Jejak Mistikal Ashabul Kahfi dan Qitmir di Asia Tenggara: Dari Manuskrip ke Azimat
PRABANGKARANEWS – Ashabul Kahfi, sekumpulan pemuda yang melarikan diri ke gua demi mempertahankan keimanan, telah lama menjadi simbol perlindungan dan kekuatan spiritual dalam tradisi Islam. Meskipun kisah mereka tercatat dalam Al-Qur’an (Surah al-Kahfi: 9–26), penyebarannya di Asia Tenggara menyimpan narasi tersendiri yang kaya dan menarik. Salah satu bukti tertua mengenai kisah ini di rantau ini berasal dari manuskrip Melayu bertarikh sekitar 1600 Masehi, kemungkinan besar dari Aceh, dan kini disimpan di Universiti Cambridge.
Menurut Dr. Farouk Yahya, penyelidik di SOAS, Universiti London, kisah Ashabul Kahfi tersebar dalam pelbagai bentuk di Nusantara, bukan hanya melalui tafsir seperti Tarjuman al-Mustafid karya Abdur Rauf al-Fansuri (1675), tetapi juga melalui hikayat seperti Hikayat Tamlikha. Bahkan, unsur ini menyatu dalam objek budaya seperti azimat, seni bina, pakaian, hingga panel pintu rumah.
Yang paling menonjol adalah kehadiran nama Qitmir, anjing setia para pemuda gua, yang dalam tradisi Islam dipercaya memiliki kekuatan pelindung. Nama Qitmir dan Ashabul Kahfi ditulis dalam rajah berbentuk bintang, kaligrafi kapal, bahkan pada baju berayat dan bangunan masjid seperti Masjid Agung Surakarta. Dalam manuskrip Melayu, disebutkan bahwa menulis nama mereka di rumah atau kapal diyakini mampu menangkal bahaya, penyakit, hingga bencana.
Simbolisme Ashabul Kahfi terus hidup dalam kesadaran budaya masyarakat Melayu-Islam. Mihrab masjid yang menyerupai bentuk gua dianggap lambang perlindungan spiritual, sementara ukiran nama-nama mereka pada pintu rumah di Kelantan dan Terengganu menjadi bentuk doa yang dipahatkan pada ruang kehidupan sehari-hari.
Melalui warisan ini, terlihat bagaimana kisah klasik Al-Qur’an diadaptasi menjadi narasi lokal dengan daya hidup yang luar biasa, membentuk jalinan antara spiritualitas, seni, dan identitas budaya di Asia Tenggara. Ashabul Kahfi bukan sekadar legenda, melainkan lambang harapan, perlindungan, dan keberanian melawan penindasan dalam konteks keislaman Melayu yang sangat khas.
Sumber: bharian.com.
