Lelakon Gus Miftah Dan Kisah Wahyu Cakraningrat
Oleh: Prof. Bani Sudardi
Guru Besar Universitas Sebelas Maret/ Dewan Pakar SENAWANGI
Sebuah peristiwa memprihatinkan terjadi.Gus Miftah mengatakan goblog kepada seorang penjual es teh keliling dalam suatu pengajian di Magelang. Netizen menganggap itu sesuatu yang tidak baik seorang pejabat negara mengatakan kepada rakyat tkecil kata-kata tidak senonoh. Buntut dari peristiwa itu adalah tuntutan agar presiden Prabowo Subianto memecat utusan presiden tersebut.
Muncul juga video lain ketika utusan tersebut pentas bersama Ibu Yati Pesek dan dalam pentas tersebut keluar juga kata-kata yang tidak senonoh. Buntut dari peristiwa itu, gus Miftah sudah meminta maaf dan mengundurkan diri dari jabatan utusan presiden. Maka berakhirlah jabatan yang belum genap 3 bulan tersebut.
Dalam dunia pewayangan cerita tersebut mirip dengan cerita Sarjokusumo atau Lesmana Mandrakumara, putra mahkota Hastina. Dalam lakon Tumurune Wahyu Cakraningrat peristiwa yang mirip dengan yang menimpa Gus Miftah ini juga terjadi, tentu saja dalam bentuk yang agak berbeda. Cerita ini merupakan cerita Carangan gagrag Ngayogyakarta Hadiningrat dan merupakan cerita yang dahulu sering dipentaskan oleh Ki Dalang Hadisugito.
Diceritakan bahwa di dunia pewayangan tersiar kabar akan turunnya wahyu cakraningrat. Barang siapa mendapatkan Wahyu tersebut maka anak turunnya akan menjadi raja besar. Tentu saja hal ini sangat menarik pemuda-pemuda dari Hastina, Dwarawati, dan Amarta.
Putra mahkota Hastina, Raden Lesmana Mandrakumara atau Bagus Sarjakesuma juga tidak mau ketinggalan.Ia berniat mendapatkan wahyu tersebut. Ia ingin bertapa guna memperoleh wahyu tersebut. Hal itu ditertawakan oleh Burisrawa, sang pa sang paman karena tahu betul akan karakter pangeran Lesmana tersebut.
“Ha ha ha anak mas Sarjakusuma. Apa bisa kamu mendapatkan Wahyu itu. Karena orang yang memperoleh Wahyu itu harus bisa menahan nafsu, harus bisa berbuat adil, tidak sombong, dan tidak boleh misuh. Ha ha ha padahal dirimu itu paling tidak tahan menahan lapar, begitu ada peristiwa sedikit saja yang tidak berkenan kamu pasti langsung misuh. Lha kalau begitu mana mungkin Wahyu mau datang,” kata Burisrawa.
“Aduh Paman, jangan khawatir kita semua kan punya koneksi Batari Durga yang pasti akan selalu mendukung semua gerak langkah warga Hastina. Aku akan meminta ibu Batari untuk mengusahakan cita-citaku,” katanya optimis.
Maka menujulah Lesmana ke Hutan Setragandamayit, Kahewangan sang Batari Durga.
“Angger Sarjakesuma, putuku Hastina, ada apa kamu mesu budi di Kahewangan Setragandamayit,” tanya Batari Durga.
“Aduh Eyang Batari, cucu Paduka memiliki cita-cita untuk bisa memperoleh Wahyu cakraningrat supaya nanti anak cucu hamba bisa menjadi raja,” pinta Sarjakesuma.
” Oh baik cucuku, tetapi yang namanya memegang Wahyu itu ada syarat dan rukunnya. Diantaranya harus mampu berbuat adil, tidak sewenang-wenang, tidak suka menggerutu, bersifat Satria, dan tidak suka misuh,” pesan Batari Durga. “Lebih penting lagi jangan sampai kamu berbuat aniaya kepada rakyat kecil. Karena rakyat kecil sesungguhnya perwakilan suara Tuhan,” imbuhnya.
“Sendika Kanjeng Eyang, ” jawab Sarjakesuma singkat.
Sementara itu di tempat yang lain, Raden Samba putra mahkota dari Dwarawati juga sedang melaksanakan tapa brata memuja Batara Sanghyang Srigati. Samba pun mendapat wangsit dari Sangyang Srigati nasihat-nasihat yang baik.
