Tongkat Komando Lurah Punung: Jejak Kadigdayaan dan Kepemimpinan di Bumi Pacitan

Tongkat Komando Lurah Punung: Jejak Kadigdayaan dan Kepemimpinan di Bumi Pacitan
SHARE

PRABANGKARANEWS – Bismillah. Salam Literasi Sejarah. Pacitan Kota Misteri. Di balik sunyinya pegunungan selatan dan derasnya arus sungai Grindulu, Pacitan menyimpan banyak kisah yang belum seluruhnya terungkap. Salah satunya adalah kisah tentang Tongkat Komando Lurah Punung, sebuah pusaka simbol kepemimpinan, kesaktian, dan pengaruh yang diwariskan dari zaman kolonial Hindia Belanda.

Tongkat ini bukan sekadar benda tua berukir, melainkan saksi sejarah yang merekam jejak kepemimpinan seorang tokoh karismatik: Suradi Harjo Sukarto, Lurah Punung pada abad ke-19. Beliau bukan hanya pemimpin administratif, tetapi juga pemuka masyarakat yang disegani karena ilmu kadigdayaan, kekayaan, dan silsilah trah bangsawan. Ia adalah keturunan dari Pangeran Samber Nyowo (Mangkunegara I) dari Surakarta, seorang tokoh penting dalam sejarah perlawanan dan peradaban Jawa.

Baca Juga  Olah Limbah Ternak Kelinci Jadi Pupuk Organik Cair (POC) Mengurangi Penggunaan Pupuk Kimia

Tongkat komando yang dimiliki Lurah Punung tidak bisa dipandang sebagai tongkat biasa. Panjangnya sekitar 25–30 cm, dilapisi dengan kayu pilihan dan ukiran indah yang menggambarkan patung orang Jawa berudeng (blangkon) sebagai pegangan di bagian atas. Namun yang paling istimewa, di dalam tongkat tersebut tersimpan senjata kecil mirip mata tombak atau pedang pendek sepanjang ±15 cm — menjadikannya perpaduan antara simbol kekuasaan dan senjata rahasia.

Setiap kali Lurah Suradi meninjau pekerjaan rakyat, memimpin acara, atau menginspeksi desa, tongkat itu selalu ada di genggamannya. Lengkap dengan topi laken ala priyayi kolonial dan kuda hitam kesayangan, ia menampilkan wibawa dan kemegahan seorang pemimpin sejati — pemimpin yang tidak hanya diikuti karena jabatan, tapi karena kharisma dan kemampuan lahir batin.

Baca Juga  Sekjen PSSI Baru Belum Ditentukan

Kini, tongkat komando itu menjadi situs sejarah yang terlupakan dan nyaris hilang dari ingatan kolektif masyarakat Pacitan. Ia bukan sekadar artefak, tetapi dokumen hidup dari masa ketika kepemimpinan tak hanya bicara administratif, tapi menyatu dengan budaya, spiritualitas, dan kekuatan lokal.

Tongkat itu menyimpan pesan: bahwa di masa lalu, pemimpin adalah orang yang menyatu dengan rakyatnya, melindungi dengan kebijakan, dan dihormati karena keteladanan.

Mugio Gusti Allah paring berkahipun teng engsun, keluarga, rakyat, lan para penerusipun Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah, bumi langit sak isinipun.
Semoga berkah sejarah ini tak hanya menjadi kenangan, tetapi juga pijakan untuk menumbuhkan kembali literasi sejarah lokal di tengah masyarakat modern. (Amat Taufan)

Baca Juga  Beasiswa Artax Scholarship 2022, Untuk Mahasiswa S1 Akuntasi dan Perpajakan