Paugeran Busana dan Bahasa Jawa di Pacitan Masih Kerap Keliru, Perlu Edukasi Berkelanjutan
PRABANGKARANEWS, PACITAN – Pelestarian budaya Jawa tidak berhenti pada seremoni dan perhelatan adat semata. Lebih dari itu, ia menuntut ketepatan pakem (paugeran) yang menjadi ruh dari setiap simbol budaya. Hal tersebut disampaikan oleh K.R.T. Heru Arif Pianto Dwijonagoro, S.Pd., M.Hum, Kaprodi Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Pacitan, sekaligus penggiat tradisi adat Surakarta (Kasunanan) yang tergabung dalam Paguyuban Pakasa Bumi Wengker Pacitan, kepada jurnalis Sabtu (3/1/26).
Menurut Heru Arif Pianto, praktik penggunaan busana adat Jawa dalam tata cara adat—khususnya upacara pernikahan (manten)—di Pacitan masih kerap dijumpai tidak sesuai paugeran. Kekeliruan yang paling sering terjadi adalah pencampuradukan gagrak.
“Sering kita jumpai pemakaian dhestar gagrak Surakarta, tetapi kulambi atau beskapnya gagrak Ngayogyakarta. Ada juga yang sebaliknya—beskap Ngayogyakarta, namun dhuwungnya gagrak Surakarta,” jelasnya.
Padahal, dalam tradisi Jawa, setiap gagrak—baik Surakarta maupun Ngayogyakarta—memiliki aturan, filosofi, dan kesatuan simbolik yang tidak dapat dipisah-pisahkan secara sembarangan. Ketidaktepatan tersebut bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan berpotensi mengaburkan makna adat yang seharusnya dijaga dengan penuh kesadaran.
Hasil Survei: Minim Pemahaman Paugeran
Lebih lanjut disampaikan, kondisi tersebut bukan tanpa sebab. Berdasarkan hasil survei, mayoritas pelaku tata rias dan busana adat di Pacitan memang belum memiliki pemahaman yang memadai mengenai paugeran busana adat Jawa.
Akibatnya, pemilihan busana lebih sering didasarkan pada:
-
pertimbangan estetika visual semata,
-
ketersediaan perlengkapan, atau
-
kebiasaan turun-temurun yang keliru,
bukan pada ketepatan pakem budaya.
Busana Adat Bukan Sekadar Hiasan
Dalam pandangan budaya Jawa, busana adat bukan sekadar kostum. Ia merupakan bahasa simbolik yang merepresentasikan:
-
status sosial,
-
etika dan tata krama,
-
tata nilai kehidupan,
-
serta doa dan harapan dalam sebuah prosesi sakral.
Karena itu, kesalahan dalam paugeran tidak hanya berdampak pada tampilan luar, tetapi juga mengaburkan makna tradisi yang diwariskan para leluhur.
Bahasa sebagai Bagian Tak Terpisahkan dari Paugeran
Selain busana, ketepatan unggah-ungguh basa Jawa juga menjadi bagian penting dalam menjaga tradisi. Berikut 13 contoh kata kerja dan benda beserta padanan krama leres–krama inggil yang benar dan kerap keliru digunakan:
-
Matur suwun → Maturnuwun
-
Sepindhah → Sepisan
-
Enggal → Anyar
-
Selangkung → Selawé
-
Sahingga → Satemah
-
Keranten → Karana
-
Nilai → Wiwit
-
Mbéjang → Mbénjing
-
Rencang → Kanca
-
Nyuwun sewu → Nuwun sewu
-
Pidato → Sesorah
-
Kawula → Kula
-
Artosipun → Tepisipun
Kosakata tersebut lazim digunakan dalam:
-
sambutan adat,
-
pranatacara atau MC Jawa,
-
pidato resmi,
-
pertemuan budaya dan keratonan.
Kesalahan pemilihan kata, sebagaimana busana yang tidak sesuai gagrak, dapat dinilai ora trep unggah-ungguh, meskipun disampaikan dengan niat baik.
SKU: Inklusif, Namun Tetap Berakar Budaya
Sementara itu, Bambang Pidera, Ketua Paguyuban Pametri Budaya Panggih Manten Jawa Kabupaten Pacitan, Sekar Kridha Utama (SKU), menegaskan bahwa paguyuban yang dipimpinnya merupakan rumah besar para pelaku budaya panggih manten, mulai dari MC atau pambiwara, juru rias, MUA, Wedding Organizer (WO), hingga Event Organizer (EO). Sebagian besar anggotanya berasal dari generasi muda.
Dalam praktik di lapangan, Bambang mengakui masih kerap dijumpai perpaduan yang kurang selaras, seperti penggunaan busana adat Jawa, tetapi diiringi musik bernuansa Barat. Fenomena ini mencerminkan dinamika zaman sekaligus tantangan dalam menjaga keseimbangan antara tradisi dan modernitas.
Namun demikian, Bambang menegaskan bahwa SKU tidak membatasi diri secara kaku pada satu gagrak tertentu, baik Surakarta maupun Ngayogyakarta. Paguyuban ini tidak mengklaim berpegang pada satu pakem keraton secara eksklusif, melainkan membuka ruang bagi ragam ekspresi adat Jawa yang hidup di masyarakat.
“Silakan berkreasi dan berinovasi, asalkan tidak meninggalkan nilai dan ruh budaya Jawa,” tegas Bambang Pidera.
Ia mengingatkan bahwa budaya Jawa memiliki beragam gaya dan tradisi, seperti Surakarta, Yogyakarta, Mangkunegaran, serta gaya-gaya lokal lainnya. Semuanya memiliki nilai luhur yang patut dihormati dan dilestarikan, selama dijalankan dengan kesadaran budaya, etika, dan penghormatan terhadap tradisi.
Edukasi sebagai Kunci Pelestarian
Melalui pemahaman paugeran busana dan bahasa yang benar, pelestarian budaya Jawa di Pacitan diharapkan tidak berhenti pada bentuk luar, tetapi juga utuh dalam makna dan nilai. Edukasi berkelanjutan bagi pelaku adat, perias, MC, serta generasi muda menjadi kunci agar tradisi Jawa tetap hidup, berwibawa, dan berakar kuat pada pakemnya—tanpa kehilangan relevansi di tengah perubahan zaman.
