Dwimuka Ardhanareswari: Mengungkap Dualisme dalam Tari Calonarang oleh Didik Nini Thowok

Dwimuka Ardhanareswari: Mengungkap Dualisme dalam Tari Calonarang oleh Didik Nini Thowok
SHARE

PRABANGKARANEWS.COM || KEDIRI – Didik Nini Thowok, seorang maestro tari dunia, menghadirkan kegembiraan dalam pagelaran tari yang berlangsung di Pura Calonarang Putuk, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Dalam kesempatan tersebut, Didik Nini Thowok menyajikan karya terbarunya yang berjudul “Dwimuka Ardhanareswari”. Karya ini memperlihatkan dualisme dalam diri manusia, melambangkan kontras antara kebaikan dan keburukan, Uma dan Durga, serta Yin dan Yang. Dalam koreografi tersebut, Didik Nini Thowok menggambarkan Ratu Girah atau Ratu Calonarang, yang merupakan seorang ratu sakti dengan ilmu Tantra Bhairawa, saat marah dan melepaskan kesaktiannya yang mampu menghancurkan sekitarnya.

Didik Nini Thowok menegaskan bahwa anggapan bahwa Calonarang adalah seorang dukun ilmu hitam yang jahat adalah sebuah kesalahpahaman. Hal tersebut menyebabkan sisi baik dari Calonarang tidak terlihat sama sekali. Sementara itu, Adi Suwignyo, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri, memberikan apresiasi terhadap pagelaran tari yang menampilkan Didik Nini Thowok. Ia mengakui bahwa pagelaran tersebut merupakan kekayaan budaya yang sangat terkenal di Kabupaten Kediri dan telah dikenal di seluruh dunia selama ribuan tahun. Adi juga menyatakan pentingnya pelurusan sejarah seiring perkembangan zaman.

Baca Juga  Tetaken WBTB Indonesia 2020, Nomor Registrasi 202001176

Jero Wayan Suranta, penanggung jawab Pura Dalem Calonarang di Desa Putuk, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Kediri, berbicara tentang doktrin yang telah mengakar sejak ribuan tahun yang menyatakan bahwa Ratu Calonarang atau Nyi Girah/Janda Girah adalah sosok yang jahat. Menurutnya, pandangan negatif terhadap Ratu Calonarang lebih karena faktor politik pada masa kekuasaan Raja Kahuripan Airlangga. Jero Wayan adalah seorang Bali asli dan ia sendiri pernah mendapatkan pertolongan dari Ratu Calonarang ketika istrinya dalam keadaan koma. Istrinya sembuh setelah Jero Wayan mengklaim bertemu dengan Ratu Calonarang, artikel dikutip dari laman Antaranews.com Senin (5/6/2023).

Jero Wayan kemudian mencari Ratu Calonarang dan menemukannya di Situs Calonarang di Desa Sukorejo, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri. Berdasarkan pengalaman dan keyakinannya, Jero Wayan mengungkapkan bahwa Ratu Calonarang ingin dipresentasikan dengan sempurna di tempat yang baru di Kediri. Oleh karena itu, Pura Calonarang dibangun di Putuk Kandangan, Kabupaten Kediri pada tahun 2017. Jero Wayan menegaskan bahwa Ratu Calonarang adalah milik Kabupaten Kediri, dan ia berharap agar nama Ratu Calonarang dapat dibersihkan dari persepsi negatif yang telah ada.

Baca Juga  Presiden Joko Widodo Tandatangani Peraturan Presiden Publisher Rights

Acara ini dihadiri oleh puluhan masyarakat dan berlangsung dengan meriah dan sukses di Pura Calonarang Putuk, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Kediri. (*)