulut, LSM, KPK, masyarakat.
“Sudah saatnya seorang bakal calon atau kandidat untuk berkunjung ke Universitas, LSm maupaun KPk untuk berdiskusi menyampaikan gagaasan-gagasannya yang revolusioner. Anggaran besar di KPU seyogyanya untuk mencari pemimpin yang berkualitas dengan menyelenggarakan suatu kajian terhadap kandidat yang akan maju dalam pilkada. hasilnya dipublikasikan kepada masyarakat agar tahu kualitas dan kemampuan seorang kandidat,”jelas Rocky Gerung.
Jerry Sumampouw menyoroti suasana yang sudah demokratis dalam pengambilan suatu keputusan di daerah Sulut. Keputusan sangat tergantung dari pimpinan atau yang menjadikan rujukan dalam setiap pengambilan keputusan dari pimpinan.
Jerry berharap pemikiran seperti itu harus dirubah jangan hanya tergabtung dari petunjuk dari pimpinan. Berpikir kritis jika mendapatkan wacana jangan ditelan mentah-mentah dengan menganggapnya sebagai sebuah kebenaran.
Oleh sebab itu Jerry Sumampouw apresiasi webinar seperti acara yang dilaksanakan oleh P3S agar kita mempunyai daya pikir kritis. Oleh sebab itu perbedaan suatu pendapat misalnya antara dosen dan mahasiswa sebagai bentuk yang harus digalakkan kembali. Jangan sampai mahasiswa terus tunduk dan patuh kepada dosen sehingga tidak akan memunculkan kreatifitas dalam berpikir.
Hal ini sejalan dengan pendapat Roky Gerung bahwa 2 tahun lagi akan dilaksanakan pilkada 2024 oleh sebab itu diperlukan generasi muda yang kemampuan pikirnya mempunyai kecerdasan yang merupakan suatu kebanggaan. Bukan mendahulukan amplop. Oleh sebab itu jadikan kecerdasan berpikir sebagai sebuah nilai sehingga mampu untuk menganalisis dan menjadi garda terdepan dalam perubahan untuk mendapatkan pemimpin yang berkualitas. Politika elektoral yang mengandalkan popularitas dan elektabilitas harus berganti dengan politik cerdas memilih pemimpin yang berkualitas dan kredibel. (Hendriyanto)
