Merawat Masa Depan dari Warisan Masa Lalu: Literasi Hijau Nusantara Dorong Transformasi Ekologi Berbasis Budaya, Sastra, dan Teknologi
PRABANGKARANEWS.COM, Surakarta, 7 Agustus 2026 — Konferensi Literasi Hijau Indonesia ke-III 2026 dan penganugerahan “APPeL Hijau Indonesia Awards 2026” dilaksanakan pada 7 Agustus 2026 di Harris Hotel & Convention Solo, Jawa Tengah, sebagai bagian dari penguatan gerakan literasi hijau berkelanjutan di Indonesia.
Upaya membangun kesadaran lingkungan tidak hanya dapat dilakukan melalui pendekatan teknologi dan sains, tetapi juga melalui kekayaan pengetahuan yang tersimpan dalam budaya, sastra, dan naskah Nusantara. Gagasan inilah yang mengemuka dalam Konferensi Literasi Hijau Indonesia (KLHI) ke-III Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh DPP Asosiasi Penggerak Perpustakaan dan Literasi Hijau Indonesia (APPeL Hijau Indonesia).
Kegiatan yang mengangkat tema “Pengembangan Ekosistem Literasi Hijau Guna Mewujudkan Pembangunan Berkelanjutan Berbasis Sustainable Development Goals (SDGs)” tersebut menjadi ruang strategis untuk mempertemukan pemikiran akademisi, praktisi literasi, penggerak perpustakaan, serta pemerhati lingkungan dalam membangun kesadaran ekologis masyarakat.
Salah satu pemateri utama dalam kegiatan tersebut adalah Dr. Asep Yudha Wirajaya, S.S., M.A., Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret Surakarta, yang menyampaikan materi bertajuk “Menelusuri Nilai Ekologis dalam Naskah Nusantara berupa Sastra Hijau (Green Literature), Pendidikan Hijau (Green Education) dan Budaya Hijau (Green Culture) sebagai Implementasi Keberlanjutan Lingkungan.”
Dalam paparannya, Dr. Asep menekankan bahwa khazanah naskah Nusantara bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan sumber pengetahuan yang menyimpan nilai-nilai ekologis. Berbagai teks tradisional merekam hubungan manusia dengan alam, etika pemanfaatan lingkungan, serta kearifan lokal dalam menjaga keseimbangan kehidupan.
Menurutnya, literasi hijau perlu dikembangkan sebagai gerakan kebudayaan yang menghubungkan tiga dimensi penting, yaitu sastra hijau sebagai ruang refleksi nilai ekologis, pendidikan hijau sebagai proses pewarisan kesadaran lingkungan, serta budaya hijau sebagai praktik kehidupan berkelanjutan.

“Warisan intelektual Nusantara menyimpan banyak pesan tentang keharmonisan manusia dan alam. Tantangan kita saat ini adalah bagaimana menghadirkan kembali nilai-nilai tersebut melalui pendekatan baru yang relevan dengan perkembangan zaman, termasuk pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan,” ujar Dr. Asep.
Gagasan tersebut sejalan dengan konsep Nusantara Green Blueprint, sebuah pendekatan yang melihat digitalisasi dan kecerdasan buatan sebagai alternatif solusi masa depan dalam preservasi sejarah lokal serta transformasi pengetahuan budaya agar dapat diakses oleh generasi mendatang.
Melalui integrasi antara budaya, teknologi, dan kepedulian lingkungan, literasi hijau diharapkan tidak berhenti sebagai wacana akademik, tetapi berkembang menjadi gerakan sosial yang mampu memperkuat pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
Penulis: A. Yudha. W & Izza Nindya Aulia