“Cucuku Samba. Kamu ingin mendapatkan wahyu cakraningrat. Tetapi ada syarat untuk memperoleh wahyu tersebut. Kamu harus heneng hening. Harus mencintai sesama, tidak boleh sesongaran. Mencintai kepada kawula alit. Jangan sombong. Apalagi kalau kau sudah menjadi ratu, maka harus adil ambeg paramarta, bahu denda nyakrawati,” wejangan Batara Sang Hyang Srigati.
“Jangan khawatir Eyang. Cucu Samba pasti bisa menjalankan itu semua. Samba itu putra Krisna, titisan Wisnu yang pasti mampu berbuat baik. Hidup selalu dekat dengan dewata, ibaratnya” jawab Samba dengan penuh semangat.
Pada tempat yang lain, Abimanyu juga sedang berada di Wukiratawu menghadap Eyang Abiyasa diiringi para prapat punakawan Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Intinya meminta doa pangestu akan mesu budi mengaharap anugerah Sang Hyang Widi mendapatkan wahyu cakraningrat.
“Oh cucuku bocah bagus. Iya iya Ngger. Saya memberkahi langkah jejak dan cita-citamu,” kata sang Bagawan dengan senyum manis.
Tersebutkan di Kahewangan Cakrakembang. Dewata Kamajaya dihadap istri Dewi Ratih dan segenap hamba sahaya. Hadir pula Batara Cakraningrat di penghadapan yang sepertinya ada sesuatu yang sangat penting. Tapi ijinkan Ki Dalang pasang pocapan suluk.
Lêng lêng ramya nikang sasangka kumênyar
Oooooong……
mangrêngga rum ning puri ,
mangkin ta pasiring ,
halêp ikang umah mas ,
lwir murub ing langit ,
têkwan sarwa manik ,
tawingnya sinawung ,
saksat sêkar ning suji ,
ungwan Sang Dewi Ratih yanamrêm mwang Dewata Kamajaya
Oooooongggg
“Wahai Cakraningrat. Ini sudah kehendak dewata yang murbeng dumadi, kamu diperintah turun ke dunia untuk dapat menitis ke manusia untuk menurunkan wijid dadi, trah yang akan menurunkan para raja di marcapada,” kata Batara Kamajaya.
“Kawula noknon. Sendika dawuh dhuh Batara,”kata Batara Cakraningrat.
“Kamu akan turun dalam bentuk wahyu cakraningrat. Tapi ingat diingat, kamu hanya boleh manjing kepada manusia yang berbudi bawa leksana, yang asih asuh, tidak anaiaya, tidak sombong, tidak sesongaran, tidak dahwen, ati open panasten. Harus memilih satriya yang jatmika ing budi, ambeg adil paramarta,” kata Kamajaya melanjutkan.
“Kawula noknon,” jawab Batara Cakraningrat.
“Jangan terlalu lama, hari ini juga engkau berangkat. Pokoknya nggak pakai lama ya,” kata Batara Kamajaya.
Perlahan berdiri Batara Cakraningrat. Dia menyembah Batara Kamajaya lalu meminta restu.
Perjalanan Batara Cakraningrat yang sudah berubuh menjadi wahyu cumlorot keemasan sudah sampai di Hutan Setragandamayit. Dia menemui Sarjakesuma yang sedang mesu budi.
“Kelihatan ini satriya pinilih. Coba aku manjing ke dalam gua garba. Hai satriya aku wahyu cakraningrat akan manjing ke dalam dirimu, “wangsit wahyu kepada Raden Sarjakesuma.
“Ha ha ha ha. Aku wus kepanjingan wahyu cakraningrat.,” kata Sarjakesuma kegirangan.
Dia lalu mempraktekan segala kemampuan dengan wahyu. Ternyata dia bisa terbang. Dia coba jebol pohon di hutan ternyata kuat juga.
“Oh oh oh. Aku jadi manusia super sakti. Ayo siapa berani padaku. Semua orang-orang goblog bisa aku kalahkan, ha ha ha”. Katanya sambil berjoget-joget.
Berjalanlah Sarjakesuma dengan berjoget-joget sepanjang jalan. Kadang ia terbang mengangkasa meliuk-liuk seperti seekor kupu yang menari-nari di langit. Kalau di bawah ada manusia yang menarik perhatiannya, maka ia segera turun dan menyapa.
