KRI Balaputradewa (322): Tonggak Sejarah Fregat Merah Putih dan Kebangkitan Kekuatan Maritim Indonesia
PRABANGKARANEWS – Indonesia menorehkan tonggak sejarah penting di bidang kemaritiman pada 18 Desember 2025 dengan peluncuran KRI Balaputradewa (322), kapal pertama dari dua fregat kelas Merah Putih. Kapal ini menjadi kapal tempur permukaan terbesar dan paling kompleks yang pernah dibangun di dalam negeri, sekaligus menandai ambisi besar Indonesia untuk kembali tampil sebagai kekuatan maritim utama di kawasan kepulauan.
Dibangun oleh galangan kapal milik negara PT PAL Indonesia di Surabaya dengan basis desain Arrowhead 140 dari Inggris (Babcock), fregat sepanjang 140 meter ini memiliki bobot benaman sekitar 5.700–6.000 ton. Mengusung sistem propulsi CODAD, kapal mampu melaju hingga 28 knot dengan jangkauan operasional mencapai 9.000 mil laut. Nama Balaputradewa, raja besar Kerajaan Sriwijaya abad ke-9, dipilih sebagai simbol kebangkitan kembali kejayaan maritim Nusantara, dilansir dari @Seasia kamis (22/1/26).
KRI Balaputradewa (322) menampilkan sinergi teknologi inovatif antara Indonesia dan Turki, dengan integrasi berbagai sistem canggih produksi Aselsan, termasuk radar AESA CENK-400N, serta Combat Management System (CMS) ADVENT dari Havelsan yang berperan sebagai “otak dan mata” kapal. Kemampuan tempur multidimensi kapal ini diperkuat oleh 64 sel Vertical Launch System (VLS) MİDLAS buatan Roketsan untuk pertahanan udara, rudal anti-kapal Atmaca, serta konfigurasi unik dua meriam Leonardo 76 mm yang dipasang berurutan di haluan.
Program fregat kelas Merah Putih menunjukkan kemajuan yang tergolong cepat dibandingkan standar internasional untuk pembangunan kapal perang dalam negeri generasi pertama. Proyek ini dimulai dengan pemotongan baja pada Desember 2022, dilanjutkan peletakan lunas kapal kedua pada November 2024, dengan tahap outfitting serta uji sandar dijadwalkan pada 2026–2027, dan target pengoperasian penuh pada 2028–2029.
Pencapaian ini, yang diluncurkan hanya beberapa hari sebelum kedatangan fregat PPA buatan Italia, mencerminkan strategi modernisasi laut dua jalur Indonesia: di satu sisi mengakuisisi kapal asing berteknologi tinggi untuk menutup kebutuhan kemampuan jangka pendek, dan di sisi lain secara simultan membangun kapasitas industri pertahanan nasional agar mampu memproduksi kapal perang kelas dunia secara mandiri. Langkah ini menempatkan Indonesia pada posisi strategis untuk memproyeksikan kekuatan maritim secara berkelanjutan di seluruh wilayah kepulauan Nusantara yang luas.
