Geger Pecinan 1742: Pemberontakan Berdarah yang Mengubah Sejarah Kartasura

Geger Pecinan 1742: Pemberontakan Berdarah yang Mengubah Sejarah Kartasura
SHARE

PRABANGKARANWS – Geger Pecinan merupakan peristiwa pemberontakan besar yang terjadi di Kartasura pada tahun 1742. Latar belakangnya adalah ketegangan antara pihak Kompeni Belanda (VOC) dan komunitas Tionghoa, yang memuncak dengan tragedi pembantaian massal terhadap orang Tionghoa di Batavia pada tahun 1740 oleh pasukan VOC. Insiden ini memicu gelombang migrasi orang-orang Tionghoa ke wilayah lain di Jawa, termasuk Semarang, di mana mereka kemudian bergabung dengan komunitas Tionghoa yang telah menetap sebelumnya (Davena Salsabilla, 2021).

Kejadian ini bermula dari tragedi kemanusiaan di Batavia, ketika pada tanggal 9–10 Oktober 1740, VOC melancarkan serangan brutal terhadap komunitas Tionghoa. Rumah-rumah dibakar, ribuan orang dieksekusi secara keji, dan suasana kota berubah menjadi lautan api dan darah.

Sebagai respons atas kebiadaban tersebut, banyak warga Tionghoa melarikan diri ke wilayah pedalaman Jawa Tengah. Di sana, mereka membentuk aliansi dengan kelompok-kelompok lokal, termasuk pasukan-pasukan yang berseberangan dengan kekuasaan VOC dan Kesultanan Mataram yang saat itu lemah dan terpecah.

Di saat bersamaan, dominasi perdagangan VOC di Semarang mulai dianggap mengancam kedaulatan politik Kerajaan Mataram di Kartasura. Hal ini mendorong Paku Buwono II untuk melancarkan perlawanan terhadap VOC, yang didukung oleh kelompok Tionghoa di Semarang sebagai bentuk pembalasan atas tragedi Batavia. Namun, perlawanan itu gagal, dan sikap Paku Buwono II berubah menjadi lebih kompromis terhadap VOC.

Baca Juga  Kapolri, Hadiri Gebyar Ekspor Tutup Tahun di Sulsel

Perubahan haluan ini memicu kekecewaan di kalangan Tionghoa, yang kemudian beralih mendukung pemberontakan yang dipimpin oleh Raden Mas Garendi—yang sebelumnya juga merupakan sekutu Paku Buwono II dalam melawan VOC (Sudewa, 1995).

Pemberontakan yang dipimpin Raden Mas Garendi dan didukung komunitas Tionghoa berhasil merebut Keraton Kartasura, peristiwa inilah yang kemudian dikenal sebagai Geger Pecinan 1742 (Ricklefs, 1991). Selama pemberontakan berlangsung, kerusakan besar terjadi: bangunan dibakar, toko dijarah, dan banyak korban jiwa jatuh dari kalangan Tionghoa maupun Jawa.

Akhirnya, pasukan VOC kembali dikerahkan untuk membantu Paku Buwono II menumpas pemberontakan tersebut. Namun, akibat kerusakan parah yang menimpa Keraton Kartasura, pusat pemerintahan pun dipindahkan ke desa Sala yang kemudian menjadi Surakarta Hadiningrat pada tahun 1745 (Davena Salsabilla, 2021). Menariknya, meskipun pernah memberontak, komunitas Tionghoa tetap diperkenankan tinggal di ibu kota yang baru.

Baca Juga  Jika Dokter Terawan Dipecat Terkait DSA: Bagaimana Praktek DSA Dokter Lainnya?

Namun pada tahun 1742, terjadi pelanggaran terhadap sumpah yang telah diucapkan dengan kelompok ionghoa. Pakubuwana II justru memilih berpihak kembali kepada VOC setelah menyaksikan kekalahan yang dialami oleh sekutu-sekutu Jawa dan Tionghoa di berbagai wilayah.

Langkah Pakubuwana II yang membelot memicu kemarahan besar di kalangan masyarakat Tionghoa. Mengacu pada buku Zaman Kalasurasa karya Wahyudi (2015: 275), kemarahan tersebut memuncak dalam aksi penghancuran istana Kartasura oleh kelompok Tionghoa.

Peristiwa inilah yang kemudian dikenal sebagai Geger Pecinan tahun 1742. Pada saat itu, Pakubuwana II dan pasukannya mundur ke wilayah Magetan, sementara Raden Mas Garendi dinobatkan menjadi Raja Mataram dengan gelar Sunan Amangkurat IV.

Meskipun pasukan gabungan Jawa–Tionghoa berhasil menguasai Kartasura, konflik belum benar-benar berakhir. Pakubuwana II bersama VOC dan pasukan dari Madura membentuk aliansi dan menyusun serangan balasan dari tiga arah.

Dipimpin oleh Cakraningrat, pasukan gabungan melancarkan serangan bertubi-tubi yang memaksa Sunan Amangkurat IV dan pasukannya mundur ke selatan. Akhirnya, Kartasura berhasil direbut kembali oleh pasukan Cakraningrat.

Baca Juga  Tim Pusdatin Kemendikbudristek Laksanakan Verifikasi Validasi Badut Sinampurno, Ploso, Pacitan

Setelah melalui perundingan panjang dengan pihak VOC, istana Kartasura akhirnya diserahkan kembali kepada Pakubuwana II.

Dari kisah ini dapat dipahami bahwa Geger Pecinan di Kartasura bukan sekadar konflik rasial, melainkan sarat dengan intrik politik dan perebutan kekuasaan. Peristiwa tersebut juga merupakan buntut dari tindakan represif VOC terhadap etnis Tionghoa di Batavia.

Peristiwa Geger Pecinan ini memberikan dampak mendalam terhadap perkembangan sejarah Surakarta, terutama sebagai pemicu perpindahan ibu kota kerajaan dari Kartasura ke Surakarta.

Hingga kini, kejadian ini masih menjadi bagian penting dari narasi sejarah lokal. Semoga ulasan ini menambah pemahaman dan kesadaran kita tentang dinamika sejarah kota Surakarta.

Referensi

Davena Salsabilla, M. L. (2021). POTENSI WISATA SEJARAH PERISTIWA GEGER PECINAN DI KARTASURA MELALUI SITUS KERATON KARTASURA. Urgensi Kesadaran Sejarah dan Pelestarian Budaya Daerah di Era Revolusi Industri 4.0, 107-114.

Ricklefs, M. C. (1991). Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. .

Sudewa, A. (1995). Dari Kartasura ke Surakarta. Yogyakarta: Lembaga Studi Asia.