Harga Kedelai Naik, Usaha Tempe Rumahan di Pacitan Masih Bertahan
PRABANGKARANEWS, Pacitan – Isminah, seorang pembuat tempe rumahan di Desa Banjarsari, Kabupaten Pacitan menghadapi tantangan ganda berupa kenaikan harga bahan baku kedelai yang tidak menentu serta kondisi pasar yang semakin sepi.
Demi mempertahankan usahanya tetap berjalan, Isminah terpaksa memperkecil ukuran tempe buatannya, meski konsekuensinya keuntungan yang diperoleh hanya cukup untuk balik modal.
Usaha tempe tersebut dirintis secara mandiri oleh Ibu Isminah sejak tahun 2012. Saat ditemui di kediamannya pada Senin (22/12/2025), ia menceritakan bahwa usaha ini bukan usaha turun-temurun, melainkan berawal dari inisiatif pribadi dan dikelola sepenuhnya oleh keluarga. Anak sulungnya membantu proses produksi tempe setiap hari, sementara anak bungsunya yang sedang menempuh pendidikan S1 di IAIN Ponorogo membantu saat pulang atau libur kuliah.
Harga kedelai yang terus mengalami kenaikan menjadi kendala utama dalam keberlangsungan produksi tempe. Saat awal merintis usaha, harga kedelai 50 kilogram masih berada di kisaran Rp 300.000,00. Kini, harga kedelai terus berfluktuasi dan mencapai sekitar Rp 500.000,00. Bahkan, pada masa pandemi Covid-19 harga kedelai sempat mencapai Rp 600.000,00. Kondisi tersebut disebabkan oleh kelangkaan bahan baku kedelai.
“Harga kedelai itu tidak pasti, tidak menentu. Kadang naik, kadang turun, terus naik lagi, turun lagi. Pokoknya tidak menentu. Paling terasa itu saat Corona,” ujar Isminah.
Untuk menyiasati kenaikan modal produksi, Ibu Isminah memilih untuk tidak menaikkan harga jual tempe. Ia justru mengurangi ukuran tempe dan jumlah produksi. Akibatnya, keuntungan yang diperoleh sangat sedikit dan hanya cukup untuk membeli bahan baku lagi.
Selain itu, kondisi pasar yang semakin sepi turut memengaruhi penjualan. Tempe buatan Isminah biasanya dijual di pasar Minulyo, warung makan, dan ke pembeli yang datang ke rumahnya. Namun saat ini, pelanggan di pasar cenderung membeli dalam jumlah sedikit.
Jika tempenya tidak habis terjual di pasar, Isminah menjualnya secara berkeliling ke rumah-rumah warga menggunakan sepeda motor.
“Kalau pasar sepi dan tempe masih ada, biasanya saya jual keliling ke rumah-rumah naik motor,” kata Isminah.
Meskipun keuntungannya kecil, Isminah dan keluarganya sepakat untuk tetap mempertahankan usaha ini demi memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membiayai pendidikan anak.
“Yang penting bisa untuk makan dan menyekolahkan anak. Sedikit-sedikit tidak apa-apa, asal usaha tetap jalan,” ujarnya.
Ibu Isminah berharap perekonomian segera pulih, harga kedelai stabil, serta minat masyarakat terhadap tempe meningkat agar usaha yang ia jalani dapat terus berjalan.
Penulis: Dyah Ayu Kusuma Wardhani -PBSI STKIP PGRI Pacitan
