Wayang Orang Dari Seni Keraton Menjadi Seni Masyarakat Kebanyakan

Wayang Orang Dari Seni Keraton Menjadi Seni Masyarakat Kebanyakan
SHARE

Oleh:  Gustav Muhammad Arya Nevara,  Alan Alfasha Riendri,  Malika Alyandina Sunardi, Davina Kartika (*)

Berakar pada seni drama tari kuno yang disebut wayang orang pada abad ke-10 di Jawa, yang kemudian berkembang menjadi seni drama tari kenegaraan di keraton dan pada abad ke-18, Sri Susuhunan Pakubuwono I dan Sri Sultan Hamengku Buwono I memodifikasi dan melestarikan kesenian ini, termasuk pengembangan wayang orang di Mangkunegaran oleh Mangkunegara I, serta penyebarannya ke masyarakat umum pada abad ke-20.

Awal Mula dan Pengaruh Budaya Wayang Orang (awalnya disebut wayang orang dalam bahasa Jawa Kuno) berasal dari seni drama tari yang telah ada sejak abad ke-10 di Jawa, sebagaimana dibuktikan oleh prasasti Wimalasmara. Kesenian ini dipengaruhi oleh masuknya agama dan budaya Hindu-Buddha di Indonesia yang kemudian mengadaptasi  kisah-kisah epik dari India seperti Ramayana dan Mahabharata.

Wayang Orang pada awalnya merupakan drama tari kenegaraan yang eksklusif bagi keraton, ditujukan untuk menampilkan kebesaran raja. Pada abad ke-18, Sri Susuhunan Hamengkurat I dan Sri Sultan Hamengku Buwono I dari Kesultanan Yogyakarta berperan penting dalam mengubah dan menciptakan ulang kesenian ini, serta mengembangkannya di lingkungan keraton.

Di Surakarta, Mangkunegara I turut mengembangkan wayang orang pada sekitar tahun 1760-an, dengan menggunakan abdi istana sebagai pemainnya. Setelah menjadi kesenian eksklusif keraton, Wayang Orang disebarluaskan ke masyarakat luas pada era Sri Sultan Hamengku Buwono VII. Pada abad ke-20, berbagai kelompok wayang orang seperti Sri Wanito (Semarang), Ngesti Pandowo (Madiun), dan Sri Budaya (Kediri) muncul dan populer di berbagai daerah di Jawa.

Sesuai dengan nama sebutannya, Wayang tersebut tidak lagi dipergelarkan dengan memainkan boneka-boneka wayang (wayang kulit yang biasanya terbuat dari bahan kulit kerbau ataupun yang lain), akan tetapi menampilkan manusia-manusia sebagai pengganti boneka-boneka wayang tersebut. Mereka memakai pakaian sama seperti hiasan-hiasan yang dipakai pada wayang kulit. Supaya bentuk muka atau bangun muka mereka menyerupai wayang kulit (kalau dilihat dari samping), sering kali pemain wayang orang ini diubah/dihias mukanya dengan tambahan gambar atau lukisan.

Baca Juga  Satgas Yonif 642 Kapuas Jalankan Protokol Kesehatan Terhadap Pekerja Migran Indonesia

Dalam pementasannya, Wayang orang tidak hanya menyajikan hiburan melainkan juga menyampaikan pesan-pesan moral yang dapat diserap penonton. Masing-masing pemain wayang orang memiliki ciri estetis tersendiri yang menggambarkan peran yang dibawakan dalam sebuah gerakan, tata rias, tari, hingga busana yang dikenakannya.

Pada Selasa, 23 September 2025, pukul 20.00 WIB, RRI Surakarta menggelar Pagelaran Wayang Orang bertajuk “Tetali Tresna” di Auditorium Sarsito Mangoenkoesoemo. Acara ini dipersembahkan oleh RRI PRO 4 Surakarta dan terbuka untuk umum secara gratis.

Prof. Bani Sudardi mengajak mahasiswa untuk menyaksikan acara tersebut. Sebagai seorang profesor sekaligus dosen pengajar mata kuliah Folklor di Prodi sastra Indonesia, Prof. Bani Sudardi, mengajak para mahasiswanya untuk turut memeriahkan dan menyaksikan pertunjukan Wayang Orang tersebut.

Pementasan wayang di RRI Solo merupakan contoh nyata harmoni dalam kebhinekaan. Sebagai mahasiswa Sastra Indonesia UNS, pementasan wayang orang ini tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan tuntunan dan pelajaran hidup. Seni tradisi ini terus konsisten dipertahankan dan dikenalkan kepada generasi muda untuk menjaga kelestarianny

RRI Solo telah menjadi platform penting dalam melestarikan seni tradisi wayang. Dengan menampilkan pementasan wayang secara teratur, RRI Solo membantu menjaga kelestarian budaya Jawa dan mempromosikan harmoni dalam kebhinekaan.

