Menghidupkan Kembali Lembar Budaya: Kiprah Saptanto Hari Wibawa dalam Pelestarian Wayang Beber
Oleh: Saptanto Hari Wibawa, M.Hum.
(*) Dosen PBI STKIP PGRI Pacitan
Di tengah derasnya arus globalisasi dan gempuran budaya digital, Saptanto Hari Wibawa justru memilih untuk menelusuri akar budaya lokal yang nyaris terlupakan. Dosen Pendidikan Bahasa Inggris STKIP PGRI Pacitan ini tidak hanya mengajar di kelas, tetapi juga terjun langsung dalam kegiatan pelestarian budaya sebagai bentuk nyata pengabdian kepada masyarakat.
Salah satu pengabdiannya yang paling menonjol adalah keterlibatannya dalam kegiatan Pertunjukan dan Diskusi Wayang Beber Joko Kembang Kuning/Tawangalun Donorojo yang diselenggarakan di Museum Ullen Sentalu, Yogyakarta. Kegiatan ini bukan sekadar pertunjukan seni tradisi, tetapi merupakan ruang edukatif yang menyatukan seni, sejarah, dan antropologi dalam satu panggung budaya.
Menjembatani Generasi Muda dan Budaya Tua
Kehadiran Saptanto dalam acara ini bukanlah kebetulan. Ia dikenal aktif dalam riset dan pengembangan budaya lokal, terutama dalam konteks pembelajaran lintas budaya dan integrasi budaya lokal ke dalam pendidikan bahasa. Baginya, pelestarian budaya tidak bisa hanya diserahkan kepada pelaku seni atau akademisi seni saja—pendidik pun harus turun tangan.
“Wayang Beber adalah bentuk komunikasi visual yang luar biasa. Ia bercerita, mengajarkan nilai, bahkan menyimpan catatan sejarah yang bisa kita pelajari kembali,” ujar Saptanto saat ditemui usai acara. “Saya ingin mahasiswa dan generasi muda memahami bahwa budaya lokal kita sangat kaya, dan tugas kita adalah menjaganya tetap hidup.”
Kolaborasi untuk Kebudayaan
Dalam kegiatan tersebut, Saptanto tak hanya menjadi peserta, tetapi juga menjadi jembatan antara akademisi, siswa, dan pelaku seni. Ia berinteraksi dengan siswa dari berbagai daerah, membantu menjelaskan konteks narasi Wayang Beber, serta mendorong diskusi mengenai pentingnya pemahaman budaya lokal dalam pendidikan.
“Ini bagian dari tri dharma perguruan tinggi—pengabdian kepada masyarakat. Tapi lebih dari itu, ini adalah panggilan nurani,” ungkapnya.
Ia juga terlibat dalam membangun jaringan antarwilayah untuk menyebarluaskan edukasi budaya tradisional melalui media yang lebih modern. Di STKIP PGRI Pacitan, ia telah menginisiasi sejumlah program kolaboratif antara mahasiswa dan komunitas seni lokal, termasuk proyek digitalisasi cerita rakyat dan pertunjukan tradisional.
Menanam Jejak dalam Lembar Beber
Salah satu poin penting dari diskusi yang dihadiri Saptanto adalah pembacaan ulang atas sejarah Wayang Beber dari gaya sungging dan kontekstualisasi historisnya. Baginya, ini adalah bentuk pembelajaran lintas disiplin yang ideal—menggabungkan seni rupa, sejarah, dan sastra dalam satu pengalaman edukatif yang utuh.
Melalui kegiatan seperti ini, ia berharap mahasiswa tidak hanya belajar tentang bahasa dan pendidikan, tetapi juga mampu menjadi agen pelestari budaya di daerahnya masing-masing. “Budaya bukan sesuatu yang kuno, tapi sesuatu yang hidup dan bisa diajarkan dengan cara yang kontekstual,” tegasnya.
Jejak yang Tak Sia-Sia
Kiprah Saptanto Hari Wibawa dalam pelestarian Wayang Beber hanyalah salah satu dari banyak kegiatan pengabdian yang ia lakukan. Namun, jejaknya di Museum Ullen Sentalu itu mencerminkan misi besarnya: menghubungkan dunia pendidikan dengan akar budaya bangsa.
Dalam kesunyian lembaran Wayang Beber yang perlahan dibuka dan dibacakan di hadapan generasi muda, tersimpan harapan bahwa warisan budaya ini tidak akan menjadi sekadar artefak masa lalu. Dan di balik lembar itu, ada sosok seperti Saptanto—yang setia menjaga agar cerita itu terus berlanjut.
