Menonton Pertunjukan Ludruk: Melestarikan Seni Tradisional; Mendulang Multinilai

Menonton Pertunjukan Ludruk:  Melestarikan Seni Tradisional; Mendulang Multinilai
SHARE

Oleh: Dr. Drs. Sugit Zulianto, M.Pd (*)

Kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat, termasuk kesenian. Dalam kehidupan sehari-hari, apapun bentuknya, karya seni yang menggambarkan daya olah akal dan kalbu manusia patut diapresiasi keberadaan dan kemanfaatannya. Dengan menghargai karya seni, misalnya seni ludruk, sudah sepatutnya perilaku jiwa itu disetarakan denganmaksud praktik menghormati sesama manusia.

Sehubungan dengan itu, sebagai kesenian tradisional yang berkembang, bahkan bersanding dengan kesenian modern tanpa kehilangan jatidirinya, seni ludruk patut disambut sebagai entitas seni hasil kreativitas warga masyarakat Jawa Timur. Untuk itu, bila turut menyambut (baca: menonton) pertunjukan seni ludruk, di
manapun berada, warga Jawa Timur sebenarnya tidak hanya turut melestarikan, tetapi sekaligus ikut memartabatkan nilai-nilai moral yang diungkapkan para aktornya.

Sebagaimana lazimnya, melalui karya seni, sang seniman mempertimbangkan tutur luhur yang patut ditampilkan untuk mengaktualisasikan adab kehidupan, sekaligus memperbaiki akhlak masyarakat yang mungkin terbelokkan oleh kemajuan zaman. Pada konteks itu, persandingan dan persaingan multiseni: tradisional dan modern, relatif sengit.

Namun, pemajuan bidang seni tradisional jelas tidak dapat terlepas dari sorotan  tentang pentingnya visi kebudayaan, yakni terus melestarikan kebudayaan melalui pertunjukan kesenian tradisional. Dengan menonton seni ludruk, misalnya, warga masyarakat sebenarnya telah terlibat aktif mendulang multinilai guna membentuk generasi yang berkarakter. Dengan arah visi/misi itu, intensitas menonton pertunjukan seni ludruk perlu ditingkatkan meskipun melalui youtube saat era kebersamaan dengan masyarakat multikultur global begitu masif.

Dalam hal itu, secara demografis, kebiasaan masyarakat Jawa Timur menonton pertunjukan seni ludruk secara langsung lazim terjadi, misalnya saat seseorang memiliki hajat; organisasi sosial merayakan ulang tahun; serta pemerintah menyemarakkan hari besar nasional. Pada  situasi-situasi itulah, ada segenap multinilai yang didengar dan dipahami oleh penonton tanpa  ada perasaan digurui atau ditekan untuk menerima dan menerapkan kebenaran multi nilainya dalam kehidupan sehari-hari.

Gambar: Pelatihan Kelas Ludruk (Tari Remo Surabaya)

Dalam konteks sosial budayanya, saat seseorang yang memiliki hajat tertentu atas perolehan kebahagiaan keluarga, beragam hiburan seni tradisional pun lazim diselenggarakan. Kebahagiaan warga masyarakat terjadi, misalnya saat mengkhitankan putranya; waktu mendapatkan hasil panen berlimpah; termasuk ketika menikahkan putra/putrinya.

Dalam suasana sebahagia itu, kesenian tradisional Jawa Timur dipilih dan dihadirkan untuk menghormati dan menghibur para tamu. Melalui kesenian tradisional, pengundang dapat dan boleh menyampaikan kebahagiaannya kepada warga masyarakat, baik secara tersirat maupun tersurat. Artinya, seseorang yang memiliki hajat tertentu dapat menitipkan pesan moral kepada pelaku seni pertunjukan tradisional yang digelarnya bahwa dirinya mendapatkan sesuatu kebahagiaan atau memiliki hajat tertentu hingga kesenian tradisional pun dipertotonkan.

Baca Juga  Penandatangan Perjanjian Kerjasama, STKIP PGRI Pacitan dengan PT.Prabangkaranews Media Group

Namun, hal itu tentu diperbolehkan dan dibenarkan selama titipan pesan tidak merusak struktur cerita seni pertunjukan. Dengan begitu, ikatan sosial antarwarga dan antarmarga dalam  masyarakat makin erat tanpa sekat karena lazim disemarakkan secara santai oleh komedian. Senada dengan suasana itu, organisasi sosial yang merayakan ulang tahunnya; termasuk  berkenaan dengan keberhasilannya meraih suatu prestasi, kesenian tradisional digelar sebagai hiburan.