Baca Juga  Ansor Sidoarjo Solidkan Kekompakan Lewat Turnamen Futsal dan Lomba Tarik Tambang

Pagelaran Wayang Orang “Tetali Tresna” yang diadakan di RRI Surakarta, mengisahkan tentang kisah romansa antara Raden Gatotkaca dengan Dewi Pergiwati. Namun, untuk mendapatkan cinta ini, Gatotkaca harus menghadapi berbagai halangan, terutama dari pihak Kurawa yang menginginkan Dewi Pergiwati menjadi Istri Lesmana Mandra Kumara, putra mahkota kerajaan Hastinapura.

Selama pertunjukan, muncul berbagai tokoh yang juga menunjang jalannya cerita, seperti Abimanyu, Arjuna, dan Punakawan. Penonton diajak ikut merasakan alur cerita yang naik-turun. Tertawa terbahak-terbahak karena guyonan Punakawan, kemudian suasana tegang dan mengerikan ketika bagian peperangan dimainkan.

Melalui lakon dan karakter yang ditampilkan, penonton yang hadir diajak untuk ikut serta dalam memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, seperti nilai moral, etika, dan kearifan lokal. Seni tradisi ini patut dikenalkan dan dilestarikan oleh generasi muda sebagai salah satu upaya mempertahankan budaya klasik agar tidak hilang ditelan zaman.

Hadirnya seni wayang ini bukan hanya menjadi pertunjukan semata, tetapi juga menjadi media pendidikan interaktif dan efektif yang dapat memperkuat jati diri bangsa dan mempererat tali sosial antar masyarakat.

Selain sebagai hiburan dan media pendidikan, Wayang Orang juga telah berkembang menjadi ajang kreativitas para seniman dalam mengeksplorasi berbagai aspek kesenian. Improvisasi dalam gerakan tari, penyesuaian dialog sesuai konteks zaman, serta perpaduan musik tradisional dan modern menjadi ciri khas yang membuat pertunjukan ini tetap relevan dan menarik bagi penonton masa kini. Adaptasi tersebut mencerminkan bagaimana seni tradisi bisa hidup dan berkembang tanpa kehilangan akar budaya aslinya.

Keunikan lain dari Wayang Orang adalah kemampuannya untuk berperan sebagai media komunikasi sosial yang efektif. Melalui pementasan, isu-isu kontemporer sering kali diangkat dan dikemas dalam bentuk cerita tradisional yang mudah diterima oleh berbagai kalangan.

Baca Juga  Pesawat Buatan Anak Bangsa, N219 Nurtanio Berhasil Lolos Uji Kelaikan

Pendidikan seni dan budaya melalui Wayang Orang semakin intensif dilakukan di berbagai institusi pendidikan, terutama di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Dengan adanya pelatihan bagi para generasi muda, diharapkan seni ini tidak hanya menjadi tontonan pasif, tetapi juga mampu memunculkan seniman baru yang mewarisi dan mengembangkan tradisi pewayangan.

Perguruan tinggi maupun sanggar seni lokal aktif mengadakan workshop dan pelatihan, sehingga kesinambungan Kesusastraan dan seni pertunjukan terus terjaga. Dukungan pemerintah dan lembaga kebudayaan juga menjadi faktor penting dalam pelestarian Wayang Orang.

Melalui program-program kemudahan akses pementasan, pendanaan, serta promosi, wayang orang mampu menjangkau audiens yang lebih luas, termasuk masyarakat urban dan internasional. Festival seni dan pertukaran budaya kerap kali memasukkan Wayang Orang sebagai salah satu agenda utama, memperkenalkan keunikan budaya Jawa ke panggung dunia.

Terakhir, penting untuk menyadari bahwa keberlangsungan Wayang Orang sangat bergantung pada kesadaran kolektif masyarakat untuk menjaga dan menghormati seni tradisi ini. Peran serta komunitas lokal, akademisi, seniman, dan pemerintah adalah pilar utama agar warisan budaya ini tetap hidup dan bersinar di tengah modernisasi yang cepat.

Dengan demikian, Wayang Orang tidak hanya menjadi simbol kebanggaan budaya Jawa, tetapi juga menjadi jembatan penghubung antara masa lalu dan masa depan bangsa Indonesia, yang terus menginspirasi berbagai generasi dalam melestarikan nilai-nilai luhur melalui seni pertunjukan yang kaya makna dan sarat pesan moral.

(*) Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia, Fak Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret