MELACAK AJARAN SASTRA JENDRA HAYUNINGRAT PANGRUWATING DIYU
Oleh
Prof. Dr. Bani Sudardi
Anggota Dewan Pakar Senawangi
Dalam kebudayaan Jawa, khususnya dalam tradisi Jawa baru terdapat sebuah ajaran yang dianggap sebagai suatu ajaran yang keramat yang disebut sebagai sastra Jendra Hayuningrat Panggruating Diyu. Ajaran ini konon merupakan ajaran yang dimiliki oleh Resi Wisrawa yang diberikan kepada Dewi Sukesi sebagai bagian dari sayembara memperebutkan Dewi Sukesi.
Diceritakan bahwa Dewi Sukesi mau diambil sebagai istri apabila calon suaminya dapat membunuh pamannya, seorang raksasa yang bernama Jambu Mangli. Raksasa ini sebenarnya mencintai Sukesi, tetapi Sukesi tidak tertarik kepadanya. Syarat yang kedua adalah calon suaminya tersebut harus dapat menjelaskan tentang sebuah kitab atau sebuah ajaran yang disebut sebagai “sastra jendra hayuningrat pangruwating.”
Sampai saat ini masyarakat Jawa masih ada yang percaya bahwa ajaran tersebut merupakan suatu ajaran rahasia. Ajaran tersebut tidak dapat dituliskan, tetapi harus dijelaskan. Sastra Jendra hayuningrat ini sangat menarik dan banyak dipentaskan sebagai lakon wayang Jawa.
Kisah Suksesi dan Begawan Wisrawa ini adalah bagian dari kisah dalam Ramayana, yaitu di kandha (bab) terakhir yang disebut Uttarakanda. Namun demikian, kisah tentang sastra jendra itu tidak disebutkan dalam kisah-kisah Ramayana di Jawa.
Sebagaimana diketahui bahwa kisah Ramayana sudah masuk ke Jawa sejak abad ke-9 dan menjadi relief utama di Siwagrha (Candi Prambanan). Ramayanan
merupakan kakawin tertua di dalam sastra Jawa Kuna. Dalam kakawin itu belum ditemukan tentang ajaran sastra jendra tersebut.
Pada masa raja Darmawangsa Teguh dari Medang (991-1016) muncul karya sastra prosa berjudul Uttarakanda. Karya ini merupakan saduran Ramayana, bagian terakhir. Dalam karya ini juga tidak muncul istilah sastra jendra. Kisah sastra jendra dalam tradisi India adalah kisah tentang kelahiran Rahwana yang versi In dia berjudul Rahvanotpatti. Dalam tradisi Jawa Kuna, teks tersebut berjudul Kakawin Arjunawijaya yang merupakan gubahan empu Tantular dari masa Majapahit.
Cerita ini sangat terkenal dan menyebar di Jawa, Bali, dan Sunda. Dalam bahasa Jawa Baru kisah ini menjadi lakon wayang dengan judul Lampahan Arjuna Sasrabahu. Hal ini menunjukan bahwa teks ini merupakan teks yang digemari orang Jawa sejak masa lalu sampai saat ini.
Cerita kelahiran Rahwana atau Kakawin Arjunasasrabahu mengisahkan tentang keluarga Raja Sumali yang dikalahkan oleh Dewa Wisnu. Sumali ini mempunyai anak Sukesi. Baik Sumali maupun Sukses adalah bangsa raksasa (diyu) . Sumali sangat dendam kepada Wisnu dan menginginkan membalas dendam. Untuk itu, ia menginginkan anaknya yang bernama Sukesi menikah dengan pria yang sakti yang bukan bangsa diyu. Kebetulan, setelah dikalahkan Wisnu, kerajaan dikuasai oleh Wisrawa yang merupakan manusia keturunan dewa yang sakti.
Sumali dan Sukesi sangat kagum pada Wisrawa. Karena itu, agar sifat diyu (raksasa) hilang dan memiliki anak sakti, maka Sukesi si raksasa dikawinkan dengan Wisrawa. Sebenarnya makna pangruwating diyu ada di sini. Tetapi orang Jawa memberikan tafsir yang berbeda.
Hasil perkawinan itu ternyata tidak seperti yang diharapkan. Anak pertama lahir berupa seorang biru dengan kepala 10 yang kemudian diberi nama Dasamuka. Dasamuka adalah seorang campuran antara darah brahmana dan kesatria. Karena itu, Dasamuka menjadi seorang yang sangat Sakti. Dia merupakan pengabdi Dewa Siwa sehingga mendapat Anugerah kesaktian-kesaktian luar biasa.
Yang diharapkan dewi Sukesi dan Sumali sebenarnya sudah tercapai, hanya saja wujud dasamuka ini sangat mengerikan. Anak yang kedua lahir dalam bentuk raksasa yang sangat besar. Anak tersebut diberi nama Kumbakarna. Raksasa ini sangat Sakti, tetapi kesukaannya adalah makan dan tidur. Meskipun demikian, raksasa ini berhati mulia dan tahu akan kebenaran.
Kumbakarna karena mengingatkan Dasamuka untuk mengembalikan Dewi Sita yang telah diculiknya supaya keadaan menjadi damai. Hal ini justru membuat marah Dasamuka. Anak yang ketiga adalah seorang ksatria yang tampan bernama Gunawan Wibisana. Tokoh ini memiliki kebaikan dan tahu akan kebenaran serta sudah mengingatkan Dasamuka agar Dewi Sita dikembalikan.
