Peladen Sinoman: Warisan Adab Tinggi dari Bumi Pacitan

Peladen Sinoman: Warisan Adab Tinggi dari Bumi Pacitan
SHARE

PRABANGKARANEWS – Bismillah. Salam Literasi Sejarah. Pacitan, Kota Misteri. Di balik megahnya panorama alam Pacitan yang dijuluki The Paradise of Java, tersimpan kisah adat dan adab luhur yang tumbuh subur dalam denyut nadi peradaban masa lampau. Salah satu yang mulai redup dalam ingatan generasi kini, namun pernah menjadi nadi keramahan negeri, adalah tradisi Peladen Sinoman.

Jejak awal tradisi ini diperkirakan muncul pada abad ke-13 hingga ke-14 Masehi, kala bumi Pacitan—khususnya wilayah Donorojo—diperintah oleh Kerajaan Wiranti atau Wirati, dengan Raden Panji, juga dikenal sebagai Raden Prawiro Yudho atau Panembahan Kalak, sebagai rajanya. Kala itu, pusat pemerintahan berada di Kalak, Donorojo, yang kini masuk wilayah Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.

Kerajaan Kalak dikenal sebagai tanah terbuka, tempat bersinggahnya para tamu dari berbagai penjuru negeri. Guna menjamu dan melayani para tamu dengan layak, sang raja menggagas sebuah kebijakan yang revolusioner di zamannya—menghimpun kaum muda untuk dibentuk menjadi kelompok Peladen Sinoman: sekelompok pemuda-pemudi terlatih dalam melayani, menyuguhkan, dan menyambut tamu dengan penuh kehalusan, ketertiban, dan tata krama.

Baca Juga  Bupati Pacitan Resmi Kukuhkan Paskibraka Kabupaten Pacitan 2024

Makna Peladen Sinoman sendiri merujuk pada: “Kelompok muda-mudi yang secara khusus ditugaskan melayani para tamu dalam berbagai acara, seperti hajatan, ritual adat, hingga pertemuan besar yang mengundang khalayak luas.”

Namun, lebih dari sekadar ‘melayani’, adat ini mengandung nilai filosofi yang dalam—tentang hormat kepada tamu, tentang sopan santun, dan tentang kehormatan seorang tuan rumah.

Ciri khas seorang peladen sejati bukan hanya tampak dari keramahannya, tetapi juga dalam tata laku dan kesantunan gerak. Saat menyajikan makanan, para peladen harus memahami dengan tepat letak piring, posisi sendok, dan gelas. Semua dilakukan dengan sikap dodok—berjalan jongkok—sebagai lambang penghormatan terhadap tamu. Gerak yang lambat dan hati-hati itu menjadi ekspresi nilai luhur: melayani bukan karena rendah, tetapi karena mulia.

Ini adalah bentuk budaya visual, sekaligus spiritual, yang menunjukkan betapa tinggi dan halusnya budi pekerti leluhur Jawa dalam memuliakan tamu.

Baca Juga  Parade Baca Puisi 2 "PBSI STKIP PGRI Paciatn"

Sayangnya, tradisi ini kian langka di tengah modernisasi dan komersialisasi tata acara. Fungsi peladen kini banyak digantikan oleh Event Organizer (EO) profesional, dan tatanan resepsi seringkali tidak lagi menyediakan tempat duduk yang layak bagi tamu. Makanan disantap sambil berdiri, terkadang berdesak-desakan, mengaburkan nilai inti dari menyambut tamu dengan hormat dan kenyamanan.

Padahal, dalam adat Peladen Sinoman, menerima tamu adalah bentuk penghormatan tertinggi seorang manusia kepada manusia lainnya. Seperti kata falsafahnya: “Sebagai tuan rumah, kita harus menjadi pelayan terbaik bagi tamu yang datang ke rumah kita.”

Tradisi Peladen Sinoman bukan hanya bagian dari budaya lokal Pacitan, melainkan rekaman sejarah adab manusia Jawa yang menjunjung tinggi etika, tata laku, dan penghormatan terhadap sesama. Ini adalah pelajaran berharga bahwa bahkan dalam hal menyuguhkan makanan, leluhur kita telah meletakkan nilai-nilai moral, estetika, dan spiritual yang luar biasa.

Baca Juga  Presiden Jokowi Resmikan Jembatan Kretek 2, Mendorong Konektivitas Jalan Lintas Selatan di Pulau Jawa

Mugio Gusti Allah SWT paring berkahipun teng Engsun, keluarga, lan para penerusipun Kanjeng Nabi Muhammad SAW, bumi langit sak isinipun.

Semoga jejak luhur ini tak hilang ditelan zaman, melainkan kembali hidup dalam jiwa generasi yang merindukan adab dan peradaban.

Penulis: Amat Taufan