Tanaman “Koro Pedang” di Ponorogo Didorong Jadi Alternatif Pangan Nasional

Tanaman “Koro Pedang” di Ponorogo Didorong Jadi Alternatif Pangan Nasional
Tanaman "Koro Pedang" di Ponorogo Didorong Jadi Alternatif Pangan Nasional
SHARE

Penulis: Suprayitno

Kabupaten Ponorogo mulai mengembangkan pertanian “koro pedang” sebagai alternatif pangan lokal dalam rangka mendukung kedaulatan pangan nasional. Program ini dijalankan melalui pengorganisasian kelompok tani dan pemberdayaan masyarakat pinggiran hutan dengan pendampingan intensif dari praktisi lapangan.

Koro pedang merupakan tanaman pangan lokal yang memiliki kandungan protein tinggi dan adaptif terhadap kondisi lahan marginal. Di Ponorogo, komoditas ini mulai dibudidayakan di beberapa kecamatan yang berbatasan dengan kawasan hutan, dengan menerapkan sistem agroforestri yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Pengembangan koro pedang di wilayah ini tidak hanya menitikberatkan pada aspek budidaya, tetapi juga penguatan kapasitas sumber daya manusia petani. Pendampingan dilakukan melalui pembentukan dan penguatan kelompok tani, pelatihan teknik budidaya, serta manajemen usaha tani berbasis kelompok bahkan sampai pada aspek pasar penjualan.

Baca Juga  Peringatan Hari Bakti Rimbawan ke 40, Dinas Kehutanan Jawa Timur Tanam 715 Bibit di Bulakrejo Madiun

Pendamping kelompok tani, Suprayitno, mengatakan bahwa koro pedang memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai komoditas unggulan daerah. “Tanaman ini relatif mudah dibudidayakan, tahan terhadap kondisi cuaca ekstrem, dan cocok dikembangkan di lahan marilah atau pinggiran hutan. Yang terpenting adalah bersama sama membangun kelembagaan petani agar mereka bisa mandiri dan berkelanjutan,” ujarnya.

Melalui pendekatan manajemen sumber daya manusia (MSDM), para petani diberikan pelatihan terkait pembagian kerja kelompok, perencanaan produksi, hingga pengelolaan hasil panen. Penguatan organisasi kelompok tani dinilai mampu meningkatkan produktivitas sekaligus posisi tawar petani dalam rantai pemasaran.

Pemerintah daerah Kabupaten Ponorogo turut mendukung pengembangan ini sebagai bagian dari program diversifikasi pangan dan penguatan ekonomi desa. Selain dijual sebagai bahan pangan mentah, hasil panen koro pedang mulai diolah menjadi produk turunan seperti tepung koro, tahu susu kedelai abon dan tempe koro yang memiliki nilai tambah ekonomi.

Baca Juga  Silaturahmi dan Kebersamaan: Program Kampus Mengajar 7 Penugasan SDN 2 Losari dan SDN 1 Klepu

Program budidaya koro pedang juga memberikan dampak sosial bagi masyarakat pinggiran hutan yang selama ini memiliki keterbatasan akses ekonomi. Melalui keterlibatan aktif dalam kelompok tani, masyarakat memperoleh sumber pendapatan baru tanpa merusak kelestarian hutan.

Pengembangan pertanian koro pedang di Ponorogo menjadi contoh bahwa kedaulatan pangan dapat dibangun dari daerah melalui pemanfaatan potensi lokal, penguatan kelembagaan petani, serta kolaborasi antara masyarakat, pendamping lapangan, dan pemerintah daerah. Inisiatif ini diharapkan dapat direplikasi di wilayah lain sebagai solusi ketahanan pangan nasional yang berkelanjutan.

(*) Mahasiswa Pascasarjana Manajemen Unmuh Ponorogo- Dosen pengampu : Dr. Sri Hartono, SE.MM