Harmonisasi Ternak Ayam, Solusi Dampak Limbah untuk Pupuk Organik Warga Banjarsari, Pacitan

Harmonisasi Ternak Ayam, Solusi  Dampak Limbah untuk Pupuk Organik  Warga Banjarsari, Pacitan
SHARE

PRABANGKARANEWS, PACITAN – Peternakan ayam broiler telah menjadi bagian integral dari industri makanan global, menyediakan sumber protein hewani yang penting bagi konsumen di seluruh dunia. Namun pertumbuhan industri ini juga membawa tantangan yang signifikan baik dalam pengelolaan limbah maupun hubungan dengan masyarakat lokal. Praktik inovatif harus diterapkan untuk menciptakan sistem yang berkelanjutan dan saling menguntungkan.

Seperti yang ada di Desa Banjarsari, Kecamata Pacitan, Kabupaten Pacitan, Jatim terdapat peternakan ayam broiler yang dikelola oleh  Gatot Purwadi.  Sekaligus dipercaya sebagai Lurah di desa Banjarsari.

Peternakan  dirikan itu bekerjasama dengan sebuah PT Ternama. Perizinan peternakan tersebut telah  diurus ijin usaha peternakan ayam,  dengan syarat tetap memperhatikan dampak terhadap  lingkungan baik tanah, air, dan udara. Selain itu juga kegitan peternakan tidak mengganggu aktivitas warga.

Baca Juga  Potensi UMKM di Alun-alun Pacitan

Pertama, penting untuk memahami dampak limbah produksi ayam terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar. Limbah dari peternakan ayam, termasuk kotoran dan limbah, dapat menyebabkan pencemaran lingkungan dan konflik dengan masyarakat karena bau yang tidak sedap dan kemungkinan pencemaran air tanah.

Jurnalis Sabtu (30/3/24)  menanyakan kepada pengelola ternak,   Dela (27) menuturkan bahwa limbah kotoran dari peternakan tersebut sebagian besar diolah menjadi pupuk organik.

“Kotoran ayam diolah melalui pengomposan, dapat digunakan sebagai pupuk organik yang berguna bagi pertanian lokal. Dengan cara ini, limbah peternakan unggas dapat diubah menjadi sumber daya yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat lokal, meningkatkan kesuburan tanah dan hasil pertanian, sekaligus mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia yang berbahaya bagi lingkungan,” jelasnya.

Baca Juga  Diskusi Studi Nilai Budaya Tradisi Ojung: Menelusuri Kearifan Lokal dan Peranannya dalam Identitas Bondowoso

“Saya membangun peternakan yang jauh dari pemukiman warga,  agar  tidak mengganggu aktivitas warga sekitar, dan saat panen    sesekali membagi hasil saya setelah panen” tutur  Gatot (52).

Pendidikan dan pelatihan juga penting. berperan dalam menciptakan hubungan yang saling menguntungkan antara peternakan ayam dan masyarakat lokal. Melalui program ini, petani dapat belajar tentang praktik pengelolaan sampah terbaik dan pentingnya komunikasi terbuka dengan masyarakat lokal. Di sisi lain, masyarakat memahami dampak peternakan ayam dan mendukung solusi berkelanjutan.

“Masyarakat di Desa Banjarsari tidak mempermasalahkan berdirinya peternakan ini, karena jauh dari pemukiman dan dengan adanya peternakan ini membantu menyediakan lapangan pekerjaan bagi warga sekitar. Salah satunya adalah saya yang sangat terbantu di tengah mencari pekerjaan sekarang yang sangat sulit,” ujar Tono (28).

Baca Juga  Bupati Pacitan, Pantau Penyaluran BPNT Pastikan Kualitas Bantuan Lebih Baik

Terakhir, menjaga keseimbangan antara kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat dalam peternakan ayam broiler adalah tantangan nyata namun dapat diatasi. Melalui teknologi inovatif, pengelolaan limbah yang efektif, dan pelatihan berkelanjutan, dapat menciptakan sistem yang memungkinkan pengoperasian peternakan ayam berkelanjutan dan bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.

Pewarta: Atika Rifanandasari- PGSD STKIP PGRI Pacitan