Arka Kinari Kembali Singgah di Pacitan, Usung Misi Sosial dan Lingkungan Meski Tak Bisa Sandar
PRABANGKARANEWS, Pacitan, 31 Juli 2025 — Untuk kali kedua, kapal layar budaya Arka Kinari singgah di Kabupaten Pacitan. Meskipun tidak dapat bersandar di Pelabuhan Pacitan akibat gangguan mesin dan cuaca buruk, para pemilik kapal Grey Filastine (Spanyol) dan Nova Ruth (Indonesia) tetap melanjutkan misinya di kota berjuluk 70 Mile of Sea Paradise ini.
Salah satu agenda utama dalam kunjungan kali ini adalah penyelenggaraan Srawung Komunitas Pacitan, sebuah forum diskusi dan pemetaan potensi kolaborasi antar komunitas serta para pemangku kepentingan yang bergerak di isu lingkungan, kemanusiaan, dan kebudayaan. Kegiatan yang berlangsung secara hangat di halaman belakang (halking) tersebut turut dihadiri oleh Bupati Pacitan, Indrata Nur Bayuaji, beserta istri.
“Sangat menyenangkan bisa kembali duduk bersama di sini. Kita semua ingin meninggalkan warisan dunia yang lebih baik untuk anak cucu,” ujar Grey Filastine dalam sambutannya.
Sebagai informasi, Arka Kinari merupakan kapal layar yang telah disulap menjadi ruang kebudayaan terapung dengan membawa misi sosial dan pelestarian lingkungan. Sejak pertama kali diluncurkan, kapal ini telah berlayar ke lebih dari 25 negara, menyebarkan pesan harmoni melalui seni dan kolaborasi lintas budaya.
Pada siang hari, Arka Kinari berfungsi sebagai ruang edukasi, menerima kunjungan masyarakat dan menggelar berbagai kegiatan komunitas. Sementara pada malam hari, kapal ini berubah menjadi panggung terapung untuk pertunjukan musik, teatrikal, dan performa visual dari duo Filastine dan Nova.
Dalam sambutannya, Bupati Pacitan mengapresiasi kedatangan Arka Kinari dan mengajak masyarakat untuk belajar dari perjalanan kapal ini.
“Saya berharap teman-teman memanfaatkan momentum ini untuk belajar, karena Arka Kinari sudah menjelajah ke berbagai negara dan menyimpan banyak pengalaman,” ungkap Bupati Indrata.
Meski hanya singgah secara simbolis, kehadiran Arka Kinari di Pacitan kembali membuktikan pentingnya kerja lintas batas dalam menghadapi tantangan lingkungan dan sosial, sekaligus memperkuat ikatan antara budaya lokal dan gerakan global.
