Tembang Mocopatan – Warisan Budaya Jawa yang Menginspirasi

Tembang Mocopatan – Warisan Budaya Jawa yang Menginspirasi
SHARE
PRABANGKARANEWS || “BISMILLAH”; Salam Literasi Sejarah; “Pacitan Kota Misteri”. “CITUS TEMBANG MOCOPATAN”. Tembang Mocopatan adalah sebuah karya seni budaya Jawa kuno yang memiliki akar sejarah yang kaya. Karya ini diciptakan oleh seorang raja Sri Paku Buwono IV dari Keraton Kartosuro Hadiningrat pada sekitar Abad ke-16 hingga ke-17 Masehi. Seni ini mengambil bentuk dalam “Serat Kitab WULANG REH”, yang ditulis dengan tangan oleh beliau sebagai pitutur atau panduan bagi seorang pemimpin yang mengatur jagad, baik dalam bahasa Jawa Kuno.

Tembang Mocopatan adalah sebuah karya seni vokal yang unik karena diinterpretasikan dan dinyanyikan tanpa bantuan alat musik apa pun. Biasanya, ketika membaca “Serat Pawulang” dari kitab ini, pesan-pesan makna sakral dan pelajaran tentang perjalanan seorang pemimpin di dunia dipelajari dan dihayati.

Baca Juga  Rembug Santai Alumni S3 Kajian Budaya FIB UNS: Perkuat Jejaring, Dorong Aksi Nyata

Amat Taufan, Sabtu  (19/8/2023), menjelaskan, saat ini, Seni Budaya Tembang Mocopatan menghadapi tantangan. Ini karena kurangnya minat lintas generasi dalam mempelajari literasi kitab kuno Jawa yang berisi petuah dan pelajaran hidup di dunia dan akhirat. Akibatnya, literasi terkait ajaran “ADAT DAN ADAB” Jawa yang adi luhung mulai terlupakan oleh generasi penerus yang lebih tertarik pada modernisasi tanpa mempertimbangkan nilai-nilai tradisional dalam masyarakat.

Dampak dari kurangnya pemahaman terhadap adat dan adab ini dapat sangat serius, dengan potensi mengancam peradaban manusia di masa depan. Tembang Mocopat memiliki peran penting dalam konteks ini. Tembang ini dibacakan atau dinyanyikan saat manusia mengalami penurunan moral dan etika, dan dapat menjadi sumber motivasi dan inovasi bagi pembaca untuk melihat masa depan yang lebih baik, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat.

Baca Juga  Tradisi Bersih Desa di Magetan: Melestarikan Budaya dan Menjaga Harmoni

Mugio Gusti ALLAH Paring berkahipun teng Engsun; keluarga; rakyat, dan penerus di bawah lindungan Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah, di bumi dan langit, semoga selalu mendapat berkah. (Amat Taufan)