Artinya, pergelaran kesenian tradisional dimaksudkan untuk menghibur anggota  keorganisasian secara khusus. Meskipun begitu, pergelarannya dilaksanakan di ruang terbuka hingga memudahkan warga masyarakat luas di luar keorganisasiannya untuk turut merasakan kegembiraan. Pada kenyataannya, tanpa batasan usia, masyarakat luas boleh hadir menonton pertunjukan seni tradisional di tempat terbuka.

Keterbukaan pertunjukan itu menandakan seni  tradisional tidak ditujukan kepada lapisan usia atau anggota keorganisasian tertentu. Jika diperhatikan, segenap keluarga anggota keorganisasian yang memiliki hajat juga  diperkenankan hadir menonton, berapapun jumlahnya. Kehadiran mereka dimaksudkan untuk mengetahui pesan-pesan yang disampaikan oleh pengurus organisasi karena akan berdampak  pada dirinya.

Dengan memanfaatkan pelaku seni tradisional, pesan keoraganisasian sosial  mudah diterima dan dipahami oleh warga masyarakat. Selaras dengan kegembiraan mereka, keluarga dan organisasi, pemerintah pun tidak kalah partisipatif dalam memanfaatkan kesenian tradisional. Untuk menyampaikan pesan- pesan pahlawan saat merayakan hari besar nasional, pelaku kesenian tradisional kerap diundang dan ditampilkan secara meriah di lapangan-lapangan terbuka. Melalui tampilan
khasnya, pelaku-pelaku seni tradisional pun tidak ragu-ragu menjadi ujung tombak untuk mengabarkan capaian pembangunan. Pilihan seni ini didasarkan pada pertimbangan bahwa  pelaku kesenian tradisional memiliki ikatan sosial dengan masyarakatnya secara masif.

Dengan begitu, ketika mendengar akan segera digelar pertunjukan kesenian tradisional di waktu dan tempat tertentu, warga masyarakat dari semua penjuru hadir untuk menyaksikan. Inilah  kesempatan emas pemerintah untuk mengajak masyarakat menghormati hari besar nasional, termasuk menghargai para pahlawan. Pada kemeriahan itu, pemerintah berpeluang untuk menanamkan pesan dinamis, terkait dengan pembangunan yang telah dan akan dilaksanakan.

Bertolak dari kebiasaan memanfaatkan kesenian sebagai sarana untuk menyampaikan pesan kebahagiaan keluarga; mengabarkan keberhasilan organisasi sosial; serta memublikasi kesuksesan pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah, kesenian tradisional Jawa Timur, seni ludruk, kerap menjadi pilihan. Pilihan itu tidak terlepas dari peluang diperolehnya kesempatan penyampaian pesan-pesan kepada khalayak penonton hampir pada semua tahap.

Sesuai dengan stuktur pementasannya, seni ludruk memiliki urutan tahap-tahap tampilan (1) tari remo, sebagai tari pembuka; (2) atraksi tarian bedayan, sebagai ucapan selamat datang;  (3) adegan dagelan, sebagai komedian hiburan; dan (4) sajian lakon, sebagai kisah utama.

Baca Juga  Konflik Keraton Surakarta Kembali Memanas, Dipicu Penetapan Putra Mahkota

Melalui setiap tahap itu, misalnya tahap (1), penari remo tidak hanya menari dengan mengerakkan tubuh sesuai dengan konvensi tari, tetapi juga menggunakan suaranya untuk menembang (Jw: nggandang, ‘melantunkan syair’) yang kerap berisi nilai-nilai moral untuk suatu kebaikan hidup warga masyarakat, bukan suatu ajakan untuk berbuat kerusakan dalam kehidupan.

Dengan gerakan fisik yang kekar dan gesit, termasuk iringan musik tradisional (Jw: gendhing, ‘menggunakan gamelan’), penari remo tidak hanya memukau penonton, tetapi juga menyisipkan tembang jula-juli (Jw: parikan, ‘melafalkan pantun’). Pada fase itu, penonton terdiam mendengarkan karena terdidik oleh pesan dalam syair yang dilantunkan penari remo.  Setelah tampilan tari remo, baik gaya pria atau wanita, urutan selanjutnya dalam struktur tampilan seni ludruk, yakni bedayan (Jw: menari dengan lembut, ‘menari gembira dengan gerak ringan’), namun disertai dengan tembang yang mengarah pada letupan ungkapan untuk mendidikkan pesan menghargai orang lain, termasuk ucapan selamat datang kepada penonton.

Selain kekhasan syair khusus untuk memperkenalkan komunitas ludruknya, saat  tahap bedayan, penari bedayan tidak mau kalah dengan penari remo, terutama dalam hal memilih jula-juli yang berisi pesan nilai moral. Dengan iringan gamelan yang rancak, gerak atau gestur tubuh sang aktor saat atraksi bedayan kerap mencerminkan kegembiraan, sekaligus menunjukkan kelapangan hati para penari. Dengan begitu, tercermin kesenangan hati pengundang sebagai penyelenggara (baca: pemilik hajatan).