“Bodoh. Akulah satria yang akan menurunkan para Ratu ratu rah tumerah. Ha ha ha,”katanya. “Akulah Sarjakesuma lelancuring jagat yang sakti mandraguna,”.
Kalau ada yang membantah atau mentertawakan, maka pasti kena hadiah bogem mentah.
Perjalanan Sarjakesuma sampailah kepada tempat bertapa raden Samba. Melihat orang yang sedang khusyuk bertapa dan diam, maka Raden Samba kemudian menegurnya.
“Hai goblok! Untuk apa kamu bertapa seperti itu. Menyingkirlah!. Inilah Sarjakesuma yang akan menurunkan ratu di dunia. Yang memiliki kesaktian bisa terbang dan pemilik Wahyu cakraningrat,” katanya.
Raden Samba yang sedang bertapa diam saja ditegur oleh Raden Sarjakesuma. Dia sangat khusyuk dalam mesu budi. Perbuatan ini membuat Raden Sarjakusuma marah besar. Segera saja bogem mentah mengarah ke muka Raden Samba. Tetapi satu keajaiban terjadi, wahyu cakraningrat yang bersemayam di dalam diri Sarjakesuma tiba-tiba lenyap dan beralih ke dalam diri Raden Samba. Sarjakesuma pingsan kemudian Raden Samba terbangun. Ia heran melihat satria hastina itu pingsan di hadapannya. Ia merasanya dirinya menjadi lebih baik dan tampan. Hebatnya lagi dia juga bisa terbang. Oh dia sudah kemasukan wahyu cakraningrat.
“Ha ha ha, aku sukses,”kata Samba.
Segera saja Dia terbang ke langit sambil berteriak-teriak.
“Akulah Samba putra Sri Kresna titisan Wisnu, pemegang hak atas Wahyu cakraningrat. Ayo siapa yang berani padaku. Ha ha ha. Akulah calon penerus ratu. Ayo Siapa yang bisa mengalahkan aku. Bodoh semuanya ha ha ha,” kata Samba sambil terbang mengakasa.
Tersebutlah ketika Raden Samba terbang mengangkasa, maka tampaklah cahaya manther dari tengah hutan di sekitar Padepokan Wukiratawu. Itulah cahaya raden Abimanyu yang sedang bertapa. Wahyu cakraningrat yang berada di dalam tubuh Raden Samba merasa, bahwa Raden Samba bukanlah tempat yang layak untuk sebuah Wahyu calon Ratu. Melihat cahaya manther itu, maka wahyu cakraningrat berkata.
“Kukira inilah wadhah sejati yang bisa momot wahyu karatuan. Inilah satriya sigit yang digambarkan Dewata Kamajaya yang memiliki watak ambel adil paramarta. Tidak adigang-adigung-adiguna. Satriya trahing kusuma, rembesing madu, tedhaking atapa turuning andana warih,” kata Wahyu Cakraningrat.
“Raden Samba. Jangan kaget saya oncat dari tubuhmu. Aku sudah menemukan Satria yang tidak sombong, yang tidak suka berkata goblok, biarlah aku manjing ke dalam Satria itu dan nanti menurunkan raja-raja yang ambek adil paaramarta. Selamat tinggal Raden Samba. Tidak patut orang yang sombong dan sesongaran ditempati wahyu cakraningrat” kata wahyu cakraningrat.
Mak keplas cahaya wahyu oncat dari tubuh Raden Samba. Seketika Raden Samba seperti dilolos otot bayunya. Hilang semua kekuatannya dan ia terbanting dari langit kehilangan daya wahyu cakraningrat.
Wahyu cakraningrat pun manjing ke dalam diri Abimanyu. Masuk pelan-pelan seperti siraman air. Mengendap dalam diri satriya yang jatmika ing budi. Tidak menimbulkan congkak dan kesombonga. Dirinya makin merunduk ibarat padi yang bernas.
Inilah satriya yang terkenal pemberani dan cinta tanah air, tetapi selalu hormat kepada orang lain dan berbudi bawa leksana. Ia sayang kepada segenap rakyat kecil dan dicintai rakyat kecil.
TANCEP KAYON
Dalam budaya Jawa , jabatan adalah wahyu. Semua harus dijalankan dengan amanah. Bila seorang yang berjabatan kasar, sombong, tidak amanah, maka sewaktu-waktu wahyu bisa loncat dan jabatan hanya akan menjadi fitnah kehidupan.