Namun demikian, Dasamuka justru marah dan mengusir Gunawan Wibisana dari kerajaan Alengka. Anak yang keempat seorang raseksi yang bernama Sarpanaka. Raseksi ini memiliki tangan yang memiliki kuku yang memiliki racun seperti racun seekor ular. Sarpanaka memiliki sifat jahat dan sangat gemar bermain seks.
Jadi sebenarnya yang dimaksud sastra jendra pangruwating diyu adalah cerita tentang perkawinan Dewi Sukesi yang Raksasa dengan resi Wisrawa yang manusia dalam rangka meruwat keadaan diyu atau raksasa sehingga anak turunnya menjadi anak turun yang baik-baik. Tujuan tersebut tidak sepenuhnya terlaksana.
Dalam hal kesaktian, hampir semua anak Dewi Sukesi dan Resi Wisrawa adalah sakti-sakti.
Dalam hal wujud, dari empat anak yang dilahirkan hanya satu anak yang berwujud manusia. Satu anak tersebut bernama Gunawan Wibisana yang merupakan seorang yang sakti dan memiliki jiwa untuk membela kebenaran. Gunawan Wibisana ini terusir dari Alengka karena pertengkaran dengan Dasamuka.
Gunawan Wibisana lalu ikut berjuang bersama Sri Rama dalam menumpas angkaramurka. Berkat kehadiran Gunawan Wibisana inilah Dasamuka dapat ditewaskan karena hampir semua rahasia pasukan Dasamuka ada dalam diri Gunawan Wibisana. Dia mengetahui kelemahan semua orang Alengka.
Kisah tentang kelahiran rahwana sebenarnya hanya merupakan bagian saja dari kisah Arjuna Wijaya. Dalam kisah tersebut, ada Peperangan antara Arjuna Wijaya dengan Rahwana. Rahwana berhasil dikalahkan oleh Arjuna Wijaya dan kemudian mendapat ampunan.
Kisah selanjutnya adalah kisah tentang peperangan Sri Rama dengan Rahwana. Kisah ini merupakan kisah yang sangat digemari sejak zaman dulu sampai saat ini dan disadur dalam bentuk karya yang beraneka rupa. Dalam kisah ini, Rahwana dan ketiga adiknya yang berupa biru atau raksasa berhasil ditewaskan.
Mungkin maksud dari pangrurwating diyu adalah tewasnya para raksasa oleh pasukan Sri Rama. al ini sebenarnya merupakan suatu kebetulan karena pada akhir Majapahit munculah karya-karya yang tidak menyuarakan tentang karmapala lagi, tetapi menceritakan tentang pangruwatan dari tokoh-tokoh dari dunia pewayangan.
Pada akhir Majapahit setidaknya ada tiga Karya yang merupakan karya yang berisi ajaran peruwatan. Karya yang pertama adalah Kidung Sudamala yang berisi
perwatakan dewi Uma akibat perbuatan salahnya dengan Batara Guru. Yang meruwat adalah Sadewa yang merupakan tokoh terkecil dari Pandawa. Cerita perbuatan yang kedua adalah cerita dewa Ruci yang menceritakan Bima yang berhasil meruwat batara Indra dan Batara Bayu yang dianggap telah melakukan kesalahan oleh para Dewata. Cerita peruwatan yang ketiga adalah cerita Murwakala yang bagi para dalang di Surakarta dan Yogyakarta merupakan buku babon
pelaksanaan peruwatan.
Demikianlah, Uttarakanda ini banyak berkisah tentang Maharaja Rahwana. Setidaknya, pada bagian awal ini mengisahkan tentang kelahiran Rahwana serta konflik Rahwana dengan Arjuna Wijaya atau dikenal juga dengan Arjuna Sasrabahu. Cerita selanjutnya adalah menceritakan tentang peperangan Sri Rama dengan Rahwana. Hal ini menunjukkan dominasi cerita Rahwana dalam Utarakanda.
Kiranya cerita tentang Rahwana ini merupakan cerita yang sangat digemari. Setidaknya pada zaman Raja Balitung dari Mataram Hindu, cerita ini sudah dipahatkan di Candi Prambanan atau yang sering disebut sebagai Siwagrh. Cerita tersebut juga muncul pada zaman Dharmawangsa Teguh dalam bentuk prosa. Pada masa Majapahit cerita tersebut muncul dengan judul yang berbeda yaitu Arjunawijaya.
Hal ini menunjukkan bahwa dominasi cerita adalah tentang Arjunawijaya. Pada masa Jawa baru, cerita tersebut muncul dengan nama Arjunasasrabahu. Sementara cerita tentang Sri Rama muncul dalam bentuk Serat Rama.
Yang menarik adalah adaptasi cerita-cerita sebut di dalam dunia pewayangan. Dunia pewayangan Jawa memiliki karakter yang spesifik. Setiap dalang diizinkan untuk mengubah suatu cerita disesuaikan dengan keadaan yang sering disebut sebagai sanggit.
Cerita-cerita tersebut mengalami sanggit dan muncullah berbagai bentuk versi dari cerita lahirnya Rahwana atau Dasamuka. Satu cerita ditemukan beberapa versi yang berbeda. Cerita lahirnya Rahwana, misalnya dapat diberi judul Rahwana Lahir, Alap-alap Sukesi, Sastra Jendra Hayuningrat, dan sebagainya. Dalam versi pedalangan, Dewi Sukesi adalah seorang wanita yang sangat cantik sehingga resi Wisrawa menjadi jatuh cinta dan gagal ketika menjelaskan tentang Sastra Jendra.
