Layaknya Nonton Pacuan Kuda, Pergerakan Elektoral Kandidat dan Partai
PRABANGKARANEWS.COM || Miriam Budiardjo berpendapat bahwa politik merupakan suatu usaha untuk mencapai sebuah kehidupan masyarakat yang lebih baik. Senada dengan hal tersebut, Peter Merkl juga menjelaskan bahwa politik dalam bentuk yang paling baik ialah usaha dalam mencapai suatu tatanan sosial yang baik dan berkeadilan.
Sementara itu, elektoral atau pemilihan umum merupakan bagian dari sistem politik. Dengan demikian, politik elektoral dapat dimaknai sebagai salah satu sarana atau cara untuk menetapkan orang-orang yang akan mewakili rakyat dalam sistem pemerintahan.
Demokrasi elektoral atau yang sering disebut sebagai pesta demokrasi dalam pemilihan umum anggota dewan, mulai dari daerah hingga pusat, dan juga pada Pemilu presiden dan wakil presiden ini menghadirkan sebuah fenomena yang menarik untuk dikaji.
Fenomena tersebut menunjukkan adanya perhatian yang cukup besar, berupa pengerahan energi moril dan materil dari masyarakat dan elit yang memiliki kepentingan langsung dalam pemilihan ini. Dan hal tersebut menimbulkan istilah yang disebut sebagai “elektoralisme”.
Istilah elektoralisme digunakan untuk mendeskripsikan suatu kondisi dan praktik demokrasi yang didominasi oleh urusan elektoral dan mengorbankan tatanan nilai sosialkultural hanya demi kepentingan menang-kalah dalam Pemilu.
Semakin mendekati pemilihan umum 2024, mata publik akan semakin fokus pada peta kompetisi antarkandidat presiden dan partai politik dirilis dari laman indikator.co.id Senin (5/12/2024). Layaknya nonton pacuan kuda (horse race), masyarakat akan terus mengamati pergerakan elektoral para kandidat dan partai yang bersaing, khususnya yang menjadi pilihan mereka. Kompetisi akan semaking mengerucut, sengit dan menarik perhatian publik seiring dengan kedatangan hari H pemilu.
Mungkin karena jarak ke pemilu masih cukup lama, tokoh-tokoh yang mendapat dukungan publik untuk maju sebagai calon presiden sepanjang setahun terakhir belum berubah. Mereka yang selalu menduduki posisi atas adalah Anies Baswedan, Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto. Belum ada tokoh lain yang mampu menyusul posisi mereka. Namun lapisan di bawahnya juga tidak banyak berubah. Ridwan Kamil, Agus Harimurti Yudhoyono, Sandiaga S. Uno, Khofifah Indarparawansa, Puan Maharani, Erick Thohir adalah nama-nama yang sering mengisi lapisan ini dirilis dari indikator.co.id.
Dinamika persaingan antarkandidat presiden yang relative rendah ini mendorong partai-partai politik lebih memilih menunggu sambil tengok kanan-kiri (wait and see). PDI Perjuangan belum menentukan calon presiden yang diusung, meskipun bisa mengusung sendiri. Golkar, PAN dan PPP baru sebatas membentuk koalisi, tapi belum juga menyebut siapa calon presiden mereka. Gerindra secara internal mengajukan Prabowo Subianto, tetapi belum juga sampai pada kesepakatan resmi dengan partai yang digadang berkoalisi, PKB.
Dalam konteks ini deklarasi Anies Baswedan sebagai calon presiden oleh Partai NasDem telah mengakhiri sikap bungkam partai politik. Terbukti deklarasi ini memicu pro-kontra dari sejumlah partai politik, khususnya berkaitan dengan posisi Nasdem sebagai bagian dari pemerintah dan sikap Anies yang kerap berseberangan dengan pemerintah. Ada yang memandang langkah Nasdem tidak konsisten, tidak loyal, tetapi ada juga yang menganggapnya sebagai manuver politik biasa.
Dalam berbagai jajak pendapat, Anies Baswedan selalu menduduki posisi tiga besar calon presiden. Namun Anies bukanlah tokoh yang sangat menonjol karena tidak menduduki posisi puncak dengan selisih lebar. Untuk itu menarik untuk diamati apakah perolehan suaranya meningkat dengan deklarasi atau stagnan dan bahkan turun. Begitu juga dengan Partai NasDem, apakah deklarasi Anies memberi efek positif, netral atau negatif terhadap dukungan konstituennya.
Di satu sisi, deklarasi Anies Baswedan telah memunculkan dinamika politik baru. Elit partai mulai mengintensifkan kerja-kerja politik seperti lobby dan kampanye. Namun di sisi lain, deklarasi ini belum mampu mendorong partai politik lain mengambil langkah tandingan. Semuanya masih bertahan pada posisi semula, wait and see. Bahkan Partai Demokrat dan PKS yang digadang berkoalisi dengan NasDem mengusung Anies juga belum kunjung memberikan dukungan resmi. Situasi ini bisa jadi berdampak atau tidak berdampak terhadap peta kekuatan elektoral partai-partai politik.
Selain persaingan kandidat presiden yang masih belum dinamis, sikap hati-hati partai politik juga didorong oleh dinamika koalisi. Meskipun bisa mengusung sendiri, PDI Perjuangan tampaknya tetap memerlukan mitra koalisi untuk memperbesar peluang menang. Namun bagi partai yang harus berkoalisi, persoalannya bukan sekadar peluang menang-kalah, tetapi juga tawar-menawar posisi kandidatnya dalam pencalonan presiden dan wakil presiden. Dinamika ini tampaknya yang sedang berlangsung dalam pentas politik nasional.
Berdasarkan istagram burhanuddinmuhtadi berdasarkan survei emuan survei nasional terakhir @indikatorcoid menunjukkan Anies Baswedan menguat tajam pasca-deklarasi capres oleh NasDem32,2 %. Pada saat yang sama elektabilitas Prabowo menurun signifikan dengan prosentase 23,9 %. Kenaikan Anies yg diikuti penurunan suara Pak Prabowo mengindikasikan sebagian basis Prabowo beralih ke Anies karena keduanya berebut pangsa pasar yg sama. Sementara Ganjar juga sedikit terdampak oleh kenaikan Anies meski tidak signifikan dengan prosentase 33,9 %.
Sumber: Indikator.go.id.
