Ensiklopedia Pacitan Misteri 4: Ketika Jejak Peradaban Dunia dari Pacitan Menembus Generasi (Dana Indonesiana 2025)
Oleh: Dr. Agoes Hendriyanto, dkk (*)
“Sebuah peradaban akan tetap hidup selama kisahnya terus dituliskan.”
Kalimat itu seakan menemukan maknanya ketika Ensiklopedia Pacitan Misteri 4: Rekam Jejak Peradaban Dunia Pacitanian resmi terbit pada Juli 2026. Buku setebal ratusan halaman tersebut bukan sekadar kumpulan data sejarah, melainkan ikhtiar menyelamatkan ingatan kolektif tentang jejak panjang peradaban manusia yang pernah tumbuh dan berkembang di tanah Pacitan.
Terima kasih pada Kementerian Kebudayaan, LPDP, Dana Indonesiana 2025, sehingga terbitnya luaran yang pertama sebuah buku hasil kajian bersama tim. Terima kasih kepada seuruh anggota tim yang telah terselesaikannya salah satu luaran. Selain itu juga masih terdapat 2 luaran buku yang masih menunggu proses ISBN nya. Selain itu juga telah terbit artikel ilmiah ” INVENTARISASI DAN KAJIAN OBJEK PEMAJUAN KEBUDAYAAN DAN CAGAR BUDAYA DI KABUPATEN PACITAN” yang akan segera terbit di Jurnal Akreditasi Nasional Sinta 3.
Di balik sampulnya, tersimpan ribuan cerita yang selama puluhan tahun tercecer di situs-situs purbakala, mulut para tetua desa, naskah kuno, hingga temuan-temuan arkeologi yang selama ini hanya dikenal oleh kalangan akademisi. Kini, semuanya dirangkai menjadi satu narasi besar tentang Pacitanian, sebuah identitas budaya yang telah mengantarkan nama Pacitan dikenal dalam dunia arkeologi internasional.
Tidak banyak daerah di Indonesia yang namanya diabadikan menjadi istilah ilmiah dunia. Pacitan adalah salah satunya. Para arkeolog mengenal Budaya Pacitanian, yaitu tradisi alat batu paleolitik yang ditemukan di kawasan Sungai Baksoka pada awal abad ke-20. Dari sinilah dunia mulai menoleh ke Pacitan sebagai salah satu pusat penting perkembangan manusia purba di Asia Tenggara.
Namun perjalanan Pacitan tidak berhenti pada kisah kapak genggam. Buku ini mengajak pembaca menelusuri lorong waktu yang jauh lebih panjang. Goa Song Terus, Goa Tabuhan, Ngrijangan, kawasan karst Gunung Sewu, tradisi masyarakat pesisir, situs-situs megalitik, cerita rakyat, pusaka budaya, hingga ritual adat disajikan sebagai satu kesatuan sejarah yang membentuk identitas masyarakat Pacitan hingga hari ini.
Buku ini lahir dari Program Indonesiana Tahun Anggaran 2026 melalui kegiatan Inventarisasi dan Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan di Pacitan sebagai Upaya Pelestarian Warisan Budaya Lokal, berdasarkan Kontrak Nomor 450/KOPK/F1/KU/2026. Program tersebut menjadi ruang kolaborasi antara akademisi, budayawan, pemerintah daerah, peneliti, dan masyarakat dalam mendokumentasikan kekayaan budaya yang selama ini tersebar di berbagai penjuru Pacitan.
Tiga penulis, Dr. Agoes Hendriyanto, S.P., M.Pd., Amat Taufan, S.Sos., dan Muhammad Rafid Musyaffa’, S.T., menyusun buku ini bukan hanya berdasarkan studi pustaka, tetapi juga melalui penelusuran lapangan, wawancara, dokumentasi situs, serta kajian ilmiah yang dilakukan secara berkelanjutan. Penyuntingan dilakukan oleh Muhamad Rafid Romadhoni, S.T., sementara penelusuran berbagai situs budaya didukung oleh Deni Ansriana bersama Tim KPSB Pacitan.
Hasilnya adalah sebuah ensiklopedia yang tidak hanya berbicara mengenai masa lalu, tetapi juga menawarkan masa depan. Setiap halaman menghadirkan pesan bahwa pelestarian budaya tidak cukup dilakukan dengan menjaga benda-benda bersejarah, melainkan juga dengan merawat pengetahuan yang menyertainya. Ketika sebuah situs hilang, dokumentasi menjadi benteng terakhir yang menjaga agar sejarah tidak ikut lenyap.
Terbit dengan ISBN 978-623-8763-72-6 dan diterbitkan oleh CV. Nata Karya, Ponorogo, buku ini segera didistribusikan ke berbagai perpustakaan, perguruan tinggi, sekolah, komunitas budaya, hingga lembaga pemerintahan. Sambutan positif pun berdatangan. Salah satunya dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lampung Barat yang menjadikan buku-buku tentang Pacitan sebagai koleksi referensi sekaligus inspirasi untuk mendokumentasikan sejarah daerahnya sendiri.
Diseminasi buku ini menjadi lebih dari sekadar peluncuran karya. Ia menjelma menjadi gerakan literasi budaya. Setiap eksemplar yang berpindah tangan membawa harapan agar generasi muda semakin mengenal sejarah daerahnya, memahami akar budayanya, dan tumbuh dengan kebanggaan terhadap identitas lokal.
Lebih jauh lagi, buku ini memperlihatkan bahwa pemajuan kebudayaan tidak selalu diwujudkan melalui festival atau pertunjukan seni. Menulis, mendokumentasikan, dan menyebarluaskan pengetahuan adalah bentuk pelestarian yang sama pentingnya. Di tengah derasnya arus digitalisasi dan globalisasi, dokumentasi ilmiah menjadi benteng agar warisan budaya tidak hilang ditelan zaman.
Bagi Pacitan, ensiklopedia ini adalah penanda bahwa daerah yang selama ini dikenal karena pantainya ternyata menyimpan kisah peradaban dunia yang jauh lebih tua. Bagi Indonesia, buku ini memperkaya khazanah literatur kebudayaan nasional. Dan bagi dunia akademik, ia menjadi sumber rujukan baru yang memperkuat posisi Pacitan sebagai laboratorium terbuka bagi penelitian arkeologi, sejarah, dan antropologi.
Pada akhirnya, Ensiklopedia Pacitan Misteri 4 bukan sekadar buku. Ia adalah arsip peradaban, jembatan antara masa lalu dan masa depan, sekaligus pengingat bahwa sebuah bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menjaga ingatan sejarahnya. Selama kisah-kisah itu terus dibaca, diteliti, dan diwariskan, jejak peradaban Pacitan akan tetap hidup, melampaui batas ruang dan waktu, menjadi bagian tak terpisahkan dari mozaik peradaban Indonesia bahkan dunia.
(*) Tim Indonesiana_AgoesHendriyanto-32255

