Bedhaya Anglir Mendhung: Jejak Eksistensi Tari Penuh Makna di Mangkunegaran
PRABANGKARANEWS || Ponorogo, Jawa Timur, bukan hanya dikenal sebagai tempat berdirinya Mangkunegaran, tetapi juga sebagai panggung bagi Tari Bedhaya Anglir Mendhung yang memikat hati penonton dalam upacara jumenengan maupun tingalan jumenengan. Tarian yang menggambarkan epik peperangan yang dialami oleh R.M. Said di Desa Kasatriyan ini memiliki akar sejarah yang kuat sejak era Mangkoenagoro I.
Munculnya Bedhaya Anglir Mendhung diawali oleh peristiwa laga perang yang dihadapi oleh R.M. Said di Desa Kasatriyan, Ponorogo. Ketika awan-awan bergelayutan mendung menjelang pertempuran, tarian ini menjadi simbolisasi dari keberanian dan semangat juang yang harus dihadapi. Namun, apa yang membedakan Bedhaya Anglir Mendhung dari tarian lainnya adalah kisah dan nilai-nilai yang tersemat di dalamnya.
Dalam perkembangannya, dua abdi dalem, yaitu Kyai Secakarma dan Kyai Kidung Wulung, memainkan peran penting dalam yasan Bedhaya Anglir Mendhung di era Mangkoenagoro I. Komposisi penari terdiri dari tujuh gadis, dan tarian dibagi menjadi tiga bagian utama: tari awal, tari pokok, dan tari akhir. Pengiringnya tak kalah penting, diiringi oleh gending Kemanak dan Ketawang Mijil.
Perlu dicatat bahwa Bedhaya Anglir Mendhung sempat absen dari panggung Mangkunegaran selama lebih dari satu abad. Namun, di masa Mangkoenagoro VIII, keberadaannya dihidupkan kembali melalui pelacakan yang teliti oleh sejumlah tokoh, seperti K.R.T. Sanyoto, Soetopo Koesoemoatmodjo, R. Moelyono Sastronaryatmo, dan K.R.Ay. T. Praptini pada tahun 1981.
Tari ini tidak hanya sekadar gerak indah dan irama musik yang merdu, melainkan juga penjaga sejarah dan budaya yang harus dilestarikan. Bedhaya Anglir Mendhung mengundang penonton untuk merenung dan terhubung dengan nilai-nilai luhur yang tersemat dalam setiap geraknya. Di balik gemulainya penari dan harmoni gending, terdapat warisan berharga yang menceritakan keberanian, semangat, dan kisah heroik yang perlu diabadikan.
Sebagai bagian dari warisan budaya, Bedhaya Anglir Mendhung tak hanya menari di atas panggung, tetapi juga menari di dalam ingatan dan cinta akan kebudayaan. Dengan dilacaknya kembali oleh para peneliti pada 1981, tarian ini berhasil bangkit kembali dan menjadi saksi bisu perkembangan Mangkunegaran. Sebuah kisah panjang yang menunjukkan ketangguhan dan tekad untuk mempertahankan keindahan seni tradisional.
Sumber: Puromangkunegaran
