Webinar PBSI STKIP PGRI Pacitan, “Revitalisasi Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Budaya dalam Era Berkelimpahan: Menyongsong Tantangan Masa Depan”

Webinar PBSI STKIP PGRI Pacitan, “Revitalisasi Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Budaya dalam Era Berkelimpahan: Menyongsong Tantangan Masa Depan”
SHARE

PRABANGKARANEWS.COM || PACITAN – PBSI STKIP PGRI Pacitan mengadakan seminar sebagai bagian perayaan Hari Pendidikan Nasional dengan judul “Revitalisasi Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Budaya pada Era Berkelimpahan (Abundance)”. Seminar ini diadakan melalui platform Zoom Meeting pada hari Selasa, tanggal 16 Mei 2023. Pembicara dalam seminar ini adalah Prof. Dr. Ali Imron Al Ma’ruf dari Universitas Muhammadiyah Surakarta dan Dr. Sri Pamungkas, M.Hum dari Dosen PBSI STKIP PGRI Pacitan. Acara tersebut akan dipandu oleh moderator Bakti Sutopo, M.A.

Reza, M.Pd sebagai Kaprodi PBSI STKIP PGRI Pacitan mengucapkan terima kasih pada semua pihak tak terkecuali pada Imasind (Himpunan Mahasiswa bahasa Indonesia) STKIP PGRI Pacitan yang telah berkolaborasi suksesnya acara hari ini.  Terima kasih pada semua peserta seminar baik dari mahasiswa maupun peserta luar sukseskan webinar hari ini.

Dalam sambutannya, Ketua STKIP PGRI Pacitan, Dr. Mukodi, M.SI, menyampaikan bahwa era saat ini mengalami perubahan yang sangat cepat, dan oleh karena itu dibutuhkan orang-orang yang tanggap, kreatif, dan inovatif dalam menghadapi tantangan dalam era yang penuh keberlimpahan ini.

Baca Juga  Dies Natalis Ke-31 STKIP PGRI Pacitan Dimeriahkan oleh Kompetisi Debat Mahasiswa 2023

Dr. Sri Pamungkas, sebagai salah satu pembicara, mengungkapkan bahwa di era sekarang ini diperlukan orang-orang yang mampu beradaptasi dan mendidik orang lain untuk menjadi kreatif dan inovatif. Ia juga menekankan pentingnya mengubah kerumunan pengguna gadget menjadi kerumunan yang mampu menghasilkan kreativitas. Kolaborasi juga dianggap penting dalam menciptakan pola-pola pembelajaran yang dapat terus beradaptasi dengan perubahan yang semakin cepat.

Selanjutnya, pendidikan harus diimbangi dengan penguatan human literasi dari tingkat Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi, dengan tujuan menciptakan generasi yang literat. Karakter, literasi, dan karakter dilihat sebagai persyaratan untuk tumbuh menjadi negara yang maju. Dalam hal ini, penting untuk manusiakan manusia melalui kolaborasi, rasa syukur, dan doa.

Prof. Dr. Ali Imron Al Ma’ruf dari Universitas Muhammadiyah Surakarta, banjir informasi tantangan literasi ke depan.  Pelajaraan sastra tidak menarik terutama bagi anak sekolah mulai SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA.  Terutama disebabkan guru yang mengajar sastra bukan pada bidangnya sastra, ada dari bidang studi lain. Guru yang mengajar Sastra tapi latar belakangnya linguistik, ngajarnya sudah barang tentu tidak menarik.  Kreatifitas literasi Sastra di sekolah sangat minim, hanya berisi sastra lama. Hal ini tidak kontekstual dengan generasi milineal.  Novel terbaru tidak tersedia di perpustaaan mulai SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA.

Baca Juga  ANALYSIS OF SYMBOLIC MEANING IN TRADITION NGAMPIRNE WETON IN JATIGUNUNG VILLAGE TULAKAN PACITAN DISTRICT

Bakti Sutopo sebagai moderator menyimpulkan agar pembelajaran sastra menrik sebagai berikut.

  1. Pilihkan bahan bacaan yang relevan dan menarik: Pilihkan karya sastra yang sesuai dengan minat dan pemahaman siswa. Pilihlah cerita atau puisi yang memiliki tema yang menarik, karakter yang kuat, dan alur yang menegangkan. Hal ini akan membuat siswa lebih tertarik dan terlibat dalam pembelajaran.
  2. Gunakan pendekatan kreatif: Selain membaca dan menganalisis teks, coba tambahkan elemen-elemen kreatif dalam pembelajaran sastra. Misalnya, siswa dapat membuat dramatisasi atau pementasan kecil berdasarkan karya sastra yang sedang dipelajari. Hal ini akan memberikan pengalaman langsung dan menghidupkan karya sastra.
  3. Diskusikan dan refleksikan karya sastra: Buatlah ruang diskusi yang terbuka untuk siswa berbagi pendapat, pengalaman, dan pemahaman mereka tentang karya sastra. Ajak siswa untuk berdebat, menganalisis, dan memberikan interpretasi mereka sendiri. Diskusi tersebut dapat membangkitkan minat siswa dan melibatkan mereka secara aktif dalam pembelajaran.
  4. Gunakan teknologi dan media: Manfaatkan teknologi dan media untuk memperkaya pembelajaran sastra. Misalnya, tampilkan video adaptasi film atau drama dari karya sastra yang sedang dipelajari. Gunakan aplikasi atau platform digital untuk membuat proyek atau presentasi kreatif tentang karya sastra. Hal ini dapat meningkatkan minat siswa dan memperluas pemahaman mereka tentang sastra.
  5. Libatkan siswa dalam kegiatan menulis kreatif: Ajak siswa untuk mengekspresikan pemikiran, ide, atau perasaan mereka melalui menulis kreatif. Beri mereka kesempatan untuk menciptakan cerita pendek, puisi, atau esai berdasarkan inspirasi dari karya sastra yang mereka pelajari. Hal ini akan mengembangkan keterampilan menulis mereka sekaligus memperdalam pemahaman tentang sastra.
  6. Buat suasana belajar yang menyenangkan: Ciptakan suasana yang santai dan menyenangkan dalam pembelajaran sastra. Gunakan permainan, tantangan, atau aktivitas kreatif lainnya yang dapat memicu minat siswa. Berikan penghargaan atau pengakuan atas kontribusi dan usaha siswa dalam mempelajari sastra.
Baca Juga  Serunya Wisata Air di Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri

Dengan menggabungkan pendekatan kreatif, partisipasi aktif siswa, dan suasana yang menyenangkan, pembelajaran sastra dapat menjadi lebih menarik dan bermanfaat bagi siswa.  (*)