Namun, jula-juli terpilih tidak sama dengan tembang yang dilantunkan penari remo. Meskipun begitu, saat atraksi bedayan tetap disampaikan nilai moral, baik untuk menerima tamu maupun menghibur penonton. Jika dibandingkan dengan gerakan tari remo dan atraksi bedayan, tahap dagelan memiliki kekhasan. Hal itu terlihat pada gerakannya. Pada saat tari remo dan atraksi bedayan, gerakan fisik para aktornya relatif konvensional. Artinya, ada pola tertentu yang mesti diikuti.
Akan tetapi, gerakan  seorang komedian pada tahap dagelan, relatif bebas. Dengan fokus menimbulkan suasana humor, seorang komedian (baca: pelawak) boleh melakukan gestur pilihan pribadinya asal penonton gembira.

Kegembiraan penonton terlihat dari suara tawa yang relatif menggema. Pada praktiknya, seorang komedian pada adegan dagelan, ia tampil seorang diri. Sesaat di panggung, ia berhadapan dengan sebanyak mungkin penonton yang menunggu munculnya gestur pemicu tawa serempak. Tampilan tunggal yang juga biasa disebut ngepur (Jw: ‘tampil tunggal’) kerap ditekankan untuk memancing tawa riang penonton.

Baca Juga  Bamsoet: Masuki Pola Hidup Baru, Digitalisasi Pemilu Perlu Dikembangkan

Pada saat ini, pelawak yang didukung pelawak lain, memilih tembang, terutama jula-juli yang berisi parikan tentang tuntunan perilaku hidup dalam kebersamaan dan keberagaman di masyarakat.

Sebagai tahap akhir, tampilan seni ludruk berupa cerita/lakon yang dimainkan oleh sejumlah aktor. Sehubungan dengan banyaknya peran yang ditampilkan, jumlah pelaku cerita umumnya lebih banyak daripada pelaku tari remo dan atraksi bedayan, termasuk dagelan.  Walaupun jarang terjadi, setelah berdandan khas aktor cerita, penari remo, penari bedayan, dan pelaku dagelan, boleh turut berperan dalam tampilan lakon. Adegan penampilan lakon dalam ludruk kerap memerlukan pelaku yang lebih banyak dengan karakter berbeda.

Sebab itu, anggota komunitas seni ludruk kerap dilibatkan dengan peran ketokohan masing-masing. Pada posisi ini, pesan-pesan moral dalam kehidupan masyarakat diaktualisasikan oleh setiap aktor secara natural. Secara umum, tampilan watak aktor senantiasa konvensional sesuai dengan ide cerita. Namun, rekayasa tampilan selalu ada, tergantung surtradara yang mengendalikannya.

Tidak jarang, dalam tampilan seni ludruk, suatu lakon dikehendaki dan direkayasa oleh pemilik hajat agar dapat disisipi dengan pesan nilai-nilai moral asal tidak merusak stuktur lakon ludruk.

Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa menonton pergelaran seni ludruk di masyarakat sebenarnya merupakan kolektivitas praktik sosial terbuka suatu bangsa untuk melestarikan kesenian tradisional yang begitu tegar berdampingan, bahkan begitu kuat terus bersaing dengan kesenian modern. Demi menjaga harmonisasi suasana fluktuatif itu, masyarakat Jawa Timur memiliki kemantapan bahwa seni ludruk tetap bertahta di hati dan bertahan di tengah masyarakat meskipun dilanda gempuran kesenian asing.

Namun, rasional mendasarnya, yakni praktik mendulang emas (baca: memperoleh nilai-nilai moral) yang dialami generasi tua perlu terus ditularkan dan disebarluaskan untuk menumbuhkan rasa peduli generasi sebagai penerus dinamika bangsa berbasis budaya. Akhirnya, ada wajarnya bahwa menonton pertunjukan seni ludruk dipandang sebagai praktik strategi kebudayaan dalam pemertahanan kultur bangsa. Hal itu menegaskan bahwa pada era informasi, asal tidak merusak kesadaran akan pentingnya keberagaman, aktualisasi nilai-nilai moral dalam seni tradisional perlu disaksikan, bukan hanya didongengkan.

Meskipun begitu, kearifan menjaga estetika berkesenian perlu dijaga adabnya, bukan suka-suka karena sebersahaja seni tradisional pun tentu ada haluan pakemnya yang patut terus dilestarikan. Salam budaya.

(*) Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, serta Peer Group Javanologi, Universitas Sebelas Maret, Surakarta