Fenomena Dingin “Bediding” Melanda Pulau Jawa, Bawa Suasana Sejuk dan Antusiasme Budaya
PRABANGKARANEWS, Pulau Jawa, Indonesia — Fenomena udara dingin langka yang dikenal dengan sebutan “Bediding” tengah menyelimuti sebagian besar wilayah Pulau Jawa, menghadirkan pagi dan malam hari yang lebih sejuk dari biasanya dan menyedot perhatian warga lokal maupun wisatawan.
Istilah “Bediding”, yang berasal dari bahasa Jawa, merujuk pada penurunan suhu udara yang biasanya terjadi saat musim kemarau, dan pada tahun ini terasa lebih mencolok. Menurut keterangan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena ini diperkirakan akan berlangsung hingga September 2025.
Linda Firotul, meteorolog dari BMKG Malang, menjelaskan bahwa kondisi ini dipengaruhi oleh angin timur yang kering, langit cerah, serta gangguan atmosfer seperti gelombang Rossby dan Kelvin, serta Madden-Julian Oscillation (MJO) yang mempercepat pelepasan panas di malam hari. Meskipun musim kemarau secara teknis dimulai antara akhir April hingga awal Juni, berbagai gangguan atmosfer sempat menunda kemunculan cuaca kering secara konsisten di beberapa wilayah, dikutip dari @Seasianews Selasa (15/7/25).
Kini, udara kering telah mendominasi wilayah Jawa, menyebabkan suhu malam hari turun cukup signifikan. Di kawasan Malang Raya, suhu udara kini berkisar antara 16°C hingga 20°C, bahkan lebih rendah dari rata-rata 30 tahun terakhir (1991–2020) yang berkisar 17°C hingga 20°C. Di dataran tinggi seperti Ranupane, dekat Gunung Bromo, warga bahkan mulai melihat munculnya embun beku atau “embun upas” — fenomena langka di wilayah tropis.
Meski secara ilmiah menjadi bahan kajian, fenomena Bediding juga menjadi pengalaman budaya bersama. Media sosial dipenuhi dengan unggahan warga yang mengenakan pakaian hangat, lanskap berkabut, dan tanaman beku, menjadikan musim kemarau tahun ini sebagai salah satu yang terdingin dalam beberapa dekade terakhir di Pulau Jawa.
Kombinasi antara gejala alam dan respons budaya ini menunjukkan bahwa alam tetap mampu memberi kejutan — bahkan di tempat yang sudah sangat kita kenal.
