Kisah Inspiratif Mbah Tumarjo: Perjalanan Seorang Pengrajin Kayu

Kisah Inspiratif Mbah Tumarjo: Perjalanan Seorang Pengrajin Kayu
SHARE

PRABANGKARANEWS || Kayu telah lama menjadi material yang tak tergantikan dalam peradaban manusia. Selain sebagai bahan baku, kayu menawarkan keindahan dan fleksibilitas yang menjadikannya pilihan ideal untuk berbagai kebutuhan. Kegunaannya sebagai bahan bangunan semakin meningkat seiring dengan perkembangan komunitas dan pemukiman manusia. Kayu yang kuat dan kokoh digunakan untuk membangun rumah, jembatan, dan benteng pertahanan, sementara sifatnya yang mudah dikerjakan membuatnya lebih disukai dibandingkan batu yang berat dan sulit dibentuk.

Sejak zaman dahulu, kayu menjadi pilihan favorit untuk pembuatan mebel. Sifatnya yang kokoh, tahan lama, dan mudah dibentuk menjadikannya ideal untuk menciptakan berbagai jenis mebel yang fungsional dan estetis. Keindahan alami kayu dengan seratnya yang unik dan warna hangat memberikan sentuhan alami pada ruangan, menciptakan suasana yang nyaman dan menenangkan. Kekuatan kayu memungkinkan mebel bertahan lama, dan jenis kayu yang berkualitas tinggi memberikan ketahanan terhadap kerusakan akibat jamur, serangga, dan cuaca.

Baca Juga  Pernyataan Sikap PPWI Terhadap Pernyataan Dewan Pers atas RUU Omnibus Law Cipta Kerja

Pengolahan dan penyimpanan kayu yang tepat sangat penting untuk menjaga kualitas mebel. Kayu yang diolah dengan benar dan disimpan di tempat kering cenderung lebih tahan lama. Selain keindahan alami, kayu juga menawarkan fleksibilitas dalam desain, memungkinkan pembuatan mebel dari berbagai gaya, mulai dari klasik elegan hingga modern minimalis. Sebagai sumber daya yang dapat diperbaharui, kayu adalah bahan yang ramah lingkungan, asalkan pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana dan berkelanjutan.

Artikel ini menggunakan metode deskripsi kualitatif untuk menggambarkan naratif kegiatan dan dampaknya. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan Mbah Tumarjo, seorang petani berusia 65 tahun yang juga ahli dalam mengolah kayu. Beliau tinggal di Dusun Gawang, Desa Ketro, Kecamatan Kebonagung, dan telah membuat berbagai kebutuhan rumah tangga dan perlengkapan rumah sejak tahun 1990.

Baca Juga  Pengamat Hibnu Nugroho Beberkan Langkah Progresif Penyidikan Tipikor Kejaksaan

Memulai karirnya sebagai pengrajin kayu bukanlah hal yang mudah bagi Mbah Tumarjo. Pada awalnya, alat-alat yang ada sangat terbatas dan hasil karya masih sederhana dan tradisional. Namun, ketertarikannya terhadap dunia mebel dimulai sejak kecil, saat sering mengunjungi rumah teman ayahnya yang seorang pengrajin kayu. Ketertarikan ini membawa Mbah Tumarjo untuk belajar langsung setelah lulus SD. Mbah Tumarjo memulai dengan mengenal berbagai jenis kayu dan alat-alat dasar seperti gergaji.

Dengan alat yang dipinjam, Mbah Tumarjo mulai membuat mebel sederhana seperti dingklik (tempat duduk kecil) di rumahnya. Seiring waktu, ia semakin menguasai keterampilan ini dan mulai menawarkan jasanya kepada tetangga. Ia membuat berbagai jenis mebel dari kursi, meja, pintu, hingga lemari, meskipun kini jumlah yang bisa disanggupi tidak sebanyak dulu karena faktor usia.

Bahan baku kayu biasanya berasal dari pelanggan, yang membawa potongan kayu besar untuk diproses oleh Mbah Tumarjo. Jenis kayu yang umum digunakan adalah jati, mahoni, dan akasia. Waktu pengerjaan bervariasi tergantung jenis dan desain mebel, mulai dari satu minggu untuk barang sederhana hingga dua minggu atau lebih untuk barang yang lebih kompleks.

Baca Juga  Wabup Gagarin; Hadiri Seminar Kebudayaan Diselenggarakan GMNI Pacitan

Walaupun kini tidak lagi menjadi prioritas karena usia dan pekerjaan sebagai petani, Mbah Tumarjo masih menerima pesanan mebel, meski sering merekomendasikan pelanggan ke pengrajin yang lebih muda. Keahlian dan dedikasi Mbah Tumarjo selama 34 tahun telah menjadikannya pengrajin kayu yang dihormati.

Kisah Mbah Tumarjo adalah sumber inspirasi, menunjukkan bahwa keahlian dan keterampilan diperoleh melalui usaha keras, ketekunan, dan keikhlasan. Hal ini juga menjadi dorongan bagi generasi muda untuk terus berkarya dan mengembangkan diri.

Penulis: Syafirna Cahya Setyana – PBSI STKIP PGRI Pacitan