Museum Ullen Sentalu: Membangkitkan Warisan Budaya Keluarga Haryono dari Kaki Gunung Merapi

Museum Ullen Sentalu: Membangkitkan Warisan Budaya Keluarga Haryono dari Kaki Gunung Merapi
SHARE

PRABANGKARANEWS || Museum Ullen Sentalu adalah sebuah tempat yang memikat dan menginspirasi, terletak di lereng Gunung Merapi, yang memancarkan keindahan dan kekayaan warisan budaya Keluarga Haryono serta kisahnya yang menggugah. Museum ini muncul dari sebuah gagasan yang bermula dari pencarian jati diri keluarga tersebut, yang ingin meninggalkan jejak berharga dan abadi bagi generasi mendatang.

Keluarga Haryono adalah keluarga peranakan dengan akar budaya Jawa yang kuat. Mereka dibesarkan di lingkungan Kampung Sayidan, sebuah bekas pemukiman Belanda yang menjadi rumah bagi beragam kelompok sosial dan budaya setelah kemerdekaan. Di sini, mereka hidup berdampingan dengan ningrat Jawa, kaum Priyayi berpendidikan tinggi zaman Belanda, pengusaha batik, janda-janda Belanda, dan banyak lagi. Lingkungan yang beragam ini memberi mereka pengalaman unik yang mencampurkan elemen-elemen budaya Jawa klasik dan Eropa.

Pada tahun 1990-an, gagasan untuk mendirikan museum mulai mengambil bentuk. Mereka ingin menciptakan tempat yang dapat menceritakan kisah kekayaan budaya mereka dan merangkul peribahasa “kalau gajah mati bisa meninggalkan gading atau macan meninggalkan belang” sebagai panduan dalam pencarian mereka. Hasilnya adalah Museum Ullen Sentalu, yang secara resmi dibuka pada 1 Maret 1997 oleh KGPAA Paku Alam VIII, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur DIY.

Baca Juga  Peringatan HUT ke-277 Kota Solo Menggelar Kirab Boyong Kedhaton dan Tarian Kolosal

Museum ini terletak di tanah keluarga di Kaliurang, di kaki Gunung Merapi. Kenangan indah masa kecil mereka di daerah tersebut menjadi sumber inspirasi bagi Keluarga Haryono untuk menciptakan musium ini. Museum Ullen Sentalu bukan hanya sebuah tempat untuk memamerkan artefak dan warisan budaya, tetapi juga sebuah perjalanan emosional dan intelektual yang memungkinkan pengunjung untuk memahami dan merasakan kedalaman serta keindahan budaya Jawa dan perpaduannya dengan elemen Eropa.

Ullen Sentalu merupakan akronim bahasa Jawa, yaitu “ulateng blencong sejatine tataraning lumaku”. Nama ini diambil dari pelita yang digunakan pada layar dalam pertunjukkan wayang kulit, sehingga secara filosofi berarti Nyala Lampu Blencong sebagai Pelita Kehidupan Umat Manusia.

Baca Juga  Indonesia U-23 Menaklukkan Turkmenistan 2-0 dan Melaju ke Putaran Final Piala Asia U-23 2023

“Konsep utama Museum Ullen Sentalu adalah ‘Jendela: Membuka Pintu Menuju Keindahan Budaya dan Seni Jawa Klasik’. Koleksi museum ini dipenuhi oleh karya-karya yang diwakili oleh tokoh-tokoh wanita Jawa, khususnya para permaisuri dan putri dari Dinasti Mataram.

Dalam budaya Jawa, peran wanita sering disebut sebagai ‘konco wingking,’ yang berarti mereka memiliki peran penting meskipun jarang terlihat di luar istana kraton. Di masa Dinasti Mataram, hampir tidak mungkin untuk melihat kehidupan para putri di dalam dinding istana.

Meskipun tersembunyi, wanita Jawa memiliki peran yang kuat dalam menentukan arah kehidupan politik dan budaya. Kehidupan di balik tembok kaputren, tempat para wanita tinggal, menjadi tempat lahirnya budaya Jawa yang kaya.

Baca Juga  Mantan Panglima TNI, yang Juga Mantan Kasad, Jenderal TNI (Purn) Djoko Santoso Tutup Usia

Museum Ullen Sentalu memilih untuk menjadikan wanita sebagai ‘jendela’ yang mengantarkan pengunjung dalam perjalanan yang mendalam melalui sejarah, budaya, dan seni Jawa yang luar biasa.”

Pemimpin Museum Ullen Sentalu adalah KRT. Thomas Haryonagoro.

Lokasi museum berada di Jl Boyong Kaliurang, Sleman, Yogyakarta.

Sekretariatnya dapat dihubungi di Jl. Plemburan 10 Ringroad Utara Yogyakarta, 55581.

Untuk kontak melalui email, Anda dapat mengirimkan pesan ke thomasharyono@yahoo.com atau yannev@yahoo.co.uk.

Jam operasional museum adalah dari pukul 09.00 hingga 16.00, dan museum buka setiap hari kecuali hari Senin.

Harga tiket masuk adalah Rp. 10.000 untuk pelajar, Rp. 20.000 untuk umum, dan Rp. 36.000 untuk wisatawan mancanegara.

Anda dapat menghubungi museum melalui telepon di (62-274) 880158 dan (62-274) 895161, serta melalui faksimile di (62-274) 881743.

Sumber: https://budaya.jogjaprov.go.id/