Tempe Debog Ngadirojo Bertahan di Tengah Modernisasi, Sekcam Dorong Dukungan untuk UMKM Kecil
PRABANGKARANEWS, Pacitan – Tempe debog lorog, pangan tradisional khas Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan, masih bertahan sebagai industri rumahan meski terus terdesak oleh modernisasi alat produksi. Berdasarkan penuturan Sekretaris Camat Ngadirojo, Dra. Ari Peni, tempe debog telah dikenal masyarakat setempat sejak sekitar 90 tahun lalu.
“Sejak saya kecil, tempe debog sudah ada. Diperkirakan usianya sudah sekitar 90 tahun,” ujar Ari Peni saat ditemui di Kantor Kecamatan Ngadirojo, Senin (26/1/2026).
Ia menjelaskan, tempe debog sempat berkembang luas sebagai industri rumah tangga yang tersebar di seluruh wilayah Kecamatan Ngadirojo yang terdiri dari 18 desa. Keberadaan pengrajin tempe debog hingga kini masih dijumpai, meski jumlahnya terus menurun.
Pernyataan tersebut dibenarkan oleh Sekdes Wonodadi Wetan, yang menyebutkan bahwa di wilayahnya masih terdapat perajin tempe debog lorog, meskipun produksinya terbatas.

Sekretaris Desa Sidomulyo, Ruslianto, pengarajin di Sidomulyo sekarang tidak ada generasi penerus yang meneruskan usaha tempe debog, apalagi sekarang kalah dengan industri tempe debog yang kapasitasnya 5 kuintal per hari.

Namun demikian, perkembangan tempe debog kalah bersaing dengan usaha tempe modern yang telah menggunakan mesin penggilingan kedelai. Selain proses produksi yang masih tradisional dan memakan waktu lama, para pelaku UMKM tempe debog juga dihadapkan pada persoalan tingginya biaya produksi yang tidak sebanding dengan harga jual.
“Produksi tempe debog skala kecil rata-rata hanya sekitar 5 kilogram, sementara harga jual belum bisa menutup biaya produksi. Ditambah lagi, bahan pembungkus berupa debog pisang sekarang semakin sulit didapat,” jelas Ari Peni.
Untuk menyiasati keterbatasan tersebut, sebagian pelaku usaha mulai melakukan inovasi dengan mengolah tempe debog menjadi keripik tempe dan tempe kering. Produk olahan ini dinilai lebih tahan lama, dengan daya simpan mencapai dua minggu, serta memiliki nilai jual yang lebih tinggi.

“Produk olahan ini sudah dipasarkan hingga ke Malang dan Yogyakarta,” tambahnya.
Meski demikian, Ari Peni menegaskan bahwa pelaku UMKM tempe debog skala kecil masih sangat membutuhkan dorongan dan rangsangan dari pemerintah, terutama bagi usaha dengan produksi kurang dari 5 kilogram.
“Perlu ada perhatian khusus dan dukungan nyata dari pemerintah, baik berupa pendampingan, bantuan alat, maupun penguatan pemasaran, agar tempe debog sebagai warisan pangan lokal tidak hilang,” tegasnya.
Ia berharap, tempe debog lorog tidak hanya dipandang sebagai produk pangan, tetapi juga sebagai identitas budaya lokal Ngadirojo yang perlu dilestarikan di tengah arus modernisasi industri pangan.
